Oleh: Muhammad Yusuf
Di tengah lautan jiwa yang tak bertepi, Maulana Rumi menyucikan pandangan kita dengan kutipan yang menyentuh inti hakikat: "Hati itu luas, tapi bukan berlaku semua urusan bisa kau masukkan ke dalamnya. Pilihlah urusan yang bisa membuatmu bahagia, agar kau tidak sering terluka." Seperti samudra yang menampung ribuan sungai namun tak tercemar lumpurnya, hati manusia adalah wadah ilahi yang tak terukur lebarnya. Namun, keluasan ini bukan undangan untuk kekacauan, melainkan panggilan suci untuk seleksi bijak—sebuah tari sufistik antara pengosongan dan pengisian, di mana nur ketuhanan hanya bersemayam dalam ruang yang suci.
***
Dari sudut pandang sufistik, hati adalah cermin ruhani yang memantulkan cahaya Ilahi. Rumi, sang penyair cinta, mengajak kita menari dalam roh fana: membuang yang fana demi yang abadi. Memasukkan segala urusan—dendam, keserakahan, atau hiruk-pikuk duniawi—berarti menodai cermin itu, sehingga bayang Tuhan kabur. Pilihan bahagia yang dimaksud bukan kenikmatan carnal semata, melainkan sukacita ruhani, seperti bunga mawar yang mekar di taman mistik, melepaskan duri-duri luka. Di sini, hati luas menjadi maqam ma'rifat, di mana pemilihan bukan keegoisan, tapi tawadhu kepada kehendak Yang Maha Luas.
Dari sudut filosofisnya, kutipan ini menggugat dualitas eksistensial: luas versus terbatas. Aristoteles bicara potensi tak terbatas akal, tapi Rumi menajamkan bahwa potensi hati terikat etika pemilihan. Seperti pohon yang akarnya menembus bumi namun daunnya pilih-pilih sinar matahari, hati harus mendeskripsikan esensi kebahagiaan—eudaimonia yang mendalam, bukan hedonisme dangkal. Memilih urusan yang menyucikan berarti menolak absurditas Camus: luka berulang dari urusan sia-sia. Ini adalah ontologi hati yang tajam, di mana kebebasan sejati lahir dari batasan sadar, mengubah penderitaan menjadi hikmah.
Dari sudut tinjauan sosiologis, Rumi menyindir masyarakat modern yang memaksa hati menampung segalanya: kompetisi brutal, media sosial yang membanjiri drama kolektif, hingga norma budaya yang membebani individu dengan ekspektasi tak berujung. Di Indonesia, misalnya, budaya gotong royong yang mulia sering menyamar sebagai beban emosional, di mana hati luas dimanfaatkan untuk menampung urusan orang lain hingga luka generasional menumpuk. Pendekatan ini mengajak restrukturisasi sosial: komunitas yang mendidik pemilihan bijak, agar kebahagiaan kolektif lahir dari hati individu yang terlindungi. Seperti masjid yang luas namun pintunya selektif, masyarakat ideal menjaga kesucian ruang batin warganya dari racun eksternal.
***
Dalam pendidikan karakter, kutipan Rumi menjadi kurikulum jiwa. Pendidik harus membimbing murid memilih urusan yang membangun akhlak: belas kasih daripada dendam, ilmu daripada gosip. Ini bukan pelajaran hafalan, tapi latihan sufistik harian—meditasi pemilihan, di mana guru menjadi pemandu rohani. Hasilnya? Generasi dengan hati luas yang tangguh, bahagia abadi, minim luka. Seperti air sungai yang memilih muara samudra, bukan rawa-rawa, pendidikan ini menempa karakter resilient, siap menghadapi badai tanpa retak. Hikmah Rumi bukan sekadar kata, melainkan undangan transformasi: kosongkan hati dari yang menyakiti, isi dengan yang menyucikan. Dalam keluasannya, hati menjadi surga pribadi—luas untuk Tuhan, terbatas untuk dunia fana. Pilihlah bahagia, dan luka sirna dalam cahaya abadi.
0 Komentar