Abstrak Artikel ini mengkritisi tesis Yudi Latif dalam esai “Lima Sila sebagai Lima Luka” yang menyatakan bahwa ancaman terbesar terhadap Pancasila bukanlah dari penentangnya, melainkan dari elite yang mengaku mencintainya namun mengkhianati nilainya dalam praksis. Melalui pendekatan analisis teks normatif yang dikombinasikan dengan teori legitimasi politik, neopatrimonialisme, dan demokrasi substantif, artikel ini menunjukkan bahwa disonansi antara simbolisme Pancasila dan realitas tata kelola negara merupakan bentuk institutional hypocrisy yang mengge…