SEBUAH PUISI INTROSPEKSI Langkahku kini lebih pelan, menanggapi senja yang merenggang. Rambut yang dahulu pekat kini menumpahkan putih, seperti lembar-lembar surat yang ditandatangani waktu. Di cermin kutemui seorang musafir renta yang sedang menghitung jarak ke kampung abadi. Dulu aku memburu dunia, bagai anak yang mengejar bayangannya sendiri. Kupikir bahagia terletak pada harta, nama, dan tepuk tangan manusia. Tapi satu per satu semua itu runtuh menjadi fatamorgana di telapak tangan. Tinggallah jejak nama yang perlahan pudar, dan nafasku yang kian me…