Oleh: Muhammad Yusuf
Dalam hembusan angin malam yang sepi, hidup berbisik pelajaran sunyi: dunia ini hanyalah panggung sementara, di mana cahaya dan bayangan saling menari. Kita tergesa gantungkan jiwa pada manusia, jabatan, atau ilusi keabadian diri. Namun, saat gelap menyelimuti, sandaran fana itu luntur satu per satu, meninggalkan hati telanjang menghadapi hakikat. Seperti bayangan yang lahir dari cahaya kita sendiri, ketergantungan pada makhluk rapuh oleh keterbatasan. Hikmah Al-Qur'an (Al-Hadid: 23) menggema: segala fana pasti binasa. Di sinilah undangan ilahi: tetapkan sandaran pada Yang Maha Hidup, agar jiwa tegak di tengah badai.
Ada pernyataan Ibnu Taimiyyah menusuk tajam: "Jangan terlalu bergantung pada siapapun di dunia ini, karena bayanganmu saja akan meninggalkanmu di saat gelap." Logika briliannya menggambarkan fana manusia—bayangan, ciptaan cahaya diri sendiri, lenyap saat gelap datang. Begitu pula makhluk: setia hanya di cahaya keadaan baik, tapi rapuh di ujian. Hikmahnya tawakal mutlak pada Allah (QS. Al-Hadid:23), sandaran abadi yang tak pudar. Ketergantungan duniawi lahirkan kecemasan; kemandirian batin bangun jiwa kokoh, relasi ikhlas tanpa beban.
***
Di persimpangan perjalanan hidup yang sunyi, tersembunyi hikmah abadi: segala sesuatu di dunia fana ini bersifat sementara. Kita kerap menggantungkan harapan pada manusia, keadaan, jabatan, atau bahkan versi diri yang kita banggakan saat ini. Selama cahaya menyinari, bayangan setia mengikuti langkah. Selama keadaan cerah, banyak penopang seolah abadi. Namun, ketika gelap menyelimuti, satu per satu sandaran itu memudar, meninggalkan kesadaran pahit: tidak semua yang hadir mampu bertahan dalam badai jiwa.
Metafor bayangan bukan sekadar puisi belaka, melainkan cermin tajam realitas eksistensial. Bayangan lahir dari cahaya dan bentuk kita sendiri—paling dekat, paling patuh. Namun, lenyaplah ia saat cahaya sirna. Demikian pula ketergantungan pada makhluk: sekuat apa pun tampaknya, ia terikat keterbatasan fana. Refleksi ini, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur'an (QS. Al-Hadid: 23), mengajak kita menata ulang sandaran hati. Jangan biarkan jiwa rapuh ketika dunia runtuh, karena "kullu man 'alayha fan" (segala yang ada di atasnya pasti binasa).
Dari sudut pandang psikologis, ketergantungan berlebih melahirkan kecemasan kronis. Takut kehilangan, ditinggalkan, atau gagal berdiri sendiri—ketakutan ini merayap diam-diam, menggerogoti ketenangan batin. Orang yang menjadikan kebahagiaan bergantung pada orang lain telah menyerahkan kendali jiwanya pada yang tak terkendali. Sebaliknya, kemandirian batin—seperti kautsar rohani dalam tasawuf—melahirkan ketenangan kokoh, tahan guncangan perubahan. Ia bukan isolasi, melainkan keseimbangan: bergantung secukupnya pada sesama, tapi utama pada Yang Maha Hidup.
Dari lensa filosofis, pesan ini bukan seruan menutup diri atau menolak relasi, melainkan panggilan proporsionalitas. Manusia diciptakan untuk saling membutuhkan (QS. Al-Maidah: 2), tapi bukan untuk saling gantikan peran Ar-Razzaq, Sang Pemberi Rezeki Abadi. Ketika makhluk dijadikan pusat sandaran, kekecewaan inevitabel—sebagaimana hadis Nabi SAW: "Barangsiapa yang pagi hari dengan hatinya bergantung pada Allah..." Hubungan pun menjadi sehat: bebas beban, penuh ikhlas, karena sandaran utama tak pernah lenyap oleh gelap.
Pada akhirnya, kegelapan bukan musuh untuk ditakuti, melainkan guru untuk disadari. Ia menyucikan ketergantungan palsu, menguak yang benar-benar andal, dan memperkokoh jiwa atas keyakinan ilahi. Saat tak terlalu bergantung pada siapa pun, kita justru hadir utuh dalam relasi—tanpa bayang ketakutan ditinggalkan. Ketika gelap datang dan bayangan pun sirna, kepada siapa hatimu berpijak agar tetap tegak, kokoh, tak runtuh?
***
Hidup, melalui gelapnya, menyucikan jiwa dari ilusi sandaran fana. Bayangan lenyap saat cahaya sirna, makhluk goyah dalam keterbatasannya—sebuah pengingat tajam dari Al-Hadid: 23, bahwa segala di dunia pasti binasa. Kemandirian batin bukan isolasi, melainkan tawakal proporsional: bergantung utama pada Ar-Razzaq yang tak pernah pudar, sehingga relasi sesama menjadi ikhlas, bebas beban. Kegelapan bukan akhir, tapi pembersih ketergantungan palsu, pembangun keyakinan kokoh. Maka, tetapkan hati pada Yang Maha Hidup; di sana, jiwa tegak abadi, hadir utuh tanpa takut runtuh.
Tulisan ini menegaskan Allah yang Maha Esa, satu-satunya tempat bergantung (Q.S. al-Ikhlas: 1-2). Di sinilah tauhid yang murni ketika menganggap dunia ini fana sehingga rapuh untuk dijadikan sandaran dan tempat bergantung. Allah menegaskan, "Barangsiapa bertawakal hanya kepada Allah maka Allah akan mencukupkan baginya" adalah QS. At-Thalaq (65): 3
0 Komentar