Oleh: Muhammad Yusuf
Esai ini mengembangkan kutipan pernyataan Plato dengan pendekatan sufistik yang menyelami perjalanan jiwa menuju ma'rifat, filosofis ala dialektika pengenalan diri, psikologis melalui kesadaran bawah sadar, manajemen transformasi diri, serta sosiologis dalam dinamika masyarakat pengetahuan. Kutipan itu bergema bagai dzikir primordial: "Orang yang berilmu mengetahui orang bodoh, karena dia pernah bodoh. Sedangkan orang yang bodoh tidak mengetahui orang yang berilmu karena dia tidak pernah berilmu."
Bukan sekadar permainan kata, ini adalah peta sufistik jiwa yang merangkak dari kegelapan nafsu amarah menuju cahaya ma'rifatullah. Orang berilmu, bagai sufi yang telah menari di padang tabah, mengenal bodoh karena pernah menjejak lumpur ketidaktahuan itu sendiri. Ia telah merasakan dinginnya malam gelap, di mana ilmu hanyalah janji fajar yang jauh. Dari pengalaman itu, lahir kerendahan hati—sifat qana'ah yang membuatnya mampu membaca garis-garis luka pada wajah orang bodoh, seolah membaca ayat-ayat rahasia di kitab ruhani.
Secara filosofis, ini adalah dialektika Hegelian yang halus: tesis ketidaktahuan bertemu antithesis pengetahuan, melahirkan sintesis kesadaran diri. Orang berilmu bukan pemilik gudang informasi, melainkan pengelana yang pernah tersesat di labirin pikiran. Ia belajar dari kegagalan, merenung dalam kesunyian Socratic, hingga batas pengetahuan orang lain terbuka bagai bunga teratai di embun pagi. Psikologis, proses ini adalah terapi Jungian shadow integration: menghadapi bayang gelap masa lalu yang bodoh, ia mengintegrasikannya menjadi ego yang utuh. Tanpa itu, orang bodoh terperangkap dalam ilusi Dunning-Kruger, di mana kebodohan bukan kekurangan fakta, tapi vakum refleksi. Mereka tak punya cermin untuk melihat diri, sehingga dunia orang lain hanyalah kabut samar, tak terjangkau oleh empati yang lahir dari luka pribadi.
Dari lensa manajemen, ilmu adalah seni transformasi diri ala Peter Drucker: efektivitas dimulai dari self-awareness. Orang berilmu mengelola "portofolio pengalaman"nya, belajar dari kegagalan masa lalu untuk memimpin tim dengan visi luas. Ia mengenali "blind spot" bawahan yang bodoh—bukan untuk merendahkan, tapi untuk membimbing, bagai nahkoda yang pernah karam membaca badai di mata pelaut muda. Sebaliknya, si bodoh gagal dalam leadership karena tak punya feedback loop reflektif; keputusannya retoris kosong, seperti manajer yang buta terhadap dinamika timnya. Dari sudut pandang sosiologis, ini menggambarkan stratifikasi Durkheimian: masyarakat terbagi antara yang "mekanik" (bodoh, terikat rutinitas tanpa refleksi) dan "organik" (berilmu, saling melengkapi melalui pengertian timbal balik). Di era informasi banjir, kebodohan kolektif lahir dari echo chamber media sosial, di mana tanpa pengalaman belajar mendalam, kelompok tak mampu membedakan hakikat dari fatamorgana. Orang berilmu menjadi jembatan sosial, memahami akar konflik karena pernah menjadi "yang lain".
Ilmu bukan akumulasi data, melainkan pengenalan diri dan dunia—ma'rifat yang menyatukan individu dengan kosmos. Orang berilmu, dengan bekal ketidaktahuan masa lalunya, melangkah ringan di persimpangan kehidupan, mampu melihat luasnya samudra pengetahuan sambil memahami ombak kecil orang bodoh. Si bodoh, terkurung di gua Platonisnya, tak pernah keluar, tak pernah merasakan sinar. Kesadaran inilah yang membebaskan: dari kegelapan nafsu menuju cahaya ilahi, dari isolasi psikologis menuju harmoni sosial. Dalam tarian sufistik ini, setiap jiwa dipanggil pulang—bukan dengan ilmu semata, tapi dengan hati yang pernah buta, kini melihat.
0 Komentar