Oleh: Muhammad Yusuf
Di tengah badai hidup yang tak terkira—kehilangan menyayat, kegagalan menghantam, ketidakadilan mengguncang—Maulana Rumi berbisik tajam: "Kamu harus meyakinkan hatimu bahwa apapun yang telah ditetapkan Allah adalah yang paling tepat dan paling bermanfaat untukmu."
Ini bukan nasihat manis, melainkan pisau logika yang memaksa: hati kita, pencinta kenyamanan sempit, sering menolak takdir sebagai musibah. Padahal, apa yang Allah tetapkan adalah pagar bijak dari jurang kehancuran. Di sinilah iman diuji—bukan di bibir, tapi di relung jiwa. Siapkah kau meyakinkan hati, atau tetap bergulat sia-sia melawan Yang Maha Tahu?
***
Maulana Rumi pernah berkata: "Kamu harus meyakinkan hatimu bahwa apapun yang telah ditetapkan Allah adalah yang paling tepat dan paling bermanfaat untukmu."Kalimat ini bukan sekadar nasihat, melainkan undangan mendalam ke inti iman—bukan keyakinan yang hanya diucapkan bibir, tapi yang meresap hingga ke relung hati. Meyakinkan hati jauh lebih menuntut daripada mengakui dengan kata-kata, sebab hati rentan digoyang kekecewaan, kehilangan, dan jeritan tentang ketidakadilan hidup. Di sinilah ujian sejati: apakah kita benar-benar percaya, atau hanya berpura-pura tenang?
Ketetapan Allah sering muncul dalam wujud yang kita tolak mentah-mentah—musibah yang menyakitkan, kegagalan yang memalukan, atau keheningan yang membingungkan. Manusia, dengan pandangan sempitnya, mengukur kebaikan dari rasa nyaman dan kesenangan sesaat; Allah, sebaliknya, mengukurnya dari apa yang menyelamatkan jiwa dan memahat karakter. Apa yang kita anggap bencana, sering kali adalah pagar tak terlihat yang menghalangi jurang kehancuran lebih dalam. Logika ini tajam: penolakan kita terhadap takdir justru membuktikan ketidaktahuan kita akan hikmah tersembunyi.
Sacara filosofis, keyakinan ini menuntut kerendahan hati intelektual yang radikal. Pengetahuan manusia hanyalah serpihan pudar—terbatas pada masa kini, buta terhadap masa lalu dan depan. Allah mencakup semesta waktu sekaligus, melihat mosaik lengkap rencana-Nya. Saat kita memaksakan kehendak, kita seperti anak kecil yang merengek atas satu balok Lego, tak sadar itu bagian dari istana megah. Memaksa kendali berarti menyangkal keterbatasan kita; menerima berarti membuka mata pada kebijaksanaan ilahi.
Secara batiniah, ini adalah disiplin melepaskan ilusi kendali. Bukan pasrah malas yang mengabaikan ikhtiar, tapi penerimaan penuh setelah berjuang maksimal—lalu lapang dada menyambut hasilnya. Hati yang demikian tak lagi bergulat sia-sia melawan arus takdir; ia belajar mengalir bersamanya, menemukan kedamaian dalam penyerahan aktif. Ini latihan harian: dari kegelisahan menjadi ketenangan, dari perlawanan menjadi harmoni.
***
Pada intinya, keyakinan ini bukan kekalahan, melainkan puncak kedewasaan spiritual. Ia ubah luka menjadi guru bijak, kehilangan menjadi pemurni jiwa, keterlambatan menjadi perisai rahmat. Hati yang mencapainya tak rapuh, sebab ia bertopang pada Yang Maha Bijak—tak tergoyah, karena tahu siapa Pemegang kendali mutlak.
Puncak kedewasaan spiritual dalam keyakinan Rumi adalah meyakinkan hati bahwa ketetapan Allah—meski berwujud musibah—adalah rahmat terselubung, pagar dari kehancuran, dan pemahat jiwa. Logikanya tak tergoyahkan: pengetahuan kita serpihan, ilmu-Nya semesta waktu. Lepaskan ilusi kendali setelah ikhtiar maksimal; alirilah takdir dengan lapang dada. Luka jadi guru, kehilangan pemurni, keterlambatan perisai. Hati yang demikian tak rapuh—bertahan kokoh di badai hidup. Mulailah hari ini: yakinkan hatimu, dan temukan kedamaian abadi dalam penyerahan bijak.
0 Komentar