Oleh: Muhammad Yusuf
Esai ini terinspirasi dari kutipan bijak Ali bin Abi Thalib yang menyoroti perbedaan mendasar antara kebijaksanaan dan kebodohan dalam berbicara. "Lidah orang berakal berada di belakang hatinya, dan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya." Kata-kata Ali bin Abi Thalib ini, bagai pedang yang memotong kegelapan kebodohan, mengungkap esensi manusiawi yang paling dalam. Bukan sekadar peribahasa kuno, kutipan ini adalah cermin jiwa, menggambarkan dua kutub abadi: orang berakal yang lidahnya dikendalikan oleh hati yang bijak, dan orang bodoh yang hatinya terjebak di belakang derasnya kata-kata sembrono.
Bayangkan orang berakal sebagai pohon beringin tua yang akarnya menembus tanah dalam. Lidahnya tak pernah tergesa meluncur; ia menunggu di belakang hati, ruang suci di mana pikiran dipelihara oleh nurani. Hati itu menyaring, menimbang, dan memahat kata sebelum dilepaskan ke dunia. Seperti sungai yang mengalir pelan melewati batu karang, ucapannya membawa kebijaksanaan yang menyuburkan. Dalam sejarah, para pemimpin besar seperti Ali sendiri mewujudkan ini. Saat Perang Badar, ia tak banyak omong; hatinya memilih saat tepat untuk berbicara, mengubah pertempuran menjadi kemenangan iman. Kebijaksanaan ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan: ia menghindari luka yang tak terobati, membangun jembatan daripada merobohkan tembok.
Sebaliknya, hati orang bodoh terperangkap di belakang lidahnya yang liar, bagai badai yang menyapu tanpa arah. Kata-kata mereka meluncur bagai panah tanpa busur, menusuk tanpa ampun, seringkali merusak diri sendiri terlebih dahulu. Lidah menjadi tuan, hati budak—penuh amarah, iri, atau keangkuhan yang tak terkendali. Lihat saja dalam kehidupan modern: media sosial dipenuhi ledakan kata-kata impulsif, di mana satu tweet bodoh bisa menghancurkan karier, persahabatan, atau bahkan masyarakat. Orang bodoh ini berpikir lidahnya adalah senjata ampuh, padahal ia hanyalah pedang bermata dua yang melukai pemiliknya. Hati mereka, yang seharusnya menjadi benteng, justru terbungkam, terkubur di bawah puing-puing ucapan sembrono.
Kutipan Ali ini tajam karena menyentuh akar masalah manusia: pengendalian diri. Orang berakal memahami bahwa kata adalah benih; ditanam dengan hati yang matang, ia tumbuh menjadi pohon kehidupan. Orang bodoh menabur angin, menuai badai. Dalam Al-Qur'an pun ditegaskan, "Tidakkah orang-orang itu mengetahui bahwa mereka akan dihisab?" (Al-Muthaffifin: 36). Ini panggilan untuk introspeksi: di mana posisi lidahmu? Apakah ia menari di depan, atau berlutut di belakang hati?
Di era informasi yang kacau ini, pelajaran ini semakin relevan. Kita dikelilingi gempuran kata-kata cepat, di mana kecepatan mengalahkan kedalaman. Namun, kebijaksanaan sejati lahir dari jeda—saat hati memeriksa niat, menimbang dampak, dan memilih diam jika perlu. Orang berakal tak takut diam; ia tahu keheningan adalah bahasa hati yang paling indah. Biarlah kutipan Ali menjadi kompas. Pindahkan lidahmu ke belakang hati, agar kata-katamu tak lagi jadi racun, melainkan madu penyembuh. Hanya dengan begitu, kita naik dari kebodohan ke puncak kemanusiaan—di mana hati memimpin, dan lidah mengikuti jejak keabadian
0 Komentar