Oleh: Muhammad Yusuf
Doa yang kita panjatkan kepada Allah sering kali lebih jujur daripada kesadaran kita sendiri. Bibir memohon ketenangan pikiran, tetapi hati masih erat menggenggam keramaian, relasi, dan wajah-wajah yang terlalu akrab dengan keseharian. Kita ingin damai, namun dalam bayangan kita, damai itu tetap ramai. Padahal, sebagaimana malam menenteramkan justru karena gelap dan sepinya, begitu pula jiwa kerap baru menemukan teduh ketika Allah mulai merapikan, mengurangi, bahkan menjauhkan beberapa orang dari hidup kita. Kenyataan ini selaras dengan ungkapan bijak: “Jika engkau pernah meminta kepada Allah untuk memberi ketenangan pikiran, maka jangan heran bila Allah menjauhkanmu dari sebagian orang.”
Dalam perspektif sufistik, Allah adalah Al-Lathif – Yang Maha Lembut dalam cara-Nya menata jalan hidup hamba. Tidak setiap yang Allah ambil adalah hukuman; sering kali itulah cara paling halus untuk menyelamatkan batin yang retak, hati yang letih, dan jiwa yang hampir padam. Di permukaan, kita menyebutnya perpisahan, kehilangan, atau renggangnya hubungan. Namun di kedalaman takdir, boleh jadi semua itu adalah operasi sunyi atas jiwa: pengangkatan beban yang selama ini kita rawat sebagai kebiasaan, padahal sesungguhnya ia adalah luka.
Secara psikologis, manusia cenderung mengaitkan rasa aman dengan kehadiran orang lain. Kita merasa lebih tenang ketika tidak sendirian, ketika percakapan tak putus, ketika notifikasi tidak pernah berhenti. Namun jiwa tidak selalu tumbuh di tengah keramaian. Ada relasi yang tampak hangat di luar, tetapi perlahan mengikis harga diri di dalam. Ada kedekatan yang tampak akrab, tetapi menyisakan gelisah setiap kali percakapan usai. Tidak semua yang dekat menyehatkan jiwa, dan tidak semua yang jauh berarti tidak peduli.
Ketenangan, dalam bahasa batin para sufi, bukan sekadar tiadanya gangguan dari luar, melainkan hadirnya keteraturan di dalam. Ia adalah saat hati berhenti berperang dengan dirinya sendiri. Untuk sampai ke titik itu, yang dibutuhkan terkadang bukan penambahan, melainkan pengurangan. Pengurangan orang, pengurangan suara, pengurangan drama; pengurangan segala sesuatu yang selama ini kita pelihara sebagai “kebiasaan”, padahal diam-diam menjadi racun emosional. Ketika lingkaran sosial menyempit, jiwa tidak selalu merosot; sering kali justru di sanalah ia menemukan ruang untuk bernapas.
Di sinilah rahasia lembut dari doa yang pernah kita panjatkan: “Ya Allah, berikan aku ketenangan pikiran.” Kita membayangkan jawaban berupa hidup yang tetap sama, hanya lebih teratur. Kita berharap Allah menenangkan pikiran, tanpa mengubah lingkaran pergaulan. Kita ingin damai, tetapi enggan merelakan satu pun nama dari daftar orang-orang yang mengisi hari-hari kita. Lalu ketika Allah mulai menjauhkan satu per satu—melalui jarak, kesibukan, perubahan suasana, bahkan konflik—kita menyebutnya musibah, padahal boleh jadi itulah jawaban paling jujur bagi doa kita sendiri.
Secara psikologis, jiwa menyerap energi relasi di sekitarnya. Berada terlalu lama dengan orang yang menyakiti, meremehkan, atau menguras, membuat pikiran hidup dalam mode bertahan: selalu waspada, cemas, dan lelah. Ketika Allah memutuskan untuk menjauhkan sosok-sosok seperti ini, itu bukan sekadar berkurangnya teman; itu adalah pemurnian ruang batin. Seperti kebun yang baru dapat tumbuh subur setelah ilalang dicabut, jiwa pun hanya dapat berkembang ketika hubungan-hubungan yang melelahkan mulai berguguran.
Kesendirian yang menyusul perpisahan sering kali terasa dingin dan menyakitkan. Namun dalam kesunyian itulah manusia kembali mendengar suara hatinya sendiri. Seseorang mulai bertanya: siapa aku ketika tidak sibuk menyenangkan orang lain? Apa yang sungguh-sungguh aku butuhkan, bukan sekadar aku inginkan? Dari pertanyaan-pertanyaan seperti inilah lahir kejujuran pada diri sendiri. Dan, kejujuran inilah akar ketenangan: saat kita tidak lagi memaksa diri untuk terus bertahan dalam lingkaran yang sebenarnya telah lama melelahkan.
Hubungan yang gugur membawa hikmah yang tidak selalu segera terbaca. Ia mengajarkan batas, harga diri, dan pentingnya menjaga kesehatan mental. Ia menunjukkan bahwa cinta tidak layak dibayar dengan hancurnya martabat batin. Bahwa memberi tidak sama dengan mengizinkan diri dilukai terus-menerus. Dalam perspektif spiritual, setiap orang yang datang adalah titipan, dan setiap yang pergi adalah pengingat bahwa hanya Allah yang benar-benar menetap. Dari sini, jiwa belajar menggantungkan diri lebih dalam kepada-Nya, bukan kepada keramaian yang semu.
Tentu tidak semua pengaturan Ilahi mudah dipahami. Ada perpisahan yang terasa terlalu cepat, ada jarak yang terasa terlalu jauh. Namun di titik inilah iman bekerja: percaya pada hikmah, bahkan ketika mata belum mampu melihatnya. Ketika seseorang mulai berkata dalam hati, “Ya Allah, aku tidak paham, tetapi aku percaya Engkau tidak zalim,” maka sebuah ruang baru pun terbuka di dalam jiwa. Ruang itu bernama ridha. Dan dari ridha, tumbuhlah ketenangan yang tidak lagi bergantung pada siapa yang tinggal ataupun pergi.
Jadi, jika ketenangan pikiran memang pernah menjadi isi doamu, beranikan dirimu untuk mengakui: mungkin ada beberapa orang yang memang harus dilepaskan agar doa itu dikabulkan. Masihkah engkau ingin mempertahankan semua orang, jika sebagian di antara mereka justru perlahan merampas kedamaian hatimu?
0 Komentar