KEBENARAN BUKAN SOAL "LIKE or DISLIKE

 Oleh : Muhammad Yusuf


Esai ini saya mulai dengan sebuah quote bijak, "Terimalah kebenaran yang datang kepadamu meskipun bersumber dari orang asing yang kau benci, dan tolaklah kebatilan yang sampai kepadamu  meskipun ia berasal dari orang dekat yang kau cintai." - Ubay bin Ka'ab. Kutipan ini menegaskan bahwa kebenaran tidak identik dengan "suka-benci".

Ada saat dalam perjalanan jiwa ketika hati lebih sibuk membela suka dan benci daripada mendengarkan suara kebenaran. Secara psikologis, ini adalah bias konfirmasi: manusia mencari kenyamanan pada narasi familiar, gelisah pada yang asing, seperti burung yang terperangkap dalam sangkarnya sendiri. Kita tumbuh dalam kelompok sosial—keluarga, komunitas, ideologi—yang membentuk identitas sebagai benteng. Benteng ini memberi rasa aman sosiologis, tapi sering menghalangi cahaya kebenaran dari arah tak terduga, seperti kabut tebal yang menyelimuti oasis.

Di ujian batin ini, pertanyaan mendasar muncul: apakah kita mencintai kebenaran karena ia benar, atau karena datang dari yang disayang? Apakah menolak kebatilan karena salah, atau karena diucapkan musuh? Ini bukan sekadar moral, melainkan kedewasaan jiwa—sufistiknya, fana' terhadap ego; filosofisnya, pemisahan esensi dari akibat; psikologisnya, mengatasi disonansi kognitif; sosiologisnya, melampaui tekanan konformitas kelompok.

Kebenaran Tak Meminta Izin Perasaan

Filosofis, kebenaran bersifat ontologis, berdiri di luar ego manusia seperti gunung yang tak bergeming oleh angin. Sufistik, ia datang sebagai nur ilahi, tak peduli pembawa—entah nabi atau kafir. Menerimanya dari yang dibenci adalah latihan tawadhu', menusuk hijab nafsu amarah. Psikologis, ini memaksa reframing: hati retak, tapi cahaya masuk, membebaskan dari penjara bias.

Cinta Buta Tanpa Kesadaran

Hubungan dekat sering membutakan, seperti sungai yang keruh karena lumpur ikatan emosional. Psikologis, ini mekanisme attachment: bela yang dicinta bukan karena benar, tapi takut kehilangan ikatan. Sufistik, cinta matang adalah mahabbah ilahiyyah—berani "tidak" untuk selamatkan jiwa terdekat, bukan manjakan dosa. Sosiologis, ini menantang norma loyalitas kelompok, di mana pengkhianatan pada kebatilan dianggap pengkhianatan sosial.

Ego, Hijab Paling Halus

Ego adalah tabir sutra yang tak terlihat, membuat kita tolak bukan kebatilan, tapi luka tersinggung—like cermin retak yang mencerminkan distorsi diri. Filosofis, kebenaran tak punya identitas sosial; sufistik, turunkan ego maka hati lapang bagai padang rumput setelah badai. Psikologis, ini defense mechanism superioritas; sosiologis, ego terikat status, tapi kematangan membebaskan dari rantai itu.

Kejujuran Batin dan Keberanian Sosial

Menerima kebenaran dari musuh atau tolak yang salah dari sahabat picu sanksi sosial—dikucilkan, dicap durhaka. Secara sosiologis, ini subvert konformitas kelompok Durkheim; psikologis, tuntut resiliensi emosional. Sufistik, jiwa tenang berjalan sendirian bagai salik di padang tandus, damai tak tergantikan penerimaan massa.

Kematangan Jiwa dalam Penilaian

Jiwa dewasa tak reaktif: dengar jernih, timbang adil, putus tenang—like hakim ilahi. Tak jadikan benci alasan tolak, cinta pembenaran terima. Hati jadi ruang hikmah, bukan arena gladiator emosi. Pesan tulisan menegaskan bahwa kebenaran bukan soal "like or dislike". Ini sejalan dengan Surah al-Maidah ayat 8:

"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang memegang kebenaran (tegaklah) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." 


Posting Komentar

0 Komentar