MERANGKUL KESEDIHAN: RESOLUSI RUMI MENUJU SYIFA' JIWA

 Oleh: Muhammad Yusuf

Dalam lautan hikmah tasawuf, Maulana Jalaluddin Rumi muncul sebagai suara abadi yang menembus tabir ilusi jiwa manusia. Kutipannya yang mulia, "لا تُخاصم حزنك، فالحزن رسولٌ صادق، إن أحسنتَ استقباله دلّك على موضع الشفاء" (Janganlah kamu melawan kesedihanmu, karena kesedihan adalah pembawa pesan yang jujur; jika kamu menerimanya dengan baik, ia akan menuntunmu ke jalan penyembuhan), bukan sekadar nasehat puitis. Ia adalah resep metafisik yang logis, di mana kesedihan—huzn dalam bahasa Arab—ditinggikan sebagai rasul (utusan) ilahi, bukan musuh yang harus dilawan. Di era modern yang memuja kebahagiaan instan, pesan ini tajam bagai pedang Dhulfiqar: ia mengkritik budaya hedonisme dan mengajak kita kembali ke akar spiritual Islam.

Bayangkan kesedihan sebagai tamu tak diundang yang datang di tengah malam jiwa. Budaya kontemporer, dipengaruhi psikologi Barat sekuler, memerintahkan kita untuk "melawan"nya—dengan obat anti-depresan, meditasi mindfulness yang dangkal, atau hiburan digital yang memabukkan. Namun, Rumi, sang penyair Sufi abad ke-13, melihatnya lain. Dalam Mathnawi, ia menggambarkan hati manusia sebagai cermin Tuhan; kesedihan adalah kabut yang membersihkan cermin itu dari debu ego (nafs). Logikanya sederhana namun mendalam: menolak kesedihan sama saja dengan menutup pintu wahyu diri. Al-Qur'an sendiri membenarkannya. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 155, Allah berfirman: "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." Di sini, ujian—termasuk huzn—adalah sarana tazkiyah (pemurnian jiwa), bukan hukuman.

Mengapa kesedihan adalah "rasul shadiq" (utusan jujur)? Karena ia tak berbohong. Kebahagiaan palsu bisa menipu, tapi kesedihan menusuk tepat ke luka yang tersembunyi. Psikologi modern, seperti teori Carl Jung tentang "bayangan" (shadow), secara tak sadar menggemakan ini: penyangkalan emosi negatif justru memperbesar bayangan itu hingga meledak menjadi krisis eksistensial. Dalam konteks ushul fiqh, Rumi mengajak kita menerapkan qiyas (analogi): seperti sabar (sabr) yang menjadi pintu syukur, menerima huzn membuka jalan shifa' (penyembuhan). Hadis Nabi Muhammad SAW riwayat Muslim menegaskan: "Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan." Kesedihan, jika dirangkul, menjadi mi'raj pribadi menuju maqam fanā' (lenyap dalam Tuhan).

Proses ini bertahap. Pertama, istqbal hasan (penerimaan baik): bukan pasrah buta, melainkan tafakkur (refleksi mendalam). Rumi dalam Diwan-e Shams membandingkan jiwa dengan tanah gersang; air mata kesedihan adalah hujan yang menyuburkan. Kedua, identifikasi "moḍa‘ al-shifa'" (tempat penyembuhan). Kesedihan sering menunjuk dosa tersembunyi—ghurur (kesombongan), hasad (iri), atau putus asa dari rahmat Allah. Tafsir Ibnu Katsir atas Surah Adz-Dzariyat ayat 22 menyatakan rahmat Allah meliputi segala, tapi huzn mengingatkan kita pada keterbatasan diri, mendorong taubat (istighfar). Ketiga, transformasi: dari huzn menjadi rahmah. Kisah Nabi Ya'qub AS dalam Surah Yusuf adalah teladan sempurna—kesedihan atas Yusuf justru melahirkan hikmah kenabian.

Tapi, pesan Rumi tajam mengkritik penyimpangan modern. Di Jakarta yang sibuk, di tengah hiruk-pikuk medsos yang memamerkan "kebahagiaan" semu, kita lupa sabr Jamil (kesabaran indah) Nabi Ayyub. Penelitian kualitatif kontemporer, seperti studi fenomenologi tentang depresi di kalangan muslim urban (misalnya jurnal Journal of Muslim Mental Health), menunjukkan bahwa penolakan emosi justru memperpanjang penderitaan. Sebaliknya, praktik tasawuf—dhikr, muroqobah—mengubah huzn menjadi qurb (kedekatan ilahi). Ini logis secara empiris: neuroimaging modern membuktikan meditasi spiritual mengurangi aktivitas amygdala (pusat ketakutan), mirip efek "merangkul" kesedihan Rumi.

Rumi tak berhenti di teori. Ia ajak kita menari dengan kesedihan, seperti pengembara gurun yang minum dari sumur pahit untuk hidup. Dalam filsafat Islam, ini selaras dengan Ibn Arabi: wujud adalah permainan cahaya dan bayangan; menolak bayangan berarti menolak kesempurnaan Tuhan. Bagi akademisi seperti kita, yang bergelut dengan metodologi penelitian, huzn adalah guru metodis: ia memaksa hipotesis diri diuji, data emosi dianalisis, hingga kesimpulan shifa' lahir.

Akhirnya, nasehat Rumi adalah panggilan revolusioner: jangan khashm (berperang) dengan huznmu, tapi sambutlah sebagai sahabat. Ia akan mendelilkanmu ke shifa'—bukan pelarian, tapi kedalaman. Di UIN Alauddin Makassar atau mana pun, mari terapkan ini dalam pengajaran kita: ajak mahasiswa merangkul kesedihan sebagai jalan ilmu. Sebab, seperti Rumi katakan, "Luka adalah tempat masuknya cahaya." Hanya dengan itu, jiwa kita pun mencapai fana' fi Allah, penyembuhan sejati.

Posting Komentar

0 Komentar