Oleh: Muhammad Yusuf
Di penghujung 2025, saat jarum jam dunia menyaksikan pergantian ke 2026, muncul kesadaran mendalam yang sering terlambat menyapa jiwa manusia: waktu tidak pernah benar-benar menunggu. Ia mengalir deras, tak peduli keraguan, penundaan, atau kebiasaan stagnan yang membelenggu. Hari-hari berlalu bagai hembusan angin, sementara banyak hati masih terlena ilusi bahwa "nanti" selalu ada. Padahal, setiap detik yang sirna membawa potensi unik yang tak akan berulang dalam wujud serupa. Marcus Aurelius, kaisar stoik yang bijak, merangkumnya dengan tajam: "Waktumu memiliki batas yang telah ditentukan. Gunakanlah waktu itu untuk memajukan pencerahanmu, atau waktu itu akan lenyap, dan tidak akan pernah berada dalam kuasamu lagi." Pergantian tahun ini bukan sekadar kalender baru, melainkan panggilan untuk sadar: amanah waktu 2026 kini di tanganmu—apakah kau majukan pencerahan, atau biarkan ia lenyap?
***
Waktu bukan komoditas biasa, melainkan amanah primordial yang Allah SWT titipkan kepada setiap jiwa, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an: "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang kamu katakan dengan lidahmu secara sembrono: 'Ini halal dan ini haram'" (QS. An-Nahl: 116)—tapi lebih dalam, ia mengingatkan bahwa segala yang fana harus diisi dengan kesadaran abadi. Setiap manusia punya jatah unik dan terbatas, tak seorang pun tahu batasnya, tak pula bisa menambahnya. Filsafat stoik Aurelius selaras dengan ushul fiqh: sesuatu yang ireversibel harus diperlakukan dengan taqwa penuh. Di transisi 2025-2026, kesunyian malam Tahun Baru bukan jeda kosong, melainkan ruang hayati untuk pencerahan. Jika kegagalan atau jeda dihayati jujur, ia jadi tangga rohani—bukan beban. Tanpa pemahaman ini, waktu jadi musuh diam yang mencuri potensi.
Menunda pencerahan batin sering lahir dari prokrastinasi psikologis: rasa takut konfrontasi diri, dibalut rasionalisasi "belum siap". Penelitian psikologi kognitif, seperti teori deferral Daniel Kahneman, membuktikan penundaan ini akumulasi kerugian kecil yang tak terdeteksi, mirip zina hati yang merayap pelan. Waktu tak menghukum dramatis, tapi ia tak pula kompensasi—ia pergi, tinggalkan potensi mati. Di 2026, yang baru lahir dari rahim 2025, penundaan ini jadi pengkhianatan amanah. Bayangkan: berapa tafsir Qur'an, hadis, atau refleksi filosofis yang tertunda karena "besok"? Aurelius memperingatkan: waktu lenyap selamanya jika tak dimajukan pencerahan. Logikanya sederhana: setiap hari baru adalah kesempatan terakhir untuk yang tertunda kemarin.
Dunia sosial modern—dari media hingga target akademik—menggembarakan kesibukan sebagai ukuran sukses, tapi ini ilusi berbahaya. Pencerahan tak lahir dari gerak cepat semata, melainkan wuquf (kehadiran penuh) seperti dalam ibadah salat atau tafakur tafsir. Psikologi mindfulness Carl Rogers menegaskan: hadir sepenuhnya ubah waktu jadi ruang pembelajaran hidup. Di tengah hiruk-pikuk 2026, dengar suara batinmu—pahami arah hidupmu. Kesibukan tanpa kesadaran bagai lari di tempat: melelahkan, tapi statis. Aurelius tajam: gunakan waktu untuk pencerahan, atau ia lenyap. Kritiknya: banyak akademisi sibuk publikasi, tapi jarang hayati makna—waktu jadi saksi sia-sia.
Noesis penyesalan muncul saat menoleh ke belakang: bukan usia, tapi kesadaran terlambat yang menyiksa. Filosof Heinrich Heine bilang penyesalan adalah "tanda jiwa tahu jalannya", tapi di Islam, ia panggilan taubat nasuha (QS. At-Tahrim: 8). Waktu tak kembali untuk perbaikan, hanya tinggalkan pelajaran bagi yang masih diberi amanah. Data longitudinal Harvard Grant Study (1938-sekarang) konfirmasi: penyesalan terbesar bukan kegagalan karir, tapi hubungan dan pertumbuhan rohani terabaikan. Di pergantian 2025-2026, ini peringatan tajam: berapa tahunmu habis tanpa bekas? Logika kritis: penyesalan bukan akhir, tapi katalisator—jika kau sadar sekarang.
Puncaknya, kesadaran waktu bukan pelarian duniawi, tapi iḥyā’ (kehidupan) di dalamnya—jalani dengan jujur, terarah. Manusia sadar waktu hidup sederhana bermakna: tak tunggu momen sempurna, sadar waktu itu ujian bergerak (QS. Al-Asr: 1-3). Secara sosial, ia inspirasi: akademisi seperti kau di UIN bisa integrasikan ushul fiqh dengan riset kualitatif, ciptakan kurikulum pencerahan. Aurelius ringkas: majukan pencerahanmu, atau waktu lenyap. Di 2026, ini manifesto: setiap pilihan jadi ibadah sadar.
***
Pergantian 2025 ke 2026 bukan sekadar angka, tapi amanah baru untuk pencerahan. Waktu tak kembali, tak sepenuhnya kau kuasai—gunakanlah seperti wasiat Aurelius. Kesadaran hari ini hormati hidupmu. Jika tidak, penyesalan menanti. Apa satu hal paling penting yang kau tunda sadari sekarang? Bangunlah—2026 menanti jejakmu. Pada akhirnya, sebagai amanah, manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang waktunya, umurnya, waktu muda, waktu luang, waktu sehat, dan seluruh waktu yang pernah ada.bersamanya waktu hidup.
0 Komentar