PENDERITAAN DAN KEHILANGAN: GURU ABADI NILAI KEHIDUPAN

 Oleh: Muhammad Yusuf

Doktrin agama dan nilai kearifan lokal yang mengajarkan tentang kesabaran, itu secara semiotik dan secara logis mengisyaratkan adanya penderitaan yang menghendaki kesabaran. Banyak orang,- atau kalau tidak semuanya - menginginkan kehidupan tanpa penderitaan dan kesulitan. Begitu pula kepemilikan jika boleh, jangan sampai lepas atau menghilang dari penguasaan. Tapi ketahuilah, sejatinya penderitaan dan kehilangan itu mengajarkan pesan sangat mendalam. Penderitaan menguatkanmu, san kehilangan mengajarkanmu kesabaran. Ini dunia. Dunia artinya penuh kesementaraan. 

Di tengah gemuruh dunia yang fana, sebuah kutipan Arab kuno bergema seperti lonceng peringatan: من لا يتألم لا يتعلم.. ومن لا يخسر لا يعرف قيمة ما يملك. "Mereka yang tidak menderita, maka dia tidak belajar; dan mereka yang tidak merasa kehilangan, sejatinya tidak mengetahui nilai dari apa yang mereka miliki." Kata-kata ini bukan sekadar aforisme, melainkan pisau bedah yang mengiris lapisan ilusi kehidupan, mengungkap hakikat eksistensial manusia. Dalam filsafat, penderitaan (dukkha bagi Buddha, pathos bagi Yunani) dan kehilangan bukan musuh, melainkan arsitek jiwa. Mereka yang menghindar dari luka ini, ibarat pohon yang tak pernah tertiup angin, rapuh dan dangkal akarnya. Esai ini menyelami kedalaman kutipan tersebut, membuktikan bahwa penderitaan adalah sekolah terasah, kehilangan adalah timbangan emas, dan keduanya membentuk manusia yang bijak.

Penderitaan, sang guru tak diundang, adalah api yang membakar ilusi ketidaktahuan. Bayangkan seorang pemuda yang lahir dalam kemewahan, tak pernah merasakan dinginnya malam tanpa selimut, tak pernah mendengar jerit lapar di perutnya. Ia berjalan di taman Eden buatannya sendiri, tapi tanpa badai, ia tak belajar berenang. Friedrich Nietzsche, filsuf Jerman yang ditempa tubr kulitnya sendiri, berseru: "What does not kill me makes me stronger." Penderitaan bukan hukuman, melainkan ujian yang memaksa pertumbuhan. Dalam Islam, ini bergema dalam firman Allah SWT: “Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 155). Ujian (ibtila’) adalah metodologi ilahi untuk belajar; tanpa rasa sakit, iman tetap teori kosong. Sejarah membuktikannya: Nabi Ayyub AS bertahan dalam penderitaan kulit bernanah dan kehilangan keluarga, bukan untuk hancur, tapi untuk naik derajat kesabaran. Ia belajar bahwa ketabahan lahir dari luka, sebagaimana mutiara lahir dari iritasi kerang. Tanpa penderitaan, manusia mandek dalam kebodohan manis, tak pernah menyelami kedalaman hikmah.

Lebih tajam lagi, kutipan ini menusuk inti kehilangan sebagai penimbang nilai. Apa yang tak pernah hilang, tak pernah dihargai. Seorang raja yang mengumpul harta tak terhitung, tak tahu betapa berharganya sepotong roti bagi yang kelaparan. Hanya saat kehilangan—entah kekasih, kesehatan, atau kehormatan—baru mata terbuka. Aristoteles dalam Nicomachean Ethics menyebut ini sebagai pengenalan nilai melalui kontras: kegelapan mendefinisikan cahaya. Dalam konteks spiritual Islam, kisah Nabi Yakub AS adalah lukisan sempurna. Kehilangan Yusuf, putranya yang dicinta, membuat Yakub buta oleh air mata, tapi justru dari lubang itu lahir kesabaran (sabr) dan pengetahuan nilai keluarga. “Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun yang Dia tidak pegang kekangnya” (QS. Hud: 56). Kehilangan bukan akhir, melainkan pengukur: apa yang kita rindukan, itulah yang berharga. Psikologi modern mengonfirmasi; efek loss aversion Daniel Kahneman menunjukkan manusia lebih sensitif pada kehilangan daripada keuntungan. Tanpa itu, kita jadi kolektor barang mati, bukan penjaga harta abadi.

Sintesis keduanya membentuk filsafat hidup yang tajam: penderitaan dan kehilangan adalah dialektika Hegel yang memaksa sintesis hikmah. Tanpa luka, tak ada penyembuhan; tanpa kehilangan, tak ada syukur. Dalam tasawuf Islam, Rumi mengilustrasikannya indah: “Luka adalah tempat masuknya cahaya.” Jiwa yang tak terluka tetap gelap, tak belajar terbang dari reruntuhan. Di era modern, di mana hedonisme digital menjanjikan kenikmatan instan, kutipan ini menjadi cambuk. Generasi yang menghindari rasa sakit via obat penghilang duka atau media sosial palsu, justru kehilangan pelajaran terdalam. Mereka tak tahu nilai shalat subuh saat sehat, tak hargai orang tua saat masih ada. Sebaliknya, para sufi seperti Al-Ghazali, yang kehilangan segalanya dalam krisis eksistensial, bangkit dengan Ihya Ulumuddin, buku yang mengajarkan nilai sejati dari pengalaman luka.

Namun, kutipan ini bukan glorifikasi tragedi, melainkan panggilan aksi. Belajarlah dari penderitaan dengan sabar (sabr jamil), ukurlah nilai dengan syukur (syukr kathir). Seperti pohon zaitun yang ditempa badai, akarnya dalam dan buahnya abadi. Di akhir hayat, saat malaikat bertanya, “Apa yang kau pelajari?”, jawabannya bukan daftar prestasi, tapi kedalaman luka yang kau ubah jadi hikmah. Kutipan Arab itu, sederhana namun pedang bermata dua, mengajak kita: peluklah penderitaan sebagai guru, sambutlah kehilangan sebagai teman. Hanya demikian, kita benar-benar hidup—mengetahui nilai apa yang kita miliki, sebelum semuanya lenyap bagai embun pagi.

Posting Komentar

0 Komentar