Oleh: Muhammad Yusuf
Pernyataan yang sangat dalam dari seorang ahli hikmah, "Keinginan agar orang lain mengetahui keistimewaanmu adalah bukti ketidakjujuranmu dalam menghambakan diri kepada Allah." Kutipan tajam ini dari Syekh Ibnu Atha'illah as-Sakandari, sang sufi penguasa hati, menusuk relung jiwa seperti pedang bermata dua: satu memotong ilusi ego, yang lain membuka pintu rahmat. Dalam hiruk-pikuk dunia yang memuja pengakuan, kalimat ini bukan sekadar nasihat, melainkan diagnosis filosofis mendalam atas penyakit riya'—penyakit yang meracuni ibadah hingga ke akarnya. Esai ini menggali kutipan tersebut dari lensa filosofis, sufistik, psikologis, dan sosial, mengungkap bagaimana riya' menghalangi ikhlas, sambil menawarkan jalan penyucian jiwa yang indah bagai taman surga.
Secara filosofis, kutipan Ibnu Atha'illah menggemakan dialektika eksistensialisme Islam yang menempatkan manusia di persimpangan hakikat dan citra. Filosof seperti Ibn Sina atau Al-Ghazali pernah merenungkan dualitas nafs: nafs ammarah yang haus pengakuan, versus nafs mutmainnah yang merendah di hadapan Yang Maha Esa. Keinginan memamerkan "keistimewaan"—entah ilmu, amal, atau karunia—adalah bukti ketidakjujuran ontologis. Manusia, sebagai makhluk ciptaan, sejatinya tak punya keistimewaan inheren; segala kelebihan hanyalah amanah Ilahi. Jika kita mendambakan sorotan publik, itu tandanya ego kita berbohong pada hakikat kodrati: kamilah hamba, bukan tuan. Ini mirip pemikiran Heidegger tentang "thrownness"—kita dilempar ke dunia, tapi lupa bahwa autentisitas lahir dari penyerahan, bukan pameran. Tanpa kesadaran ini, ibadah jadi teater absurd, di mana aktor utama justru korban sandiwara sendiri.
Dari sudut pandang sufistik, kutipan ini adalah inti Hikam Ibnu Atha'illah, kumpulan mutiara hikmah yang membersihkan hati dari tabir-tabir riya'. Sufisme mengajarkan tarekat maqam, di mana istiqomah dimulai dari ikhlas—ikhlas yang lahir dari fana' fi Allah, lenyapnya ego dalam kemuliaan-Nya. Riya' adalah syaitan halus yang menyamar sebagai dorongan mulia: "Bagaimana orang tahu kebaikanmu jika tak kau pamerkan?" Namun, Syekh Sakandari membaliknya: keinginan itu justru pengkhianatan terhadap ubudiyah. Dalam pengalaman para wali, seperti Rabi'ah al-Adawiyah yang berdoa, "Ya Allah, jika ibadahku karena takut neraka atau cinta surga, padamkanlah!" Ikhlas sejati tak butuh saksi selain Allah; ia bagai sungai bawah tanah yang menyirami bumi tanpa suara gemuruh. Sufi tahu, pameran keistimewaan adalah tanda hati yang masih terikat dunia, jauh dari ma'rifat ilahi yang tenang.
Dari lensa psikologisnya, fenomena ini selaras dengan teori Carl Jung tentang "persona" versus "shadow". Persona adalah topeng sosial yang kita pamerkan untuk pengakuan—keinginan agar "orang lain mengetahui keistimewaanmu". Ini akar dari gangguan narcisistik modern, di mana media sosial mempercepat riya' menjadi epidemi. Penelitian psikologi kontemporer, seperti studi Twenge tentang "Generasi Me", menunjukkan bahwa pencarian validasi eksternal melemahkan resiliensi internal, menciptakan siklus ketidakpuasan. Dalam perspektif Islam psikospiritual ala Ibnu Qayyim, riya' adalah bentuk ketakutan eksistensial: takut dilupakan, takut tak berharga. Ketidakjujuran ini muncul karena kita lupa ayat suci, "Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah" (QS. Al-An'am: 162). Terapi sejatinya adalah muhasabah: introspeksi harian yang menggantikan pencarian like dengan ridha Ilahi, membangun ego yang sehat berbasis tawadhu.
Aspek sosial tak kalah krusial di era hiperkonektivitas. Masyarakat kita, dari Jakarta hingga pelosok, tenggelam dalam budaya prestasi yang memuja influencer dan ulama selebriti. Riya' meresap dalam budaya "flexing" amal: posting shalat tahajud, infaq, atau hafalan Al-Qur'an demi like dan share. Ini bukan hanya individu; secara kolektif, ia merusak umat. Ibnu Atha'illah memperingatkan: keinginan agar "al-khalq" (ciptaan) tahu keistimewaanmu adalah bukti pengkhianatan sosial terhadap prinsip ukhuwah. Dalam masyarakat Islam ideal, amal saleh bagai pohon yang akarnya dalam bumi rahasia, buahnya dinikmati semua tanpa label. Namun, kapitalisme digital mengubah ibadah jadi komoditas, di mana ketidakjujuran ini memperlemah solidaritas. Solusinya? Komunitas sufistik yang menekankan zuhud sosial: beramal tanpa publisitas, membangun masyarakat di mana kebaikan mengalir diam-diam seperti hujan rahmat.
Kutipan ini bukan akhir, melainkan undangan. Ia menyeru kita mengubah riya' menjadi istighfar, keinginan pamer menjadi kerendahan hati. Bayangkan jiwa bagai burung phoenix: terbakar dalam api ego, bangkit dalam ikhlas murni. Dengan gaya hidup ini, kita tak hanya jujur pada ubudiyah, tapi juga menyuburkan dunia. Sebagaimana sungai Nile yang tak sombong atas banjirnya, demikianlah hamba sejati: diam, tapi memberi kehidupan.
0 Komentar