HATI TAK TERLIHAT, DUNIA TERLIHAT: DIALOG BATIN

 Oleh: Muhammad Yusuf

Esai ini saya tulis untuk mengolah kutipan Rumi menjadi sebuah renungan filosofis yang mendalam tentang paradoks hati dan mata, mengeksplorasi batas kesedihan manusia, visi ilahi, dan transformasi spiritual. Saya menyusunnya dengan gaya sedikit puitis. Tulisan ini terinspirasi oleh pernyataan Rumi, "Hati saya begitu kecil, hampir tak terlihat. Bagaimana Anda bisa menempatkan kesedihan besar di dalamnya? Dengar, Dia menjawab, Mata Anda lebih kecil, namun mereka melihat dunia." 

Kutipan Maulana Jalaluddin Rumi ini, seperti permata yang terpahat dalam Mathnawi, menusuk tajam ke pusat eksistensi manusia. Di balik kesederhanaan dialognya, tersembunyi paradoks mendalam: hati yang rapuh, kecil bagai debu, bagaimana mampu menampung lautan kesedihan? Jawaban Tuhan—suara yang bergema dari keheningan ruhani—mengalihkan pandang ke mata, organ yang lebih kecil lagi, tapi mampu merangkul seluruh kosmos. Ini bukan sekadar metafor; ini undangan filosofis untuk merangkul misteri jiwa, di mana keterbatasan menjadi gerbang ke yang tak terbatas.

Bayangkan hati sebagai gua sempit di lereng gunung. Manusia, dalam keputusasaannya, mengeluh: "Bagaimana gua ini bisa menampung badai samudra?" Rumi, sang pencinta yang haus akan Yang Maha Esa, menjawab melalui suara Ilahi: lihat matamu. Mata, titik hitam mungil di wajah, menembus tabir realitas. Ia menyaksikan fajar yang lahir dari kegelapan, bintang yang berjatuhan di langit malam, dan air mata yang mengalir dari dada pecah. Filosofi Rumi di sini tajam bagai pedang: ukuran fisik bukan ukuran kapasitas. Hati bukan wadah mati; ia ruang hidup yang mengembang oleh rahmat. Kesedihan besar—duka kehilangan, luka pengkhianatan, atau derita duniawi—bukan beban yang memampatkan, melainkan api yang membakar dinding gua, memperluasnya hingga menjadi samudra itu sendiri.

Dalam tradisi sufisme, hati (qalb) adalah locus theosis, tempat Tuhan bertakhta. Al-Ghazali, murid rohani Rumi, menyebutnya "cermin jiwa" yang bergetar antara kontraksi (qabd) dan ekspansi (bast). Saat kesedihan datang, hati mengalami qabd—rasa sempit, hampir lenyap. Tapi justru di situlah keajaiban: Tuhan menjawab, "Lihat matamu." Mata melambangkan basirah, penglihatan batin yang menembus zahir ke batin. Ia kecil, tapi melihat dunia—bukan dunia material semata, melainkan alam semesta makna. Seorang pecinta yang kehilangan kekasihnya melihat bukan hanya ketiadaan, tapi keabadian cinta yang melampaui jasad. Seorang nabi yang menyaksikan kehancuran kaumnya melihat bukan akhir, tapi permulaan rahmat baru. Paradoks ini mengajak kita bertanya: apakah kesedihan besar justru bukti hati telah dipilih untuk menyimpan yang agung?

Lebih dalam lagi, kutipan ini menusuk etika eksistensial. Di era modern, di mana kesedihan sering direduksi menjadi gangguan klinis—dibius obat atau distraksi digital—Rumi menawarkan jalan tajam: jangan tolak kesedihan, tapi biarkan ia mengembangkannya. Hati kecilmu, katanya, dirancang untuk itu. Mata yang melihat dunia mengingatkan kita pada ayat Al-Qur'an: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi... terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal" (QS. Al-Baqarah: 164). Penglihatan bukan pasif; ia aktif, menangkap hikmah di balik duka. Seorang ibu yang mengubur anaknya melihat dunia dengan mata baru: setiap hembusan angin menjadi doa, setiap senyum anak lain menjadi obat. Ini transformasi filosofis ala Rumi—dari ego sentral ke fana' dalam Tuhan. Hati yang kecil menjadi luas karena ia kosong dari "aku", penuh dengan "Dia".

Namun, keindahan gaya Rumi tak lepas dari ketajamannya yang menusuk dosa kelalaian. Banyak yang menutup mata, pura-pura hati besar cukup untuk dunia kecil mereka. Akibatnya, kesedihan membengkak tak terkendali, karena tak dilihat sebagai guru. Rumi berbisik: bukalah mata, lihat dunia sebagaimana adanya—penuh luka tapi juga cahaya. Di sufisme, ini samā', pendengaran batin yang menyatu dengan penglihatan. Hati mendengar jawaban Tuhan saat mata menyaksikan kebesaran-Nya. Paradoksnya indah: semakin kecil hati menyadari keterbatasannya, semakin besar ia menampung rahmat.

Akhirnya, kutipan ini adalah undangan abadi untuk perjalanan ruhani. Hati kecilmu mampu kesedihan besar karena mata kecilmu melihat dunia tak terbatas. Di balik duka, ada visi ilahi yang mengubah gua menjadi langit. Seperti Rumi yang menari dalam pusaran cinta, kita diajak menari dalam paradoks: kecil tapi melingkupi segala. Hanya dengan membuka mata—dan hati—kita temukan jawaban: Tuhan telah menempatkan dunia di dalam kita, agar kita pulang kepada-Nya.

Posting Komentar

0 Komentar