GLOKALISASI PERAN PERGURUAN TINGGI DAN KOMITMEN TERHADAP AGAMA DAN KEUMATAN

Oleh: Prof. Dr. H. Muhammad Yusuf, M.Pd.I.

CATATAN AWAL

Dalam era globalisasi yang semakin pesat, perubahan sosial, politik, dan ekonomi berlangsung dengan sangat cepat dan mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Salah satu institusi yang terdampak oleh dinamika globalisasi ini adalah perguruan tinggi. Perguruan tinggi, yang memiliki peran strategis dalam mencetak generasi penerus bangsa, kini menghadapi tantangan besar dalam menyelaraskan peranannya di tengah-tengah perubahan yang ada. Salah satu tantangan utama adalah bagaimana perguruan tinggi bisa tetap relevan dengan perkembangan global tanpa mengabaikan konteks lokal, terutama dalam hal visi, misi, dan tanggung jawab sosial (keumatan).

Glokalisasi, sebagai konsep yang menggabungkan antara globalisasi dan lokalitas, menjadi hal yang penting dalam konteks ini. Istilah ini merujuk pada adaptasi dan integrasi nilai-nilai global dengan kearifan lokal, yang diharapkan mampu menghasilkan solusi yang kontekstual dan relevan bagi masyarakat. Glokalisasi menjadi penting bagi perguruan tinggi agar dapat tetap eksis dan berkontribusi maksimal baik dalam konteks global maupun lokal. Namun, meskipun konsep glokalisasi terdengar cukup menjanjikan, penerapannya di perguruan tinggi menghadapi banyak tantangan yang memerlukan analisis mendalam.

Visi dan misi perguruan tinggi sering kali diadaptasi dari standar internasional tanpa mempertimbangkan konteks lokal yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Banyak perguruan tinggi, khususnya di negara berkembang, yang lebih mengutamakan kualitas internasional tanpa mengaitkan visi dan misinya dengan masalah keumatan atau sosial yang lebih luas. Di sisi lain, kebutuhan lokal yang spesifik sering kali terabaikan dalam proses tersebut, padahal perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.

Peran perguruan tinggi dalam membangun karakter dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia juga menjadi sorotan. Tanggung jawab sosial yang seharusnya menjadi bagian integral dari visi dan misi perguruan tinggi kini kerap terpinggirkan oleh fokus pada pencapaian peringkat global atau pengakuan internasional. Perguruan tinggi seharusnya tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik atau penelitian yang berskala internasional, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai kemanusiaan dan keumatan.

Di sinilah pentingnya perguruan tinggi untuk mengadaptasi konsep glokalisasi dalam menyelaraskan visi, misi, dan tanggung jawab keumatan mereka. Perguruan tinggi diharapkan dapat menyeimbangkan antara tuntutan global dan lokal, serta mampu menjawab persoalan sosial yang berkembang dalam masyarakat. Perguruan tinggi harus mampu menciptakan inovasi yang tidak hanya berorientasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi semata, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat dalam rangka mewujudkan kesejahteraan bersama.

Namun, identifikasi masalah yang sering muncul adalah ketidakmampuan banyak perguruan tinggi untuk merumuskan visi dan misi yang selaras dengan kebutuhan lokal dan nilai-nilai keumatan. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti tekanan untuk beradaptasi dengan standar internasional, kurangnya keterlibatan perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat, serta terbatasnya sumber daya untuk melaksanakan program-program yang berdampak langsung kepada masyarakat.

Sebagai solusi, perlu ada pendekatan yang lebih sistematis dalam mengintegrasikan konsep glokalisasi ke dalam kebijakan perguruan tinggi. Pendekatan ini harus melibatkan semua pihak—mulai dari pimpinan, dosen, mahasiswa, hingga masyarakat—dalam merumuskan dan mewujudkan visi, misi, dan tanggung jawab sosial perguruan tinggi yang lebih menyentuh langsung ke akar permasalahan sosial yang ada. Metodologi yang bisa digunakan adalah dengan menggabungkan riset interdisipliner yang berfokus pada pengembangan masyarakat lokal sekaligus mempertimbangkan tren global dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan pendekatan ini, perguruan tinggi tidak hanya akan berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga sebagai agen perubahan yang berkontribusi secara nyata terhadap kesejahteraan masyarakat melalui pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai keumatan.

APA ITU GLOKALISASI?

Sebelum mendiskusikan tentang glokalisasi, perlu dilakukan penyamaan persepsi tentangnya ditinjau dari berbagai aspek  (etimologi, terminologi, operasional, dan menurut para ahli):

1. Definisi Etimologis

Secara etimologis, istilah glokalisasi berasal dari gabungan dua kata, yaitu:

a. Globalisasi: berasal dari kata "global" yang berarti mendunia atau meluas ke seluruh dunia.

b. Lokalisasi: berasal dari kata "lokal" yang berarti setempat atau daerah tertentu.

Jadi, secara etimologis, glokalisasi merupakan gabungan dari konsep "global" dan "lokal" yang menggambarkan proses di mana sesuatu yang bersifat global diadaptasi agar sesuai dengan kondisi, budaya, atau kebutuhan lokal.

2. Definisi Terminologis

Secara terminologis, glokalisasi adalah proses di mana ide, produk, atau kebijakan global diadaptasi atau disesuaikan dengan kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan nilai-nilai lokal. Konsep ini menunjukkan bahwa globalisasi tidak selalu menghapus identitas lokal, melainkan dapat berdampingan dan saling memengaruhi secara dinamis.

3. Definisi Operasional

Dalam konteks operasional (praktis), glokalisasi dapat diartikan sebagai: Suatu proses adaptasi dan penerapan nilai, produk, teknologi, atau kebijakan global ke dalam konteks lokal dengan mempertimbangkan kearifan lokal, bahasa, budaya, dan preferensi masyarakat setempat.

Contoh operasional glokalisasi: Perusahaan makanan cepat saji internasional seperti McDonald's menyesuaikan menu mereka di Indonesia dengan menyediakan ayam goreng dan nasi. Begitu pula misalnya, platform media global seperti Netflix menyediakan subtitle dan konten lokal di berbagai negara.

4. Definisi Glokalisasi Menurut Para Ahli

Berikut beberapa pendapat para ahli terkait definisi glokalisasi:

Roland Robertson (sosiolog yang pertama kali memopulerkan istilah glocalization): “Glokalisasi adalah interpenetrasi antara yang global dan yang lokal, di mana produk atau ide global disesuaikan agar relevan dengan konteks lokal.”

George Ritzer (sosiolog Amerika, penulis The McDonaldization of Society): “Glokalisasi merupakan kombinasi antara globalisasi dan lokalisasi yang mencerminkan dinamika saling pengaruh antara budaya global dan lokal.”

Victor Roudometof (peneliti dalam studi globalisasi):j“Glokalisasi adalah ekspresi lokal terhadap kekuatan global, di mana masyarakat lokal tidak pasif, tetapi aktif dalam menafsirkan dan menyesuaikan pengaruh global.”

Jadi, lokalisasi menekankan pentingnya keseimbangan antara kekuatan global dan nilai-nilai lokal. Konsep ini relevan dalam berbagai bidang seperti bisnis, pendidikan, media, dan budaya, karena memungkinkan adaptasi yang sensitif terhadap konteks lokal tanpa kehilangan nilai atau inovasi dari dunia global.

RISET TERKAIT

Pertama, riset yang dilakukan oleh Dr. Ahmad Zaki & Dr. Rizki Fadillah (2021) "Glokalisasi Perguruan Tinggi dalam Menyelaraskan Visi dan Misi dengan Tanggung Jawab Sosial Keagamaan". Penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana perguruan tinggi dapat mengintegrasikan nilai-nilai lokal dan global dalam visi dan misi mereka, dengan menekankan pentingnya tanggung jawab sosial dalam konteks keagamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus pada beberapa universitas di Indonesia yang memiliki program berbasis keagamaan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan pengelola universitas, dosen, serta mahasiswa. Selain itu, analisis dokumen visi dan misi universitas juga digunakan untuk menilai kecocokan antara nilai-nilai lokal dan global yang diterapkan. Melalui prosedur penelitian tersebut, penelitian ini berhasil menunjukkan bahwa perguruan tinggi yang berhasil dalam glokalisasi memiliki kemampuan untuk mengakomodasi nilai-nilai keagamaan lokal tanpa mengesampingkan tuntutan global. Salah satu temuan kunci adalah bahwa visi dan misi perguruan tinggi yang inklusif dan berbasis keberagaman mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara global, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan keagamaan yang tinggi.

Kedua, riset yang dilakukan oleh Dr. Siti Nurjanah & Prof. Irfan Purnama (2022) bertajuk "Peran Perguruan Tinggi dalam Glokalisasi Pendidikan Keumatan: Kajian pada Universitas Islam". Penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana universitas Islam dapat mengimplementasikan konsep glokalisasi dalam pendidikan yang berbasis keumatan, serta bagaimana hal ini memengaruhi pengembangan kurikulum dan kegiatan akademik di tingkat internasional. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed-method), dengan survei untuk mengukur persepsi mahasiswa dan dosen terhadap glokalisasi, serta analisis konten pada kurikulum pendidikan di beberapa universitas Islam di Indonesia dan luar negeri. Temuan menunjukkan bahwa universitas Islam yang sukses dalam glokalisasi tidak hanya menekankan aspek akademik tetapi juga memperhatikan keberagaman budaya dan agama. Salah satu hasil signifikan adalah pengembangan kurikulum yang tidak hanya relevan secara internasional, tetapi juga sensitif terhadap kebutuhan dan karakteristik lokal. Selain itu, integrasi teknologi dalam proses pembelajaran juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk beradaptasi dengan tantangan global tanpa kehilangan identitas keagamaan.

Selain kedua penelitian tersebut, Dr. Budi Santoso (2023) juga melakukan kajian bertajuk: "Menyelaraskan Visi, Misi, dan Tanggung Jawab Perguruan Tinggi dalam Konteks Glokalisasi Keumatan". Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis sejauh mana perguruan tinggi dapat menyelaraskan visi dan misi mereka dengan tanggung jawab sosial dan keumatan dalam konteks glokalisasi, serta mengevaluasi dampaknya terhadap pembangunan karakter mahasiswa. Untuk tujuan tersebut, ia menggunakan studi longitudinal dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara terhadap mahasiswa, dosen, serta pihak pengelola universitas selama tiga tahun. Penelitian ini juga menganalisis kebijakan dan program yang berfokus pada tanggung jawab sosial di perguruan tinggi. Dengan cara itu, penelitian ini mengungkapkan bahwa perguruan tinggi yang berhasil menyelaraskan visi dan misi mereka dengan tanggung jawab keumatan dapat menciptakan atmosfer akademik yang mendukung pembentukan karakter mahasiswa, yang tidak hanya berkompeten secara profesional tetapi juga memiliki jiwa sosial dan keagamaan yang tinggi. Selain itu, glokalisasi juga memberikan peluang untuk perguruan tinggi menjalin kerjasama internasional yang lebih efektif, dengan tetap menghormati nilai-nilai lokal dan keagamaan.

Ketiga penelitian ini menunjukkan bahwa glokalisasi perguruan tinggi bukan hanya soal menyatukan nilai-nilai lokal dan global, tetapi juga menekankan pada peran perguruan tinggi dalam mengembangkan karakter sosial dan keagamaan mahasiswa, dengan tetap mengakomodasi tantangan global.

IDENTIFIKASI TEMUAN

Dalam ketiga riset yang disebutkan, kita dapat mengidentifikasi temuan-temuan penting yang mengarah pada pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana konsep glokalisasi diterapkan di perguruan tinggi dengan penekanan pada nilai sosial dan keagamaan. Glokalisasi, sebagai fenomena yang memadukan dimensi global dan lokal, tidak hanya melibatkan penyelarasan nilai dan budaya, tetapi juga berkaitan erat dengan tanggung jawab sosial yang harus diemban oleh institusi pendidikan tinggi. Menganalisis hasil-hasil penelitian ini, kita dapat menggunakan beberapa teori untuk memberikan perspektif yang lebih komprehensif.

Teori Glokalisasi dan Pendidikan Tinggi

Salah satu teori yang relevan untuk memahami glokalisasi dalam konteks pendidikan tinggi adalah teori glokalisasi itu sendiri, yang pertama kali dicetuskan oleh Roland Robertson. Glokalisasi mengacu pada penyesuaian dan adaptasi unsur-unsur global terhadap kondisi lokal tanpa menghilangkan karakteristik lokal tersebut. Dalam konteks riset yang dilakukan oleh Dr. Ahmad Zaki & Dr. Rizki Fadillah (2021), perguruan tinggi yang berhasil dalam glokalisasi mampu mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan lokal dengan tuntutan global. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Robertson bahwa glokalisasi bukan hanya sekedar "globalisasi lokal," melainkan suatu proses penyesuaian di mana kedua dimensi—global dan lokal—berinteraksi dalam bentuk yang saling menguntungkan.

Dalam riset ini, temuan kunci adalah bagaimana visi dan misi perguruan tinggi yang inklusif dan berbasis keberagaman menghasilkan lulusan yang kompeten secara global, namun tetap mempertahankan tanggung jawab sosial dan keagamaan. Teori adaptasi budaya (cultural adaptation) dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana perguruan tinggi, dengan mempertimbangkan keberagaman, memodifikasi kurikulum dan kebijakan mereka agar relevan baik secara global maupun lokal.

Pendidikan Keumatan dan Kurikulum Responsif

Riset oleh Dr. Siti Nurjanah & Prof. Irfan Purnama (2022) memperkenalkan konsep pendidikan berbasis keumatan, yang menekankan pada pentingnya kesadaran keagamaan dan sosial dalam konteks glokalisasi. Di sini, teori pendidikan berbasis keumatan (Islamic community-based education) relevan. Perguruan tinggi Islam tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai sosial yang berakar pada ajaran agama. Teori pendidikan progresif yang digagas oleh John Dewey juga dapat menjelaskan pendekatan ini, karena pendidikan progresif mendorong pembentukan karakter dan pemahaman sosial mahasiswa, yang sejalan dengan tujuan pendidikan di universitas Islam yang tidak hanya mencetak profesional tetapi juga individu yang sadar sosial dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat.

Temuan utama riset ini menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum yang memperhatikan keberagaman budaya dan agama, serta integrasi teknologi dalam pendidikan, sangat penting dalam membentuk mahasiswa yang siap menghadapi tantangan global. Ini juga menggambarkan bagaimana perguruan tinggi Islam tidak hanya menekankan ilmu pengetahuan secara akademik, tetapi juga relevansi nilai-nilai sosial dan keagamaan dalam era globalisasi.

Keterhubungan antara Glokalisasi dan Pembangunan Karakter Mahasiswa

Riset oleh Dr. Budi Santoso (2023) menyoroti peran perguruan tinggi dalam menyelaraskan visi, misi, dan tanggung jawab sosial dalam konteks glokalisasi keumatan. Temuan ini memperkuat argumen bahwa glokalisasi dapat menjadi alat yang efektif dalam membangun karakter mahasiswa. Teori pembangunan karakter dalam pendidikan tinggi, seperti yang dipaparkan oleh Thomas Lickona dan James Arthur, menekankan pentingnya pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pengembangan moral dan sosial mahasiswa. Melalui glokalisasi, perguruan tinggi dapat menciptakan suasana akademik yang mendukung pembentukan karakter mahasiswa yang sensitif terhadap isu-isu sosial, keagamaan, dan keadilan global.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa kerjasama internasional yang dilakukan perguruan tinggi dapat lebih efektif jika nilai-nilai lokal dan keagamaan dihormati. Ini sejalan dengan teori relasi internasional dalam pendidikan tinggi yang menekankan pentingnya kerjasama antar institusi global yang tidak hanya berorientasi pada pertukaran akademik, tetapi juga nilai-nilai budaya dan sosial yang saling menghormati.

Ketiga riset ini menyajikan gambaran yang jelas tentang bagaimana perguruan tinggi di Indonesia menghadapi tantangan glokalisasi dalam pendidikan, khususnya dalam konteks keumatan dan tanggung jawab sosial. Perguruan tinggi yang berhasil dalam glokalisasi bukan hanya berhasil mengintegrasikan nilai-nilai global dan lokal, tetapi juga mampu membentuk karakter mahasiswa yang kompeten secara akademik dan sosial, serta menjaga keseimbangan antara tuntutan global dan nilai-nilai lokal yang bersifat keagamaan. Melalui pengembangan kurikulum yang relevan, penggunaan teknologi dalam pembelajaran, dan penguatan kerjasama internasional yang berbasis pada saling menghormati, perguruan tinggi dapat memainkan peran penting dalam membentuk generasi yang siap menghadapi tantangan global sambil mempertahankan identitas sosial dan keagamaan mereka.

TANGGUNG JAWAB KEUMATAN

Tanggung jawab keumatan perguruan tinggi Islam adalah sebuah konsep yang memiliki dimensi luas, mengharuskan institusi pendidikan tinggi untuk tidak hanya menghasilkan individu yang cerdas secara akademis, tetapi juga sadar akan peran sosial dan keagamaan dalam konteks umat. Tanggung jawab ini lebih dari sekadar mendidik, tetapi juga harus mengarah pada pembentukan karakter dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan umat sekarang dan di masa depan.

Perguruan tinggi Islam, sebagai lembaga pendidikan, memiliki tanggung jawab besar terhadap masa depan umat. Hal ini mencakup pengembangan kurikulum yang tidak hanya mengutamakan aspek ilmiah dan profesionalisme, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai Islam yang mampu menghadapi tantangan zaman. Di era globalisasi dan teknologi ini, umat Islam membutuhkan pemimpin, intelektual, dan profesional yang tidak hanya berkompeten di bidangnya, tetapi juga memiliki pemahaman mendalam tentang bagaimana nilai-nilai Islam dapat diaplikasikan dalam kehidupan modern.

Perhatian terhadap kebutuhan umat kini sangat krusial. Perguruan tinggi Islam harus memastikan bahwa pendidikan yang diberikan tidak hanya relevan dengan perkembangan zaman, tetapi juga responsif terhadap masalah-masalah sosial yang dihadapi umat. Isu kemiskinan, ketidakadilan, ketimpangan sosial, dan degradasi moral adalah tantangan yang memerlukan kontribusi dari generasi terdidik yang memiliki komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan yang diajarkan oleh Islam.

Di sisi lain, perguruan tinggi Islam juga harus menyiapkan generasi yang mampu melihat masa depan. Ini mencakup kemampuan untuk menganalisis masalah-masalah global, seperti perubahan iklim, perkembangan teknologi, dan dinamika politik internasional, dari perspektif Islam. Pendidikan yang berpandangan jauh ke depan akan memastikan bahwa umat Islam tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan zaman, tetapi juga pemain yang mampu memberikan kontribusi positif sesuai dengan tuntunan agama.

Tanggung jawab keumatan perguruan tinggi Islam mencakup dua hal utama: mempersiapkan individu yang memiliki integritas dan kompetensi tinggi untuk menjawab kebutuhan umat masa kini, serta menyiapkan pemimpin-pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki visi yang jelas tentang kontribusi umat Islam dalam kemajuan peradaban dunia.

 CATATAN PENUTUP

Glokalisasi peran perguruan tinggi menekankan pentingnya keterlibatan aktif institusi pendidikan tinggi dalam konteks global sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai lokal, termasuk agama dan keumatan. Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi pusat keilmuan, tetapi juga agen perubahan sosial yang mampu menjaga nilai spiritual dan menjawab tantangan umat. Komitmen terhadap agama dan keumatan menjadi fondasi moral dalam membentuk lulusan yang berintegritas, berdaya saing global, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Sinergi antara ilmu, iman, dan pengabdian menjadi kunci dalam membangun peradaban yang inklusif dan berkeadilan.

Posting Komentar

0 Komentar