Oleh: Muhammad Yusuf
Tema ini sepintas, tampak dilematis. Bagaimana tidak? Hampir semua bantahan distigmakan sebagai bentuk sikap tidak sopan. Tulisan berikut saya kutip langsung dari logikafilsuf yang memberikan panduan langkah-langkah menuntun anak membantah dengan sopan.
Membantu anak mengungkapkan pendapat dengan cara yang sopan adalah keterampilan penting yang perlu diasah sejak dini. Kemampuan membantah atau mengemukakan argumen bukan hanya soal keberanian, tetapi juga tentang etika komunikasi dan penghormatan terhadap lawan bicara. Dengan pendekatan yang tepat, anak bisa belajar mengutarakan ketidaksetujuannya tanpa menyinggung perasaan orang lain.
Proses tersebut menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus membentuk kepribadian yang santun dan dewasa dalam berinteraksi. Melalui tips sederhana dalam tulisan ini, orang tua dan pendidik dapat membimbing anak agar mampu menyampaikan pendapat dengan baik dan bijak dalam berbagai situasi.
Tips Menuntun Anak Mampu Membantah dengan Sopan
"Anak yang tidak pernah membantah justru berbahaya. Ia tumbuh penurut, tetapi rapuh secara intelektual. Fakta menarik dari Harvard Graduate School of Education menunjukkan bahwa anak yang dilatih menyampaikan ketidaksetujuan secara sopan sejak kecil memiliki kemampuan negosiasi, empati, dan kontrol diri lebih kuat pada masa remaja. Jadi, keberanian membantah bukan masalah kurang ajar, melainkan tanda bahwa otaknya bekerja dan kepribadiannya berkembang.
Dalam kehidupan sehari hari, kita sering melihat anak memilih diam meski tidak setuju, atau sebaliknya langsung meledak tanpa arah. Ketika ditanya mengapa tidak mau mandi, ia mengatakan tidak tahu. Ketika tidak diberi sesuatu, ia marah sampai menangis. Di sinilah orang tua perlu mengajarkan jembatan antara pikiran dan kata kata. Bukan melarang bantahan, tetapi mengarahkan caranya. Karena kemampuan membantah dengan sopan membuat anak tumbuh percaya diri tanpa kehilangan rasa hormat.
Di pertengahan pembahasan ini, jika Anda ingin panduan yang lebih sistematis, berbasis riset, dan lengkap dengan contoh latihan harian, Anda bisa bergabung di konten eksklusif Logika Filsuf. Di sana kemampuan berpikir anak dibahas dengan kedalaman yang tidak ada di tempat lain.
Berikut tujuh cara melatih anak agar mampu membantah dengan sopan.
1. Mengajak Anak Menyebutkan Alasan dengan Kalimat yang Tenang
Anak sering membantah karena emosinya lebih cepat dari bahasanya. Ajak ia memulai dengan kalimat sederhana, misalnya aku tidak setuju karena atau menurut aku. Misalnya saat ia diminta berhenti bermain, tetapi ia masih ingin melanjutkan, ia bisa mengatakan aku ingin lima menit lagi karena masih ingin menyelesaikan ini. Ketika ia menyebutkan alasannya, emosi yang bergejolak mulai tersusun menjadi logika.
Dalam situasi lain, ketika anak menolak makan sayur, minta ia menjelaskan dengan kata kata mengapa ia menolak. Dari sini ia belajar bahwa bantahan bukan teriakan, tetapi penjelasan. Semakin tenang ia berbicara, semakin mudah ia didengar.
2. Mengajarkan Anak Menggunakan Kata Ganti yang Tidak Menyerang
Bantahan sering berubah menjadi pertengkaran karena anak memakai kata yang menuduh. Misalnya kamu selalu, kamu tidak pernah, atau aku benci. Ajak ia menggunakan ungkapan yang berfokus pada dirinya seperti aku merasa atau aku berharap. Ini membuat bantahannya terdengar lebih manusiawi dan tidak memicu konflik.
Contoh situasinya, jika ia merasa aturan tidur terlalu cepat, ia bisa mengatakan aku merasa belum mengantuk dan butuh waktu sebentar. Dengan begitu orang tua bisa menanggapi tanpa defensif. Pelan pelan anak menyadari bahwa cara bicara menentukan arah pembicaraan.
3. Mengajak Anak Menahan Diri Dua Detik Sebelum Menjawab
Bantahan yang terburu buru hampir selalu kasar. Latih anak berhenti sejenak sebelum menanggapi instruksi atau kritik. Dua detik saja cukup untuk menurunkan tensi emosinya. Misalnya ketika ia ditegur karena terlalu berisik, ia biasanya langsung memprotes. Namun saat sudah terbiasa jeda, ia lebih mampu memilih kata yang membuat percakapan tetap sehat.
Latihan ini bisa dipakai saat berselisih dengan teman. Ketika ia berhenti sejenak, ia tidak serta merta melawan, tetapi memikirkan cara menjelaskan posisinya. Dari sini ia belajar bahwa berpikir sebentar menghasilkan ucapan yang lebih bermartabat.
4. Mengajak Anak Menawarkan Alternatif, Bukan Hanya Menolak
Bantahan yang dewasa selalu menyertakan opsi pengganti. Anak bisa dilatih mengatakan aku tidak setuju, bagaimana kalau atau aku mau, tapi bisakah. Misalnya saat ia tidak ingin mengerjakan PR sekarang, ia bisa menawarkan aku kerjakan jam lima, bukan sekarang. Ini melatih anak menggabungkan keberanian menyampaikan pendapat dengan tanggung jawab terhadap pilihannya.
Dalam kehidupan sehari hari, Anda bisa melatihnya saat ia tidak suka makanan tertentu. Ajak ia menawarkan pilihan lain yang tetap sehat. Dari sini ia belajar bahwa bantahan bukanlah tembok, tetapi ajakan berpikir bersama.
5. Mengajak Anak Mendengarkan Balasan Sebelum Menjawab Lagi
Kemampuan membantah yang sopan juga berarti siap menanggapi balasan. Ajak anak mendengarkan apa yang Anda katakan setelah ia mengemukakan pendapatnya. Misalnya ketika ia mengatakan ingin tidur lebih larut, dan Anda menjelaskan alasannya tidak bisa, ia belajar menerima argumentasi sebelum mempertahankan pendapat.
Dalam kasus lain, saat ia berselisih dengan temannya, ia belajar mendengarkan sisi lawan sebelum menyimpulkan. Ini membentuk pola komunikasi dua arah yang membuat bantahannya semakin matang, bukan keras.
6. Mengajarkan Anak Mengakui Bagian yang Benar dari Lawan Bicara
Bantahan paling sopan adalah ketika anak mengakui sebagian lawan bicara benar sebelum menyampaikan ketidaksetujuannya. Contohnya aku paham maksud ibu, tapi menurut aku atau benar juga yang ayah bilang, tapi boleh aku jelaskan dari sisiku. Teknik ini mengurangi ketegangan dan menunjukkan kemampuan berpikir yang lebih terstruktur.
Ketika berinteraksi dengan teman, anak juga bisa memakai teknik yang sama. Ia bisa mengatakan aku ngerti kamu marah, tapi aku juga ingin bilang sesuatu. Ini mengajarinya bahwa mengakui kebenaran orang lain tidak mengurangi kekuatan pendapatnya.
7. Mengajak Anak Merangkum Apa yang Ia Pahami Setelah Diskusi
Setelah perbedaan pendapat selesai, ajak anak menyimpulkan dengan kalimat singkat seperti jadi tadi kita sepakat bahwa atau jadi aku mengerti bahwa. Ini membuat anak memahami bahwa membantah bukan hanya proses menolak, tetapi bagian dari komunikasi yang membentuk pengertian bersama.
Dalam kehidupan sehari hari, setelah ia mengajukan bantahan yang sopan, Anda bisa bertanya apa yang ia pelajari dari percakapan itu. Ketika ia mampu menjelaskan ulang dengan tenang, berarti ia sedang membangun kerangka berpikir yang kuat untuk masa depannya.
Mengajarkan anak membantah dengan sopan bukan hanya tentang etika komunikasi, tetapi tentang membentuk keberanian intelektual tanpa kehilangan rasa hormat.
Jika tulisan ini bermanfaat, tinggalkan pendapatmu di kolom komentar dan bagikan agar semakin banyak orang tua memahami seni membimbing anak berpikir dengan jernih dan berani".
0 Komentar