GLOKALISASI PERGURUAN TINGGI BERWAWASAN EKOTEOLOGI

Penulis: Prof. Dr. H. Muhammad Yusuf, S.Ag., M.Pd.I.

Prolog

Dalam era globalisasi yang terus berkembang, perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi agen perubahan sosial, budaya, dan ekologis. Fenomena glokalisasi—yakni integrasi antara perspektif global dan kearifan lokal—mendorong institusi pendidikan tinggi untuk merumuskan ulang perannya dalam membangun masa depan yang berkelanjutan dan berkeadilan. Dalam konteks ini, penting bagi perguruan tinggi untuk mengadopsi pendekatan yang tidak hanya bersifat multidisipliner, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai etis dan spiritual.

Salah satu pendekatan yang relevan dan mendesak untuk dikembangkan adalah ekoteologi, yakni suatu pandangan teologis yang menempatkan keutuhan ciptaan sebagai panggilan iman dan tanggung jawab manusia dalam merawat bumi. Ekoteologi mendorong kesadaran bahwa krisis lingkungan bukan sekadar masalah teknis atau kebijakan, melainkan cerminan dari krisis spiritual dan moral yang lebih dalam. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai ekoteologi dalam pendidikan tinggi, kampus dapat menjadi ruang refleksi sekaligus aksi nyata dalam membentuk generasi yang peka terhadap isu-isu keadilan ekologis, sosial, dan spiritual.

Glokalisasi Perguruan Tinggi Berwawasan Ekoteologi adalah upaya untuk membangun jembatan antara konteks global yang dinamis dan realitas lokal yang kaya akan nilai-nilai kultural dan spiritual. Ini bukan sekadar strategi akademik, melainkan komitmen untuk menciptakan tata dunia yang lebih harmonis, adil, dan berkelanjutan.

Melalui penguatan visi ini, perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga arif dalam bertindak, bijaksana dalam berpikir, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sesama makhluk hidup. Inilah saatnya perguruan tinggi melampaui sekat-sekat disipliner dan ideologis, serta menghadirkan wajah pendidikan yang menyentuh dimensi terdalam kemanusiaan dan keberlangsungan ciptaan.

Pengertian 

Glokalisasi Perguruan Tinggi Berwawasan Ekoteologi adalah proses adaptasi dan integrasi nilai-nilai global dan lokal dalam sistem pendidikan tinggi dengan mengedepankan kesadaran ekologis dan spiritualitas teologis. Konsep ini menggabungkan dua pendekatan utama: glokalisasi dan ekoteologi.

Glokalisasi merupakan gabungan dari "globalisasi" dan "lokalisasi", yakni kemampuan institusi pendidikan tinggi untuk berperan dalam arus global sambil tetap mempertahankan kearifan lokal. Dalam konteks ini, perguruan tinggi dituntut mampu mengembangkan kurikulum, riset, dan pengabdian masyarakat yang relevan secara global namun berakar pada budaya lokal.

Sementara itu, ekoteologi adalah cabang teologi yang menyoroti relasi antara manusia, alam, dan Tuhan. Dalam pendidikan tinggi, pendekatan ekoteologis mendorong tumbuhnya kesadaran ekologis berbasis nilai spiritual dan etika religius, yang menekankan tanggung jawab moral terhadap keberlanjutan bumi.

Dengan menggabungkan dua konsep tersebut, glokalisasi perguruan tinggi berwawasan ekoteologi menekankan pentingnya inovasi pendidikan yang:

1. Kontekstual – sesuai kebutuhan lokal.

2.!Inklusif – terbuka pada nilai-nilai global.

3. Berkelanjutan – mendukung kelestarian lingkungan.

4. Transformatif – mendorong perubahan sosial berbasis iman dan kepedulian ekologis.

Perguruan tinggi diharapkan menjadi agen perubahan yang tidak hanya menghasilkan lulusan kompeten secara intelektual, tetapi juga peduli lingkungan dan berlandaskan nilai-nilai spiritualitas lintas agama. Dengan demikian, glokalisasi berwawasan ekoteologi dapat menciptakan peradaban yang adil, berkelanjutan, dan bermakna.

Uraian

Globalisasi telah merambah berbagai tatanan, termasuk pendidikan tinggi. Perguruan tinggi sebagai pusat penciptaan ilmu dan pembentukan karakter merefleksikan dinamika global—baik peluang maupun tantangan. Di sisi lain, ekoteologi—yang mengintegrasikan perspektif ekologi (ilmu lingkungan) dan teologi (ajaran spiritual/agama)—menawarkan kerangka pemikiran menyeluruh bagi perguruan tinggi modern. Dalam konteks ini, “Perguruan Tinggi Berwawasan Ekoteologi” merupakan entitas pendidikan yang berakar pada pengakuan teologis terhadap ciptaan dan tanggung jawab ekologis, berpadu dengan pendekatan ilmiah dalam menghadapi krisis lingkungan.

Dari perspektif Islam, kewajiban menjaga alam dan ciptaan merupakan amanah Ilahi—“manusia sebagai khalifah”—yang menuntut keseimbangan dan tanggung jawab ekologis. Sementara Sains memberikan perangkat metodologis dan empiris untuk memahami lingkungan, merumuskan solusi, dan melakukan inovasi teknologi berkelanjutan. Maka, integrasi keduanya membuka jalan bagi perguruan tinggi modern yang tidak hanya mencetak intelektual, tetapi juga pembelajar ekologis-teologis yang bertanggung jawab terhadap masa depan planet.

1. Konteks Globalisasi Perguruan Tinggi

Globalisasi perguruan tinggi ditandai oleh berbagai fenomena:

Pertama, internasionalisasi kurikulum dan penelitian: pertukaran mahasiswa, kolaborasi riset lintas negara. Kedua, standarisasi global: ranking dunia (Times Higher Education, QS), akreditasi global. Ketiga, komersialisasi pendidikan: perguruan tinggi sebagai entitas pasar—pendidikan sebagai produk.

Selain menciptakan akses intelektual global, globalisasi membawa risiko homogenisasi nilai, pengabaian nilai lokal/kultural, dan tekanan untuk produktivitas ilmiah tanpa memperhatikan etika ekologis. Perguruan tinggi pun bisa kehilangan dimensi reflektif spiritualif dan tanggung jawab moral terhadap lingkungan.

2. Ekoteologi: Integrasi Teologi & Ekologi

Ekoteologi merupakan pendekatan kajian yang melihat hubungan teologis antara Tuhan, manusia, alam, dan ekosistem. Dalam konteks pendidikan tinggi, pandangan ekoteologis menegaskan:

Pertama, hakikat alam sebagai amanah, bukan milik eksploitatif. Kedua, kesucian ciptaan, yang harus dihormati, dijaga, dan dilestarikan. Ketiga, persoalan lingkungan bukan semata-mata teknis, tetapi terlebih etis dan spiritual.

Dalam Islam, pendekatan ini telah menemukan pijakan kuat, misalnya dalam konsep “khalifah” (pemimpin yang menjaga bumi), “mizan” (keseimbangan), dan larangan terhadap “israf” (boros, merusak). Al-Qur’an dan hadis menekankan pentingnya menjaga lingkungan dan keadilan ekosistem.

3. Perspektif Islam

Dari perspektif Islam, berbagai prinsip bermanfaat bagi pengembangan perguruan tinggi berwawasan ekoteologi:

Pertama, tauhid (ke-Esa-an Tuhan): menumbuhkan kesadaran bahwa alam adalah ciptaan-Nya dan seluruh kehidupan memiliki nilai Tuhan. Menumbuhkan sikap religius dalam relasi manusia-alam. Kedua, khalifah dan Amanah: manusia punya tanggung jawab menjaga bumi—melibatkan sikap ilmiah dan spiritual. Kurikulum semestinya menanamkan kesadaran ekologis sebagai nilai ajaran agama. Ketiga, mizan dan Tawazun: keselarasan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam. Pengembangan kampus ramah lingkungan (green campus), riset teknologi bersih, dan manajemen sumber daya secara adil. Keempat, larangan Israf dan tabdzir: mendesak efisiensi sumber daya dalam operasional kampus, penggunaan energi terbarukan, daur ulang, serta promosi gaya hidup sederhana bagi sivitas akademika. Kelima, ijtihad ekologis: penerapan pemikiran fiqh dan jurisprudensi Islam kontemporer terhadap isu lingkungan—misalnya pembatasan penggunaan plastik, perlindungan satwa, konservasi air—dengan pendekatan ilmiah modern.

4. Perspektif Sains

Sains memberikan pendekatan kuantitatif dan met ooodologis untuk menangani persoalan lingkungan di kampus:

Pertama, penelitian ilmiah: monitoring kualitas udara, air, tanah; studi keanekaragaman hayati; analisis siklus karbon. Kedua, teknologi hijau: penggunaan panel surya, energi biomassa, pengolahan limbah organik (komposting), sistem irigasi efisien—teknologi terbukti mendukung kampus berkelanjutan. Ketiga, pengajaran dan kurikulum STEM hijau: mengintegrasikan riset lingkungan dan teknologi dalam berbagai disiplin, serta menghasilkan lulusan mampu merumuskan solusi berbasis data.

Selain itu, yang ketiga yaitu kolaborasi interdisipliner: menyatukan ekologi, teknik, ekonomi, manajemen untuk menghasilkan sistem kampus lestari secara menyeluruh. Terakhir, tertifikasi dan standar lingkungan: seperti ISO 14001, LEED—alat validasi dan arah strategi kampus.

5. Integrasi Islam dan Sains: Perguruan Tinggi Berwawasan Ekoteologi

Bagaimana mengawinkan Islam dan Sains dalam konteks kampus yang menghadapi arus globalisasi?

5.1 Kurikulum dan Pendidikan

Pembelajaran lintas-disiplin: mata kuliah seperti “Etika Lingkungan Islam”, “Teknologi Hijau dan Sustainability”, “Fikih Lingkungan dan Ijtihad Modern”. 

Refleksi religio-sozial: diskusi tentang peran manusia sebagai khalifah; etika ekologis dalam Islam; tanggung jawab moral antar generasi.

5.2 Riset dan Inovasi

Riset komparatif: misalnya membandingkan efektivitas strategi konservasi berdasarkan prinsip Islam dan hasil ilmiah terbaru.

Inovasi hijau beretika: menggunakan metode ilmiah sekaligus mempertimbangkan ethics dan maqasid al-shariah (tujuan syariah)—seperti menjaga lingkungan sebagai bagian dari maqasid hifz al-bi’ah (pelestarian lingkungan).

5.3 Implementasi Kampus Ramah Lingkungan

Membuat kampus “green-campus”: memanfaatkan energi terbarukan, efisiensi air, penghijauan area, manajemen limbah berbasiskan prinsip kesederhanaan Islam.

Kegiatan belajar lapangan religius-ekologis: misalnya kunjungan ke hutan restorasi, edukasi masyarakat tentang pengelolaan intensif agro-hidroponik dan penanaman pohon secara religius.

5.4 Internal Pengelolaan

Kebijakan internal kampus didasarkan pada israf-free policy: air dan energi hemat, paperless administration, kantin vegetarian/halal, dan sistem transportasi hijau.

Pendekatan majemuk (holistic): kombinasi audit lingkungan ilmiah dan pengawasan sesuai etik Islam—menyediakan Dewan Lingkungan Islam & Ilmiah (DLII) sebagai badan internal.

5.5 Jejaring Global–Local (Global-Local Nexus)

Melalui globalisasi, kampus dapat terlibat dalam konsorsium internasional sustainability, sambil tetap mengangkat nilai khas Islam-ekoteologi.

Pertukaran mahasiswa dan peneliti harus dilandasi kesadaran ekoteologis agar tidak sekadar “akreditasi global” tapi juga transfer nilai ekologis-spiritual.

6. Kritik dan Tantangan Kritis

Beberapa tantangan penting perlu dicermati:

Isomorfisme Global: tekanan ranking global mendorong kampus mengikuti model barat tanpa mempertimbangkan konteks budaya-teologi lokal—mengikis identitas Islam dan fokus ekologis.

Fragilisasi Ilmiah vs Spiritual: fokus berlebihan pada publikasi ilmiah terindeks dunia (Scopus/WoS) bisa mengorbankan pengembangan nilai-nilai teologis dan implementasi sosial-ekologis.

Greenwashing: kampus menyatakan “hijau” semata-mata untuk citra global—tanpa aksi riil, tanpa integrasi kajian Islam.

Kesulitan Integrasi Disiplin: rintangan birokrasi, tendensi silo akademik—membuat pendidikan ekoteologis hanya di permukaan, bukan integrasi mendalam.

Pendanaan: riset hijau dan program integratif mungkin mahal; tanpa kesadaran ekologis-spiritual, sumber dana bisa dialihkan ke riset normatif atau promosi ranking.

Kurikulum yang Tersekat: banyak fakultas teologi dan sains berjalan sendiri-sendiri—kurangnya pengajaran lintas bidang (ekoteologi sebagai “tambahan”, bukan inti).

7. Rekomendasi Strategis

Untuk mengatasi tantangan, beberapa rekomendasi penting:

Penataan visi misi kampus: secara eksplisit menyebutkan tanggung jawab ekoteologis; menjadi landasan seluruh kebijakan akademik dan operasional.

Pembentukan unit integrasi: seperti “Pusat Ekoteologi dan Sustainability Islam”, yang mengoordinasi lintas fakultas, riset, dan kegiatan kampus.

Kurikulum modular: mencakup “Islam dan Lingkungan”, “Sains dan Teknologi Berkelanjutan”, serta program antar-disiplin wajib untuk semua mahasiswa.

Dukungan pendanaan khusus: hibah riset hijau, wakaf lingkungan, CSR dari perusahaan dengan syarat implementasi berdasarkan prinsip Islam dan sains.

Monitoring dan evaluasi: audit lingkungan berkala (indikator ilmiah) + audit nilai (kesesuaian dengan prinsip Islam).

Jejaring global inklusif: kampus islam memimpin dalam forum global sustainability dengan perspektif teologis—menantang hegemoni Barat dalam standar pendidikan tinggi.

Pelibatan masyarakat: melibatkan komunitas Islam dan masyarakat lokal dalam praktik ekologis—menjembatani kampus dengan kehidupan nyata.

Penutup

Globalisasi Perguruan Tinggi Berwawasan Ekoteologi dari perspektif Islam dan Sains membuka peluang transformatif: kampus tak hanya jadi pusat intelektual, tapi juga pusat pembaharuan ekologis dan spiritual. Integrasi tauhid, khalifah, mizan, dan israf dari Islam dengan metodologi, teknologi, dan data ilmiah dari Sains merumuskan pendidikan tinggi yang berdaya, kontekstual, dan bertanggung jawab global. Namun, tantangan besar seperti tekanan ranking, fragmentasi disiplin, dan potensi “greenwashing” harus diatasi dengan strategi kebijakan, struktur organisasi, dan pendanaan inovatif yang menjunjung nilai-nilai ekoteologi. Jika dijalankan dengan serius, perguruan tinggi bisa menjadi agen perubahan—mencetak generasi intelektual yang seimbang: ilmiah, ekologis, dan spiritual.

Posting Komentar

0 Komentar