Oleh: Muhamad Yusuf
Dalam hiruk-pikuk dunia yang tak adil, manusia sering menuntut keadilan dari tangan fana. Banyak orang berteriak mencari dan menuntut keadilan, tetapi institusi pengadilan tidak selalu dapat memproduksi keadilan. Bahkan, pihak penegak hukum berubah menjadi pihak yang memfasilitasi lahirnya ketidakadilan. Itu sebabnya, ada yang pelesetkan bahwa HAKIM sebagai akronim dari "Hubungi Aku Kalau Ingin Menang". Itulah faktanya, (tentu tidak semua hakim demikian). Tapi, bukan ini yang saya ingin komentari di sini.
Keadilan yang saya maksud adalah keadilan dalam konteks pengalaman hidup setiap individu dalam hidupnya khusunya di luar institusi pengadilan. Ada kutipan bijak dari Maulana Rumi yang mengatakan, "Jangan meminta dunia bersikap adil padamu. Mintalah kepada Allah menunjukkan hikmah di balik semua yang terjadi padamu". Beliau mengajak beralih ke introspeksi sufistik. Ia undangan filosofis untuk merangkul misteri ilahi, di mana cobaan menyimpan hikmah tersembunyi. Esai ini menyelami maknanya dengan nuansa sufistik, filosofis, psikologis, dan sosial.
***
Kutipan tersebut bergema tasawuf Rumi dan Al-Ghazali: dunia semu, bukan sumber keadilan. "Jangan meminta dunia bersikap adil" adalah pembebasan dari materialisme, sesuai QS. Al-Ankabut: 2 tentang ujian iman. Hikmah cobaan buka pintu ma'rifatullah. Logika sufistik: dunia tak sempurna, tuntutlah Yang Maha Bijaksana. Seperti burung terperangkap, patah sayap ajarkan sabr dan tawakkul. Kritik sekuler: keadilan Rawls gagal jawab penderitaan; sufisme tawarkan hikmah transenden.
Dari perspektif filosofis, kutipan tantang ilusi keadilan absolut, ala Leibniz: setiap kejahatan simpan kebaikan lebih besar. Premis Aristotelian: dunia fana tak sempurna, kesempurnaan pada Pencipta. Kritik humanisme: salahkan sistem, abaikan hikmah pribadi. Stoik Epictetus: bukan peristiwa, tapi pandangan. Dialektika Hegel: ketidakadilan bertemu hikmah lahirkan transformasi. Hikmah seperti cahaya Ibn Arabi, ubah racun jadi nektar.
Dari lensa psikologis, selaras Frankl: makna di balik penderitaan. "Mintalah hikmah" reframing CBT: dari "mengapa?" ke "hikmah apa?" Seligman: post-traumatic growth bangun resiliensi. Kritik victimhood: learned helplessness via medsos. Otak cari pola; hikmah penuhi secara spiritual. Contoh: kehilangan pekerjaan jadi panggilan baru, capai eudaimonia. Sufistik: fana' ego menuju baqa', sembuhkan neurosis Kierkegaard.Implikasi Sosial: Harmoni Kolektif via Hikmah
Dari implikasi sosial, kritis tuntutan distributif di Indonesia pasca-reformasi. Jika semua cari hikmah, konflik reda; usul fiqh: ihsan sosial. Kritik aktivisme zero-sum; veil of ignorance ala Rawls ditabiri ilahi. Seperti sungai lewati batu, hikmah alirkan harmoni. Muhammadiyah bukti: tawakal bangun kohesi. Integrasi: sufisme bersihkan hati, filsafat latih akal, psikologi bangun ketahanan, sosial cipta keadilan organik. Tanpa hikmah, ideologi kosong.
***
Kutipan ini awal perjalanan kedamaian batin, lepas dari belenggu dunia. Rangkul hikmah ilahi, tiap cobaan jadi tangga rohani. Inspirasi ini harap dorong munajat tulus, cipta transformasi pribadi dan sosial. Wallahu a'lam bish-shawab.
0 Komentar