DI BALIK SEBUAH MUSIBAH ADA RAHMAT
25/1/2021
Oleh Muhammad Yusuf, Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar
Ada sebagian orang bijak (Arif) berkata, musibah dan nikmat adalah ujian. Jangan takut diuji. Yang perlu dirisaukan adalah jangan sampai jawabannya keliru (salah). Bagi orang yang beriman, musibah itu mahal nilainya. Musibah itu datang dengan aneka tujuan, akan terlihat pula aneka sikap hamba Allah dalam menerima musibah itu. Ada yang berkeluh-kesah, sabar, berprasangka baik, berprasangka buruk, dll.
1. Musibah itu undangan Allah agar hamba-Nya mendekat kepada-Nya
Ketika diuji dengan nikmat, banyak yang gagal menjadi hamba yang bersyikur. Maka, Allah mengubah soalnya dari nikmat menjadi musibah. Sikap terbaik seorang yang beriman adalah mengusahakan keduanya sebagai jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Hal itu sejalan dengan pandangan Ibnu Taimiyah yang mengatakan,
Ù…ُصِيبَØ©ٌ تقبل بِها عَلى اللهِ عَزَّ ÙˆَجَÙ„َّ Ø®َيرُ Ù„َÙƒَ Ù…ِÙ† Ù†ِعمَØ© تُنسِيكَ ذكر الله عَزَّ ÙˆَجَÙ„َّ
Maknanya: “Musibah yang mendekatkanmu kepada Allah ‘Azza wa Jalla lebih baik daripada nikmat yang membuatmu lupa dari mengingat Allah ‘Azza wa Jalla.” (Lihat Jami’ul Masa’il).
2. Dengan musibah, ketergantungan kepada-Nya menjadi sempurna
Terkadang dengan ditimpa suatu musibah, seseorang akan menyadari bahwa tidak ada yang mampu mengangkat musibah itu kecuali Allah. Sehingga, dia pun kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Ini lebih baik keadaannya dibandingkan seseorang yang mendapat banyak kenikmatan, tetapi semakin lalai dan jauh dari Allah karenanya. "Allahush Shamad", Allah - satu-satunya tempat bergantung. Namun, bagaimanapun seorang beriman hendaknya terus mengingat-ingat dosanya, memohon ampun pada Tuhannya, tanpa harus menunggu musibah menimpa. Dengan musibah, kesombongan terhapus, sehingga dosa kesombongan pun terhapus. Bukankah orang tertimpa lebih intensif memohon kepada Allah?
3. Mungkin Allah mencintai hamba-hamba-Nya..
Pada hakikatnya ujian mencerminkan kasih sayang dan keadilan Allah Swt. pada hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah Swt. 'tidak rela' menimpakan azab yang tidak terperi sakitnya di akhirat kelak, hingga Ia menggantinya dengan azab dunia yang 'sangat ringan'. Dalam perspektif seperti ini, musibah berfungsi sebagai penggugur dosa-dosa.
Jadi, semakin Allah cinta pada seseorang, maka ujian yang diberikan padanya bisa semakin berat. Karena ujian tersebut akan semakin menaikkan derajat dan kemuliaannya di hadapan Allah. Orang yang paling dicintai Allah adalah para Nabi dan Rasul. Mereka adalah orang yang paling berat menerima ujian semasa hidupnya.
Ujian mereka sangat berat melebihi ujian yang diberikan kepada manusia lainnya. Contohnya Nabi Ayub AS. Allah Swt. mengujinya dengan kemiskinan dan penyakit yang sangat berat selama berpuluh-puluh tahun, tapi ia tetap sabar.
4. Allah hendak Mengangkat Derajat Hamba-Hamba-Nya
Setelah para Nabi dan Rasul, orang yang ujiannya sangat berat adalah para shalihin dan para ulama. Demikianlah secara berurutan, hingga Allah Swt. menimpakan ujian yang ringan kepada orang-orang awam, termasuk kita di dalamnya. Yang pasti, ketika setelah seseorang mengikrarkan diri beriman, maka Allah akan menyiapkan ujian baginya.
Dalam Alquran janji Allah, ''Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, lantas tidak diuji lagi? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta'' (QS Al Ankabut: 2-3).
Redaksi kalimat tanya seperti itu disebut istifham inkariy, yaitu pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Pertanyaan yang berfungsi untuk menegasikan bahwa tidak ada orang yang beriman yang tidak diuji imannya. Sebab Allah hendak menakar kualitas imannya.
5. Allah Meringankan Hukuman di Akhirat
Jika Allah menghendaki keringanan pada hamba-hamba-Nya di akhirat maka Allah menyegerakan azab agar hamba-hamba-Nya di dunia. Hal ini sejalan dengan hadis: "Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia menyegerakan hukuman di dunia. Jika Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, maka Dia menahan hukuman kesalahannya sampai disempurnakannya pada hari Kiamat'' (HR Imam Ahmad, At Turmidzi, Hakim, Ath Thabrani, dan Baihaqi).
Suatu ketika seorang laki-laki bertemu dengan seorang wanita yang disangkanya pelacur. Dengan usil, lelaki itu menggoda si wanita sampai-sampai tangannya menyentuh tubuhnya. Atas perlakuan itu, si wanita pun marah. Lantaran terkejut, lelaki itu balik menoleh ke belakang, hingga mukanya terbentur tembok dan ia pun terluka. Pascakejadian, lelaki usil itu pergi menemui Rasulullah dan menceritakan pengalaman yang baru saja dialaminya. Rasulullah Saw. berkomentar, ''Engkau seorang yang masih dikehendaki oleh Allah menjadi baik''. Setelah itu, Rasul mengucapkan hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mughaffal.
Dalam riwayat At Turmidzi, hadis itu disempurnakan dengan lafadz sebagai berikut, ''Dan sesungguhnya Allah, jika Dia mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Jika mereka ridha, maka Allah ridha kepadanya. Jika mereka benci, Allah membencinya''.
Kecintaan Allah kepada hamba-Nya di dunia tidak selalu diwujudkan dalam bentuk pemberian materi atau kenikmatan lainnya. Kecintaan Allah bisa berbentuk musibah. Musibah yang ditimpakan Allah kepada manusia dapat dilihat dari empat perspektif. Yang pertama, sebagai ujian dari Allah. Kedua, sebagai tadzkirah atau peringatan dari Allah kepada manusia atas dasar sifat Rahman-Nya. Ketiga, sebagai azab bagi orang-orang fasiqin, munafiqin, ataupun kafirin. Kalau ia menemui kematian dalam musibah tersebut, maka ia mati dalam keadaan tidak diridhai Allah. Tujuan yang terakhir ini pernah ditimpakan kepada kaum para nabi terdahulu. Seperti kaum Nabi Musa (Fir'aun, Jaman, Qarun), kaum Nabi Luth as, kaum Nabi Nuh as kaum Nabi Saleh (Tsamud).
Dengan musibah itu, Allah menghendaki adanya ketergantungan yang sempurna kepada Allah. Dia hendak mendekatkan hamba-hamba-Nya kepada-Nya dan membersamainya. Sebab, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dengan itu ia naik derajatnya dan diampuni dosanya, serta diringankan bebannya di akhirat.

0 Komentar