IKHLAS DALAM TINJAUAN SUFISTIK (MATERI PENGAJIAN TASWAUF)

Oleh: Muhammad Yusuf

Sejatinya, hasrat akan kemasyhuran mendorong orang akan menyibukkan diri pada urusan urusan tak berguna dan mengabaikan kerja-kerja yang bermanfaat bagi manusia. Cinta pada kemasyhuran mendorong orang untuk hanya mengurusi dirinya sendiri dan tak peduli orang lain.  Bagi para sufi, hasrat akan popularitas merupakan bentuk ketidaktulusan dalam bekerja. Ia di sebut riya’ dan itu adalah perbuatan yang terlarang yang menyebabkan penderitaan bagi pelakunya.

Sedangkan ikhlas merupakan sumber kebahagiaan bagi yang melakukannya.  Seperti yang di sabdakan Nabi Muhammad SAW; dalam hadis riwayat al – Baihaqi;

  طو بى للمخلصين الذين اذا حضروا لم يعرفوا, واذا غا بوا لم يفتقدوا اولئك مصابيح الهدى تنجلى بهم كل فتنة ظلماء  

Artinya:

"Aduhai betapa bahagia mereka yang berhati ikhlas: mereka yang ketika hadir tak di kenal. Manakala pergi mereka dicari kesana kemari. Mereka itulah obor obor yang menerangi jalan. Melalui mereka, tampak terang benderang segala fitnah orang–orang dzolim”.

Ikhlas itulah jalan keselamatan sebagaimana al-Gazali menuturkan dalam al-Ihya:

هَلَكَ النَّاسُ كُلُّهُمْ إِلاَّ الْعُلَمَاءْ , وَهَلَكَ الْعُلَمَاء كُلُّهُمْ إِلاَّ الْعَامِلِيْنَ ,وَهَلَكَ الْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ إِلاَّ الْمُخْلِصِيْنَ, َالْمُخْلِصُوْنَ عَلىَ خَطْرٍ عَظِيْمٍ

Artinya:”Setiap manusia akan rusak kecuali orang yang berilmu, dan orang yang berilmu akan rusak kecuali yang mengamalkan ilmunya, dan orang yang beramal juga binasa kecuali yang ikhlas (dalam amalnya). Akan tetapi, orang yang ikhlas juga tetap harus waspada dan berhati-hati dalam beramal. “

Dari apa yang disampaikan Imam Ghozali tersebut, bisa dikatakan bahwa menjadi alim saja belumlah cukup tanpa disertai dengan menerapkan ilmu yang dimilikinya. Bahkan seorang alim yang telah mengamalkan ilmunyapun akan binasa kecuali jika amalnya disertai dengan keikhlasan Wallohu a’lam.

Mereka yang berhati ikhlas itulah para Sufi, mereka adalah matahari–matahari dunia yang cahaya spiritualitasnya menebarkan kehangatan cinta, kesegaran, kegairahan, sekaligus mencerahkan dan menyuburkan bumi manusia.  Para sufi, mendefinisikan ikhlas sebagaimana pengalaman ruhaninya dalam menempuh spiritualitas, seperti halnya seorang sufi besar dari Mesir, Syekh Dzunnun al Misri, dalam Risalah al Qusyairiyah; mendefinisikan ikhlas secara aplikatif  demikian ,  

ثلا ث من علا ما ت الاخلاص : إستوالمدح والذ م من العامة , ونسيا ن رؤ ية العمل فى الا عما ل ونسيا ن إعتضا ء ثواب العمل فى الا خرة  

Artinya;

“Ada tiga tanda keikhlasan seseorang: jika ia menganggap pujian dan celaan orang sama saja, jika ia melupakan pekerjaan baiknya kepada orang lain, dan jika ia lupa hak kerja baiknya untuk memperoleh pahala di akhirat” . 

Menurut sang hujjatul Islam sufi agung pakar hukum Islam Imam Abu Hamid al Ghazali dalam kitab Qāmi’u al thughyān ia mendefinisikan;  الإ خلا ص هو ان يكون غرضه مخض التقرب الى الله تعا لى  “Ikhlas adalah apa yang ada dalam tujuan amal murni untuk mendekatkan diri kepada Allah”.  

Senada dengan imam Hamid al–Ghazali, Syaikh Abul Qosim Abdul Karim Hawazin Al- Qusyairi An-Nasyaiburi dalam kitabnya yang terkenal dalam ilmu Tasawuf Risalah Qusyairiyah, mendefinisikan ikhlas adalah penunggalan al-Haqq dalam mengarahkan semua orientasi ketaatan, untuk mendekatkan diri hanya kepada Allah semata.  

Syekh al-Junaid al Baghdadi mengatakan “Ikhlas adalah Rahasia antara Allah dan hambanya, tidak ada malaikat yang mengetahui dan mencatatnya, tidak ada syetan yang mengetahui dan merusaknya, dan tidak ada hawa nafsu yang mengetahui lalu menyodongkannya”. Pengertian Syekh al Junaidi al-Baghdadi ini seperti halnya yang di sabdakan Nabi Muhammad SAW:   

   سأ لت جبريل عليه السلا م عن الا خلإص , ما هو  ,فقا ل جبريل عليه السلام   سأ لت رب العزة تبا رك وتعا لى عن  الإ خللا ص ، ما هو , فقا ل ر ب العزة تبارك وتعا لى  : الإخلا ص سر من سري او دعته قلب من احببت من عبا د ى  

Artinya: 

"Saya ( nabi ) bertanya kepada Jibril tentang makna ikhlas . Apakah ikhlas itu ? Aku (Jibril) telah menanyakan hal ini kepada Tuhan, dan Dia menjawab : ikhlas itu merupakan salah satu Rahasia Ku, yang Aku tempatkan di hati hamba–hamba–Ku yang aku cintai”. 

Betapa beruntungnya manusia yang di beri anugerah keikhlasan dalam beramal, bekerja, dan beribadah, karena dicintai oleh Sang Maha Kasih Allah SWT, pasti meraih kemanfaatan dan kebahagiaan.  Lalu bagaimana agar amal, bekerja, dan beribadah dengan ikhlas? Syekh Athoilash as-Sakandari sang Sufi agung dalam kitabnya yang fenomenal ‘Al-Hikam memberikan cara terapi agar amal  bisa ikhlas dan bermanfaat, dalam satu maqalah hikmahnya ia berkata : 

 إد فن وجو د ك  فى ارض الخمو ل   فما نبت مما لم يد فن لا يتم تتا ئجه  

Artinya: 

“Sembunyikan wujudmu, pada tanah yang tak dikenal. Sebab, sesuatu yang tumbuh dari biji yang tak di tanam tak akan berbuah sempurna”. 

Kiai Husein Muhammad mengartikan hikmah ini, demikian “Simpanlah hasratmu akan popularitas, karena hasrat yang demikian itu tak akan membuat dirimu tumbuh dan berkembang sempurna.”  

Terapi ikhlas yang ditawarkan syekh Athailah ini, agar hidup, tumbuh dan berkembang dengan manfaat dan meraih kebahagiaan. Terbebas dari belenggu manipulasi realitas sebuah citra untuk kepentingan tertentu, yang mencipta fatamorgana sosial, yang di dalamnya tanda-tanda (simbol-simbol) telah tercerabut dari kebenaran. 

Citra akan popularitas memangsa dunia realitas dan membunuh kebenaran. Itulah sebabnya kenapa bekerja dan beribadah harus dilandasi dengan ikhlas, ada yang mengatakan bahwa ikhlas adalah ruhnya amal, jika amal tanpa ikhlas seperti halnya jasad tanpa ruh, dalam bahasa lain beramal perlu adanya ketulusan dan keikhlasan. Orang jawa menyebutnya “Sepi ing pamrih rame ing gawe” (sepi dalam pamrih ramai dalam bekerja).

Menurut al-Imam Fudoil bin Iyadh:

ترك العمل من احل الناس رياء، والعمل من اجل الناس شرك، والاخلاص ان يعافيك الله عنهما

Artinya:

"Meninggalkan amal karena manusia itu riya, mengerjakan amal karena manusia itu syirik. Adapun ikhlas itu di saat Allah menjauhkan engkau dari keduanya."

1. “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya.”

Dalam pandangan tasawuf, riya bukan hanya melakukan amal demi pujian manusia, tetapi juga meninggalkan amal karena takut dinilai manusia. Bila seseorang mengurungkan sedekah, shalat berjamaah, atau perbuatan baik lain karena khawatir dianggap pamer, sebenarnya ia tetap menjadikan manusia sebagai pusat pertimbangannya. Ini merupakan bentuk halus dari riya, karena hati masih terikat pada pandangan makhluk, bukan pada ridha Allah. Para sufi menekankan bahwa amal lahir hanyalah kendaraan bagi amal batin; jika kendaraan itu ditinggalkan demi menghindari penilaian manusia, berarti dorongan batin belum murni untuk Allah. Seorang murid spiritual harus belajar menegakkan amal baik apa pun situasinya—di tempat sepi ataupun ramai—sebagaimana seorang hamba yang teguh menjalankan tugas di hadapan Tuhannya. Sikap ini melatih kehadiran hati, kejujuran niat, dan kebebasan dari dominasi penilaian makhluk.

2. “Beramal karena manusia adalah syirik.”

Tasawuf memandang bahwa syirik tidak hanya terjadi pada tingkat keyakinan, tetapi juga pada tingkat motivasi hati. Saat seseorang beramal dengan tujuan memperoleh pujian, penghargaan, dukungan, atau kepentingan duniawi dari manusia, ia menjadikan manusia sebagai sekutu dalam ibadahnya. Ini disebut para sufi sebagai “syirik khafî”, yaitu syirik yang samar. Hati yang menggantungkan penerimaan atau keberhasilan amal kepada penilaian manusia telah mencederai kemurnian tauhid. Para gurunya mengajarkan murid untuk menyucikan niat melalui mujahadah: mengawasi lintasan hati, membiasakan dzikir, dan membangun kesadaran bahwa pujian makhluk tidak menambah kemuliaan dan celaan mereka tidak mengurangi nilai seorang hamba di sisi Allah. Bila niat dipersekutukan, amal yang secara lahir tampak luhur pun kehilangan ruhnya. Karena itu, tasawuf menegaskan perlunya memurnikan tujuan agar amal hanya karena Allah.

3. “Adapun ikhlas adalah saat Allah menyelamatkan dari keduanya.”

Ikhlas dalam tasawuf bukan sekadar usaha manusia memurnikan niat, tetapi anugerah ilahi yang menolong hamba dari jebakan riya dan syirik khafî. Para sufi melihat ikhlas sebagai kejernihan hati yang tidak lagi bergantung pada pujian ataupun celaan makhluk. Kedudukan ini hanya tercapai ketika Allah memberi taufiq untuk mengosongkan hati dari selain-Nya. Hamba tetap beramal secara lahir, namun batinnya tenang—tidak terdorong memamerkan amal, tidak pula takut dilihat manusia. Ikhlas membuat amal menjadi murni sebagai persembahan kepada Allah semata, sehingga setiap gerak menjadi sarat kehadiran-Nya. Para sufi menggambarkan keadaan ini sebagai “sirrun bayna al-‘abd wa Rabbihi”: rahasia antara hamba dan Tuhan. Dengan ikhlas, amal kecil terlihat besar di sisi Allah, sementara amal besar tidak terasa berat, karena hati telah diselamatkan dari dua penyakit terbesar perjalanan spiritual: riya dan syirik halus.

Quote bijak dari Syamsu Al-Tibrizy:

تجد السكينة حين تتخلى عن حاجتك لجذب انتباه الآخرين، وعن رغبتك في إثبات أي شيء لأي أحد.

"Kamu dapat menemukan kedamaian di saat kamu melepaskan kebutuhan untuk menarik perhatian, dan keinginan untuk membuktikan apapun kepada siapapun....".


Ikhlas sebagai Amunisi Utama Melumpuhkan Iblis

Dalam pandangan al-Quran, orang dianugrahi keikhlasan itulah yang menang menghadapi tipu daya iblis. 

قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ ۝٣٩

 Terjemahnya:

Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku, karena Engkau telah menyesatkanku, sungguh aku akan menjadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi dan sungguh aku akan menyesatkan mereka semua,

اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ ۝٤٠

Terjemahnya:

Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (karena keikhlasannya) di antara mereka.”

(QS. Al-Hijr: 39-40)




Posting Komentar

0 Komentar