KETENANGAN BUKAN SOAL WAKTU, MELAINKAN CARA BERPIKIR

Oleh: Muhammad Yusuf

Apakah Anda pernah merasakan distraksi eksternal yang mengubah rasa tenang menjadi gelisah, kacau, dan kesal? Selanjutnya Anda menyalahkan keadaan itu dan memosisikan diri Anda berada di pihak yang benar namun Anda sebagai korban dari perubahan situasi tersebut? Dan, apakah Anda merasakan "recovery ketenangan" yang hilang ditelan oleh distraksi eksternal itu, dan apakah ada rasa puas setelah sikap menyalahkan keadaan Anda ambil? Nyatanya tidak, kan?. Anda bahkan makin sulit mengendalikan. Bukan tugas Anda untuk mengubah keadaan luar, tapi cara pandang Andalah yang  harus diubah untuk mendapatkan ketenangan. Sebab, dengan cara itu, Anda dapat menghadirkan ketenangan di setiap waktu. 

Perhatikan Q.S. 13:11. "Sungguh Allah tidak mengubah keadaan yang terdapat pada suatu kaum sampai mereka berupaya mengubah keadaan yang  ada pada diri mereka". Berdasarkan konsideran ayat ini, saya hadirkan dari logikafilsuf, yaitu bagaimana mengahdirkan ketenangan setiap waktu dan keadaan. Bukan sebaliknya, berharap waktu akan mengubah segalanya. 

"Anda dan Kita sering menyalahkan keadaan atas hilangnya ketenangan. Padahal, sumber gelisah bukan dari dunia luar, melainkan dari cara kita memprosesnya. Fakta menariknya, riset dari University of California menunjukkan bahwa 85 persen kekhawatiran manusia ternyata tidak pernah terjadi di dunia nyata. Artinya, kebanyakan kecemasan hanya ada di kepala kita sendiri. Ketenangan bukan soal menunggu keadaan ideal, tapi kemampuan menata pikiran di tengah keadaan yang tidak ideal.

Contoh paling sederhana: banyak orang yang merasa tenang saat liburan, lalu stres begitu kembali bekerja. Padahal bukan pekerjaannya yang berubah, melainkan cara pikirnya. Saat liburan, ia mengizinkan diri untuk “berhenti”, sementara dalam keseharian, ia menolak berhenti bahkan satu menit pun. Maka yang perlu disembuhkan bukan rutinitas, tapi pola pikir yang menolak hadir di momen kini.

Berikut tujuh cara menjalani hari dengan hati yang tenang tanpa harus melarikan diri dari kenyataan.

1. Mulailah hari tanpa tergesa

Kebanyakan orang bangun bukan untuk hidup, tapi untuk mengejar sesuatu yang bahkan belum jelas. Rutinitas pagi dijalani seperti lomba, bukan perenungan. Padahal, pagi adalah fase penting untuk mengatur ritme batin. Ketika kamu memulai hari dengan terburu-buru, sistem saraf langsung membaca sinyal bahaya, membuat tubuh siap bertarung padahal tidak ada musuh.

Cobalah ubah ritme itu. Bangun lima belas menit lebih awal, tarik napas dalam, rasakan udara, dengarkan tubuhmu. Tenang bukan berarti lambat, melainkan sadar di setiap langkah. Dalam kesadaran itulah hidup mulai terasa.

2. Kurangi konsumsi informasi berlebihan

Kecemasan modern sering bersumber bukan dari hidup kita, tapi dari hidup orang lain. Media sosial, berita, dan konten cepat membuat pikiran kita terus dalam mode siaga. Setiap notifikasi adalah pintu kecil menuju ketegangan baru. Maka tak heran jika banyak orang merasa cemas tanpa tahu alasannya.

Menjaga ketenangan berarti menjaga pintu masuk pikiran. Mulailah dengan membatasi waktu konsumsi media. Saat kamu tidak lagi jadi budak notifikasi, kamu mulai memegang kendali atas kedamaian batinmu sendiri. Dan jika kamu ingin memperdalam cara berpikir yang lebih tenang dan tajam di era yang bising ini, kamu bisa berlangganan konten eksklusif Logika Filsuf. Di sana kita bahas filosofi tenang dari berbagai sudut pandang, tanpa basa-basi motivasi murahan.

3. Lakukan satu hal dalam satu waktu

Banyak orang menyebut dirinya sibuk, padahal yang sebenarnya terjadi adalah mereka berpindah fokus terlalu sering. Otak manusia tidak dirancang untuk multitasking. Setiap kali berpindah tugas, energi mentalmu bocor sedikit demi sedikit. Akibatnya, kamu merasa lelah bahkan sebelum siang tiba.

Tenang hadir ketika kamu belajar menikmati satu hal secara penuh. Saat minum kopi, benar-benar minum kopi. Saat bekerja, benar-benar bekerja. Saat istirahat, benar-benar istirahat. Fokus tunggal menciptakan kualitas kehadiran, dan dari situ lahir ketenangan alami.

4. Berdamai dengan ketidaksempurnaan

Banyak orang hidup dengan standar yang menjerat dirinya sendiri. Mereka ingin segalanya sempurna, tanpa sadar bahwa tuntutan itu adalah sumber penderitaan. Padahal, dunia tidak pernah menuntut kita sesempurna itu. Hanya ego yang melakukannya.

Contohnya, kamu mungkin marah karena hasil kerja tak sesuai harapan. Tapi jika dilihat lebih jernih, itu bukan kegagalan, melainkan proses belajar. Ketenangan lahir saat kamu berhenti menolak realitas dan mulai menerimanya sebagai bagian dari pertumbuhan.

5. Ubah cara berpikir tentang waktu

Kita sering menyalahkan waktu karena merasa tidak cukup, padahal yang kurang adalah pengelolaan perhatian. Orang yang tenang bukan karena punya lebih banyak waktu, tetapi karena mereka hadir penuh di waktu yang dimiliki. Waktu terasa sempit karena pikiranmu tercecer ke masa lalu dan masa depan sekaligus.

Latihlah diri untuk sepenuhnya berada di momen kini. Saat makan, sadari rasa dan teksturnya. Saat berbicara, dengarkan sepenuhnya. Semakin sering kamu kembali ke saat ini, semakin luas waktu terasa.

6. Belajar diam di tengah keramaian

Tidak semua keheningan butuh tempat sunyi. Kadang justru di tengah kebisingan kota, kamu bisa menemukan bentuk keheningan batin yang paling jujur. Ia bukan ketiadaan suara, tapi kemampuan untuk tidak terbawa oleh kebisingan di sekeliling.

Latihan sederhana: saat macet atau menunggu antrean, jangan isi dengan ponsel. Biarkan dirimu diam. Di situ kamu belajar bahwa ketenangan tidak bergantung pada keadaan, melainkan kemampuan untuk duduk bersama pikiranmu sendiri tanpa ingin lari.

7. Berterima kasih pada hal kecil

Ketenangan adalah hasil dari kebiasaan menghargai. Orang yang sulit tenang biasanya terlalu fokus pada kekurangan, lupa pada yang masih ia miliki. Padahal rasa syukur bukan klise, ia adalah latihan mental untuk melihat realitas secara utuh.

Coba akhiri harimu dengan tiga hal kecil yang bisa kamu syukuri: aroma kopi pagi, senyum orang asing, udara malam yang sejuk. Dengan begitu, kamu mengubah struktur batinmu dari reaktif menjadi reflektif. Dan dari refleksi itu, lahir ketenangan yang tidak bisa dibeli siapa pun.

Pada akhirnya, hati yang tenang bukan hadiah dari keadaan, tapi hasil dari kesadaran yang dibangun setiap hari".

Posting Komentar

0 Komentar