MENAKAR LOGIKA

 Oleh: Prof. Yusuf

Dalam percakapan sehari-hari, baik dengan orang sudah akrab antara satu dengan yang lainnya maupun terhadap orang yang belum saling akrab. Secara khusus kita ambil contoh berikut, sekaligus ini fakta yang saya saksikan langsung:

"Seseorang disuruh menikah karena umurnya sudah "tua". Dia bertanya, kalau aku menikah: apakah setelah aku menikah umurku kembali muda?"

Mungkin bercanda, serius, atau setengah serius. Atau merasa lebih punya otoritas memberi nasehat atau masukan. Tampaknya emang ringan, tapi respon tersebut merupakan tamparan. Perintah atau anjuran untuk menikah mestinya disertakan atau dipaket dengan argumen logis.

Perintah "menikah karena umur tua" justru mengandung turbulensi logika (logical fallacy), dan argumen dari respon tersebut sangat presisi. Ini adalah fallacy yang lebih parah dari respons orang yang ditanya.

Adapun letak fallacy pada argumen "menikah karena umur tua", saya mencoba menerangkan jenis fallacy-nya sebagai berikut:

A. False Cause (Post Hoc)

Mengasumsikan bahwa usia tua secara otomatis menjadi alasan valid untuk menikah, padahal tidak ada hubungan sebab-akibat langsung antara usia tua dan kewajiban menikah.

B. Hasty Generalization

Menggeneralisasi bahwa semua orang harus menikah karena usia tua, padahal tujuan pernikahan berbeda-beda tiap orang.

C. Appeal to Tradition/Society

Menggunakan norma sosial ("orang sudah tua harus nikah") sebagai alasan logis, padahal norma ≠ kebenaran logis.

D. False Dilemma

Menyiratkan pilihan hanya dua: menikah sekarang atau tidak menikah sama sekali, padahal ada banyak opsi hidup.

Mengapa argumen ini tidak logis?

Tujuan pernikahan bervariasi. Pernikahan untuk memperoleh keturunan (bukan satu-satunya tujuan). Ada pernikahan untuk  partnership/subsidi kehidupan, cinta dan kebersamaan, stabilitas emosional, religiusitas. Faktanya juga, tidak semua orang ingin atau bisa punya anak. 

Dengan demikian, usia tua ≠ otomatis harus menikah, karena:

1. Orang bisa tetap single dan bahagia, 

2. Menikah karena paksaan usia justru berisiko tinggi (perceraian, infelicitas), 

3. Kualitas hubungan lebih penting daripada usia

Fallacy pada respons tadi sebenarnya valid secara logika. Pertanyaan "apakah setelah nikah usiaku kembali muda?" adalah reductio ad absurdum — menunjukkan absurditas argumen lawan dengan menariknya ke konsekuensi yang tidak masuk akal.

Ini juga bukan hanya fallacy, tapi strategi logis untuk menunjukkan bahwa premis "menikah karena tua" tidak masuk akal. 

Kesimpulan

Argumen "menikah karena umur tua" yang tidak logis, dan respons orang tersebut justru menunjukkan ketidaklogisan itu dengan cara yang ironis. Fallacy sebenarnya ada pada pihak yang menyuruh nikah karena tua, bukan pada orang yang bertanya. Jadi, jangan muda menasehati orang pada hal-hal yang sensitif tanpa pertimbangan logis yang kuat. Atau, berlaku bijaklah dalam berkomunikasi. 

Posting Komentar

0 Komentar