HIJRAH YANG TERTINGGAL: MIGRASI INTELEKTUAL DI ERA POST TRUTH

Oleh: Prof. Yusuf 

(Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar)

Setiap 1 Muharram kata "hijrah" kembali digaungkan—spanduk, mimbar, dan unggahan media sosial mengajak perubahan. Namun pengulangan itu tidak otomatis menjamin pemahaman. Hijrah Nabi bukan sekadar perpindahan geografis; ia adalah transformasi paradigmatik yang merombak struktur sosial, politik, dan cara berpikir.

Kegagalan terbesar sekarang bukan hanya soal moral individu, melainkan kegagalan melakukan migrasi intelektual. Di era post-truth—di mana emosi, identitas, atau kekuasaan lebih menentukan penerimaan kebenaran daripada bukti. Sementara, ritual hijrah tanpa refleksi kritis menjadi rapuh. Informasi berlebih, algoritma yang memperkuat gelembung kognitif, dan disinformasi membuat bias konfirmasi menguat; gelar dan jumlah pengikut (followers) mudah dimobilisasi sebagai penanda legitimasi menggantikan argumentasi rasional.

Hambatan hijrah intelektual kini semakin kompleks: psikologi kognitif (bias konfirmasi), ekologi informasi (filter bubble dan viralitas), budaya akademik yang mengutamakan kuantitas publikasi, serta tradisi taqlid tanpa kritisisme. Dalam konteks post-truth, mempercayai narasi populer atau otoritas tanpa verifikasi bukan sekadar kelalaian intelektual, tetapi ia menjadi mekanisme reproduksi ketidakbenaran yang sulit dibongkar.

Redistribusi makna hijrah harus menyertakan strategi melawan post-truth: menegakkan etos verifikasi (membaca kritis, cek fakta, metodologi), membentuk literasi media dan numerik, serta memperkuat institusi yang menghargai dampak konseptual dibanding angka. Pendidikan perlu menanamkan kemampuan hermeneutik dan berpikir ilmiah agar komunitas mampu menilai klaim berdasarkan bukti bukan identitas.

Hijrah sejati menuntut keberanian kognitif, yaitu menerima perbaikan pendapat, terbuka terhadap kritik, dan meninggalkan dogma yang terbukti keliru. Tanpa migrasi intelektual yang sadar terhadap dinamika post-truth, perayaan hijrah tetap menjadi ritus tahunan tanpa perubahan substantif, bahkan ritus tanpa makna. Jika hijrah ingin kembali menjadi pendorong peradaban, maka tugas kita hari ini adalah memindahkan (menghijrahkan) pola pikir dan ekologi pengetahuan, bukan sekadar pindah tempat, atau tidak lebih dari sekedar pertambahan angka tahun. Orang Bugis menuturkan dengan istilah "lele bulu' tellele abiasang".

Posting Komentar

0 Komentar