KHUTBAH IDUL ADHA

 Oleh: Prof. Dr. H. Muhammad Yusuf, M.Ag.

Idul Adha: Menyembelih Ego dan Meneguhkan Ketakwaan


Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena hanya dengan ketakwaanlah manusia memperoleh kemuliaan di sisi Allah.

Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Hari raya Idul Adha bukan sekadar perayaan penyembelihan hewan. Ia adalah momentum besar pendidikan spiritual manusia: tentang pengorbanan, kepatuhan, dan penyembelihan ego kepemilikan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

1. Sejarah Awal Ibadah Qurban: Kisah Qabil dan Habil

Ibadah qurban telah dikenal sejak awal sejarah manusia, bahkan sejak zaman Nabi Adam a.s. Allah SWT mengabadikan kisah dua putra Adam, yaitu Qabil dan Habil dalam Al-Qur’an:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

Terjemahnya: “Ceritakanlah kepada mereka kisah dua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain.”Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Ma’idah: 27)

Ayat ini menunjukkan bahwa qurban sejak awal bukan semata ritual fisik, tetapi ujian keikhlasan dan ketakwaan. Para ulama menjelaskan bahwa Habil mempersembahkan hewan terbaiknya dengan hati yang tulus, sedangkan Qabil memberikan hasil yang buruk dan tidak ikhlas.

Karena itu Allah menegaskan: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)

Maka ukuran diterima atau tidaknya qurban bukan besar kecilnya hewan, melainkan kualitas ketakwaan dan keikhlasan pelakunya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

2. Hakikat Qurban: Menyembelih Rasa Kepemilikan

Jamaah yang dirahmati Allah,

Puncak pelajaran qurban tampak dalam kehidupan Nabi Ibrahim a.s. Beliau bertahun-tahun memohon keturunan kepada Allah. Dalam usia senja, barulah Allah menganugerahkan seorang anak: Ismail a.s.

Allah berfirman:

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

Terjemahnya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang saleh.”
(QS. Ash-Shaffat: 100)

Doa panjang itu dikabulkan. Namun ketika rasa cinta telah tumbuh mendalam, Allah justru menguji Ibrahim.

Inilah hakikat qurban: manusia sering merasa memiliki sesuatu—harta, jabatan, keluarga, bahkan anak—padahal semuanya hanyalah titipan Allah. Qurban sejatinya bukan menyembelih kambing atau sapi semata, tetapi menyembelih rasa “ini milikku”.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

3. Diperintahkan Meninggalkan Keluarga di Lembah Mekkah

Setelah memperoleh Ismail, Nabi Ibrahim diperintahkan meninggalkan istri dan anaknya di lembah tandus Mekkah yang saat itu belum berpenghuni.

Allah mengabadikan doa Ibrahim:

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ ۝٣٧

Terjemahnya: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.". (QS. Ibrahim: 37)

Bayangkan perjuangan batin seorang ayah. Anak yang lama dinanti justru harus ditinggalkan di padang tandus. Namun Ibrahim sadar: cinta kepada Allah harus berada di atas segalanya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di zaman sekarang, manusia sering diuji bukan dengan kehilangan anak, tetapi dengan kehilangan harta, jabatan, kenyamanan, dan gengsi sosial. Banyak orang sulit taat karena terlalu merasa memiliki dunia. Padahal seluruh hidup hanyalah titipan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

4. Perjuangan Siti Hajar: Ikhtiar dan Tawakal

Ketika persediaan air habis, Siti Hajar berlari antara Bukit Shafa dan Marwah mencari pertolongan. Tujuh kali beliau bolak-balik demi menyelamatkan anaknya. Inilah simbol ikhtiar yang maksimal dan tawakal yang dari seorang ibu.

Allah kemudian menghadirkan mukjizat air zam-zam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : « يَرْحَمُ اللَّهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ لَوْلَا أَنَّهَا تَرَكَ - أَوْ قَالَ - لَمْ تَغْرِفْ مَاءً لَكَانَ زَمْزَمُ عَيْنًا مَعِينًا »

Artinya: “Semoga Allah merahmati ibu Ismail. Seandainya ia membiarkan zam-zam mengalir, niscaya zam-zam menjadi sungai yang mengalir.” (HR. Bukhari)

Kisah Hajar mengajarkan bahwa tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Islam mengajarkan perpaduan antara doa, kerja keras, dan keyakinan kepada Allah. Karena itu, sa’i antara Shafa dan Marwah diabadikan menjadi bagian ibadah haji hingga hari kiamat. Sebuah penghormatan Allah terhadap perjuangan seorang ibu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

5. Ibrahim Diperintahkan Menyembelih Ismail

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ujian terbesar datang ketika Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih putranya sendiri.

Allah berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Terjemahnya: “Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’”

Lalu Ismail menjawab dengan penuh ketundukan:

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Inilah dialog agung antara ayah dan anak yang sama-sama tunduk kepada Allah. Ketika keduanya lulus dalam ujian kepatuhan, Allah mengganti Ismail dengan sembelihan yang besar.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

6. Qurban dan Hakikat Takwa

Allah SWT menegaskan hakikat qurban dalam firman-Nya:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini sangat penting. Allah tidak membutuhkan darah dan daging hewan. Yang Allah lihat adalah kualitas hati manusia. Maka qurban sejatinya adalah pendidikan ketakwaan: berani melepaskan yang dicintai demi Allah, mendahulukan perintah Allah di atas hawa nafsu, serta berbagi kepada sesama.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

Relevansi  Pesa Konteks Kekinian

Jamaah yang dirahmati Allah,

Di era modern, manusia menghadapi bentuk “berhala” baru: materialisme, keserakahan, individualisme, hedonisme, plexing, pencitraan, dan gaya hidup konsumtif. Banyak orang rela mengorbankan kejujuran demi harta. Mengorbankan keluarga demi karier. Bahkan mengorbankan agama demi popularitas. Karena itu pesan qurban sangat relevan: menyembelih ego, menyembelih keserakahan, menyembelih cinta dunia yang berlebihan.

Idul Adha juga mengajarkan solidaritas sosial. Daging qurban dibagikan agar kaum lemah ikut merasakan kebahagiaan. Ini adalah pendidikan keadilan sosial dalam Islam.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Al-Baihaqi)

Karena itu, qurban harus melahirkan empati sosial, bukan sekadar seremoni tahunan.

Jamaah sekalian,

Mari jadikan Idul Adha sebagai momentum memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas, taat, dan bertakwa.

الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

عباد الله،
إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون.

فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم ولذكر الله أكبر والله يعلم ما تصنعون.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

Wassalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh 

Posting Komentar

0 Komentar