Oleh: Prof. Yusuf
PENDAHULUAN
Inti pesan: “Satu‑satunya cara untuk mengenal Allah adalah melalui kematian.” Kata “kematian” di sini dipahami secara tasawuf sebagai kematian batin (maut al‑badrī atau fanā’/baqā’ dalam istilah sufi), yakni proses mematikan aspek‑aspek diri yang menghalangi perjumpaan dengan Hakikat.
Uraian ini menjelaskan siapa “diri” yang dimaksud, langkah‑langkah mematikan diri sebelum mati jasmani, dan hasilnya (pembebasan higher self dan penyingkapan pengenalan kepada Allah).
Definisi “diri” dalam konteks tasawuf terdiri dari dua lapis diri: Pertama, higher self (diri tinggi): ruh sejati—jiwa yang tenang, inti keberadaan yang fitri, pencermin sifat‑sifat Ilahi. Kedua, lower self (diri yang rendah, nafs): komposit dari akal, perasaan, ego, hawa nafsu, kebiasaan dan keterikatan duniawi.
Problem psikologisnya adalah bahwa rasa “aku” yang kita alami sehari‑hari biasanya berpusat pada lower self; ia mengira dialah yang hidup dan wujud. Karena itu pengenalan kepada Yang Maha Hidup tertutup oleh dominasi lower self.
PRINSIP UMUM: MEMATIKAN UNTUK MENGENAL
Pernyataan dasar: Untuk mengenal yang Maha Hidup (Al‑Hayy) harus ada “maut” terhadap apa yang menghalangi pengenalan itu—yakni mematikan lower self. Dua aspek kematian batin yang saling melengkapi: pengosongan (takhalli) dan pengisian (tathbiyah), diikuti oleh penyingkapan (tajalli).
Tahap pertama: Takhalli I — Pengosongan dan pembersihan. Maknanya adalah membersihkan wadah jiwa dari kotoran‑kotoran batin yang menghalangi wahyu/pengalaman Ilahi.
Praktik yang termasuk: taubat (muhasabah dan kembali pada Allah). Dalam hal ini juga termasuk menahan atau menundukkan hawa nafsu, melepaskan keterikatan duniawi. Seseorang menyingkirkan sifat‑sifat buruk: riya’, ujub, dengki, keserakahan.
Latihan zuhud sederhana: mengekang keinginan agar hati tidak lagi tergantung pada dunia. Tujuan langsungnya yaitu melemahkan dominasi lower self sehingga ruang batin mulai kosong dari penghalang.
Tahap kedua yaitu tahalli, yaitu pengisian dengan akhlak Ilahiah. Maknanya, yaitu setelah mengosongkan, wadah diisi kembali—bukan dengan keakuan baru tapi dengan sifat‑sifat yang mencerminkan Asma’ul Husna.
Praktik yang termasuk: mengembangkan akhlak: sabar, ikhlas, tawadhu’, kasih sayang, keadilan. Menghayati peran sebagai khalifah: bertindak bertanggung jawab di dunia sesuai cerminan nama‑nama Allah.
Dalam konteks ini, memperdalam niat: dari ingin dipuji ke ingin ridha Allah. Tujuan langsungnya yaitu menjadikan perilaku dan batin selaras dengan sifat‑sifat Ilahi sehingga diri menjadi saluran bagi manifestasi Allah.
Tahap ketiga: tajalli — penyingkapan dan pengalaman pengenalan. Makna tajalli adalah suatu cahaya/penyingkapan di mana Allah memperlihatkan keberadaan‑Nya kepada hamba yang siap; ini terjadi setelah hati bersih dan penuh akhlak.
Jalan praktis: pertama menunaikan ibadah wajib (shahihnya rukun Islam) sebagai fondasi. Selanjutnya, memperbanyak ibadah sunnah yang mendekatkan, seperti dzikir, tadabbur al‑Qur’an, munajat, khusyuk dalam shalat. Seorang hamba melakukan kontemplasi rohani dengan menyaksikan karya‑karya Allah dalam diri dan alam.
Gambaran pengalaman: “Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya… penglihatannya… mulutnya… tangannya… kakinya…” — artinya Tuhan menjadikan hamba alat‑alat‑Nya; tindakan, penglihatan, dan ucapan hamba dipenuhi oleh Kehendak Ilahi.
Hasil yang dicapai yaitu pergeseran dari “aku yang berbuat” menjadi “Allah yang berbuat melalui aku” — fanā’ dalam perbuatan, bukan dalam esensi Ruh. Hasil akhirnya yaitu terwujudnya pembebasan higher self.
Proses ketiga tahap di atas (takhalli → tahalli→ tajalli) membawa pada pembebasan higher self yang sebelumnya terbelenggu oleh lower self. Pembebasan ini bukan penghilangan ruh tetapi pelepasan belenggu sehingga ruh dapat berfungsi sebagai cermin bagi Asma dan Sifat Allah.
Akhirnya, hamba mengalami dua hal sekaligus: hilangnya tuntutan ego sebagai pusat eksistensi, dan hadirnya kesadaran akan kehadiran Ilahi yang memelihara identitas sejati.
ILUSTRASI
Ibarat vas yang kotor (lower self penuh noda). Tahap pertama membersihkan vas (takhalli I). Tahap kedua mengisi vas bukan dengan kotoran baru tetapi dengan air wangi (akhlak Ilahi). Tahap ketiga, ketika cahaya ditempatkan di dekat vas, isi vas memantulkan cahaya itu sehingga vas menjadi penerang (tajalli), dan isi sejati vas (higher self) tampak — bukan karena vas itu punya cahaya sendiri, tetapi karena ia memantulkan Cahaya yang lebih tinggi.
PENUTUP
Metode mengenal Allah dalam narasi ini bersifat progresif dan praktis: introspeksi dan taubat → transformasi moral → pengabdian dan kontemplasi → pengalaman kehambaan yang dipenuhi Ilahi. Pesan etisnya, bahwa proses ini memerlukan kesabaran, konsistensi dalam ibadah, dan praktik akhlak. Pengenalan sejati adalah buah dari perjalanan batin yang bertahap, bukan pengalaman instan.
0 Komentar