Oleh: Muhammad Yusuf
Hidup ini, seperti hembusan angin gurun yang tak terduga, tidak pernah tunduk pada selera siapa pun. Ia datang telanjang, tanpa janji manis, membawa suka dan duka dalam satu nadi yang sama. Musthofa Mahmud, sang pemikir Mesir yang merangkul sufisme dengan logika tajam, merangkumnya dalam kalimat abadi: "Hidup ini tidak melayani keinginan siapapun, kita akan menjalaninya melalui suka dan duka, jadi jangan menyakiti siapa pun, karena setiap hati sudah cukup terbebani." Kutipan ini bukan sekadar nasihat; ia adalah cermin ruhani yang memantulkan hakikat eksistensi kita—sebuah panggilan untuk empati mendalam di tengah badai kehidupan.
Dari sudut sufistik, kutipan ini menggema seperti zikir Rumi: hidup adalah tarian kosmik di mana nafsu ego kita harus larut dalam irama Ilahi. Hidup tak melayani keinginan karena ia adalah ujian tawhid, di mana suka dan duka menyatu sebagai cahaya dan bayang Tuhan. Sufi tahu, setiap jiwa sudah dipenuhi luka-luka tersembunyi—seperti qalb yang retak oleh hijab duniawi. Menyakiti orang lain berarti menambah beban pada cermin-Nya; sebaliknya, kasih adalah fana fi Allah, peleburan diri yang membersihkan hati dari racun dendam. Mahmud mengingatkan kita: jangan tambah pilu pada qalb yang sudah penuh, karena setiap napas adalah kesempatan untuk ma'rifah, pengetahuan ilahi melalui welas asih.
Secara filosofis, kutipan ini menantang absurditas eksistensial ala Camus atau Kierkegaard. Hidup bukan proyek rasional yang bisa kita desain sesuka hati; ia absurd, penuh kontradiksi suka-duka yang tak terelakkan. Keinginan manusia—ambisi, harta, cinta—hanyalah ilusi Sisyphus, batu yang bergulir turun lagi. Namun, di sinilah kebijaksanaan lahir: penerimaan (amor fati Nietzsche) yang melahirkan etika radikal. Jangan sakiti sesama, karena setiap hati adalah mikrokosmos penderitaan universal. Ini bukan pasifisme lemah; ia tajam seperti pisau Ockham, memotong ilusi superioritas untuk ungkap solidaritas ontologis. Hidup menuntut kita hidup autentik, bukan sebagai korban keinginan tak terpenuhi, tapi sebagai penjaga hati-hati lain.
Dari lensa psikologis, perspektif ini menusuk beban emosional yang tak kasat mata. Carl Jung akan melihatnya sebagai bayang kolektif: setiap hati sudah sarat dengan trauma tak sadar—luka masa kecil, kegagalan, kehilangan—seperti tasbih yang benangnya kusut. Freud mungkin bilang, agresi kita lahir dari id yang tertekan oleh realitas tak melayani ego. Tapi Mahmud menawarkan terapi sufistik: kesadaran bahwa suka-duka adalah siklus alami, bukan hukuman. Menyakiti orang berarti proyeksi shadow kita, memperberat beban psikis kolektif. Penelitian psikologi positif menunjukkan empati mengurangi kortisol stres; maka, larangan ini adalah resep penyembuhan—mengubah hati yang "cukup terbebani" menjadi wadah rahmat, membangun resiliensi melalui ikatan vulnerabilitas.
Secara sosiologis, kutipan ini adalah manifesto harmoni sosial di era fragmentasi. Durkheim akan memuji ikatannya sebagai solidaritas organik: masyarakat modern, dengan individualisme hiper, penuh hati terbebani oleh alienasi kapitalis. Hidup tak melayani keinginan kolektif—pandemi, kemiskinan, konflik—membuat setiap individu seperti pulau duka. Menyakiti sesama memperlemah jaringan sosial, memicu siklus kekerasan struktural. Sebaliknya, empati Mahmud membangun masyarakat adil seperti ummah sufistik: setiap hati adalah batu bata masjid ruhani. Di Indonesia, negeri gotong royong, ini relevan—jangan tambah duka pada hati yang sudah lelah banjir, korupsi, atau polarisasi. Ia panggilan untuk etika sosial yang tajam: welas asih sebagai perekat, mengubah masyarakat dari arena kompetisi menjadi taman rahmat.
Hikmah dari pernyataan Mahmud adalah undangan transenden: jalani suka-duka dengan hati lapang, karena setiap qalb sudah penuh cerita tak terucap. Seperti bintang di langit malam, beban kita bersinar dalam gelapnya. Jangan tambah pilu; sebaliknya, jadilah embun pagi yang menyegarkan. Dalam pelukan ini, kita temukan keabadian—bukan dalam mengendalikan hidup, tapi dalam menjaga hatinya.
0 Komentar