DARI KOGNISI SOSIAL KE GNOSIS BAZIN: ESENSI KEBIJAKSANAAN LAO TZU

 Oleh: Muhammad Yusuf


Di persimpangan zaman yang gaduh, di mana gemerlap pengetahuan dunia memabukkan akal, sebuah kutipan kuno dari Lao Tzu menusuk seperti pedang cahaya: “Mengenal orang lain adalah kecerdasan, mengetahui diri sendiri adalah kebijaksanaan yang sejati.” Kata-kata ini bukan sekadar aksioma filsafat Timur; ia adalah undangan suci untuk menyelam ke lautan jiwa, di mana cerminan diri menjadi cermin abadi. Kecerdasan hanyalah lentera yang menerangi labirin orang lain, sementara kebijaksanaan adalah fajar yang lahir dari kegelapan gua batin, menerangi segala yang tersembunyi.

Dari lensa sufistik, kutipan ini bergema seperti zikir Rumi atau Ibn Arabi, yang menekankan ma'rifah—pengetahuan hakiki yang lahir dari pengenalan Allah melalui pengenalan diri. Sufi menyebutnya fana fi al-nafs, lenyapnya ego dalam samadi jiwa, di mana mengenal orang lain hanyalah ilusi permukaan. Seperti dalam Mathnawi, Rumi berbisik: jiwa yang tak mengenal dirinya hanyalah bayang di dinding gua Plato, terperangkap dalam permainan cahaya eksternal. Kebijaksanaan sejati adalah baqa—kekal dalam pengetahuan diri yang menyatu dengan Yang Maha Esa. Di sini, psikologi sufistik bertemu: Carl Jung akan menyebutnya integrasi shadow self, bayang gelap yang harus dihadapi agar individu menjadi insan kamil, manusia sempurna yang tak lagi terbelenggu nafsu rendah.

Dari sudut tinjauan filosofis, Lao Tzu menantang dualisme Socrates—“Kenali dirimu sendiri!”—yang terukir di kuil Delphi. Kecerdasan adalah episteme, pengetahuan empiris tentang yang lain: politik, ekonomi, relasi sosial. Namun, kebijaksanaan adalah sophia, gnosis ontologis yang menembus esensi Dasein Heidegger—keberadaan autentik di tengah thrownness dunia. Bayangkan filsuf seperti Kant, yang membedakan noumena (hal itu sendiri) dari fenomena; mengenal orang lain adalah navigasi fenomena, tapi mengetahui diri adalah sentuhan noumena, di mana subjek dan objek menyatu dalam kesadaran murni. Tajamnya, ini mengkritik modernitas Descartes: cogito ergo sum gagal jika cogito tak menyelami sum yang gelap, lahir dari luka eksistensial.

Pendekatan psikologis memperdalam luka ini. Freud melihat kecerdasan sebagai ego yang menguasai id melalui superego sosial, tapi kebijaksanaan adalah analisis psikoanalitik diri: menghadapi repression trauma masa kecil, kompleks Oedipus yang membelenggu. Maslow melengkapinya dengan hirarki kebutuhan, di mana self-actualization—puncak piramida—lahir dari self-knowledge, bukan pencapaian eksternal. Dalam era media sosial, kecerdasan menjadi hiperkoneksi virtual, tapi kebijaksanaan adalah terapi mindfulness, di mana Viktor Frankl menemukan makna di kamp konsentrasi melalui logoterapi: “Antara stimulus dan respons ada ruang kebebasan—di situlah kebijaksanaan lahir.” Psikolog modern seperti Daniel Kahneman mengukuhkannya: System 1 (intuitif, eksternal) adalah kecerdasan cepat, tapi System 2 (reflektif, internal) adalah kebijaksanaan lambat yang menjinakkan bias kognitif.

Dari perspektif sosiologis, kutipan ini menusuk struktur kekuasaan masyarakat. Durkheim melihat kecerdasan sebagai solidaritas organik—pembagian kerja di masyarakat modern—di mana kita “mengenal” peran orang lain untuk bertahan. Namun, kebijaksanaan adalah solidaritas mekanik yang autentik: pengenalan diri yang membebaskan dari alienasi Marx, di mana buruh terasing dari esensi dirinya. Foucault akan tajam: pengetahuan tentang yang lain adalah panopticon pengawasan sosial, tapi self-knowledge adalah resistensi, pembebasan dari discourse normalisasi. Di Indonesia kontemporer, di tengah hiruk-pikuk gotong royong dan media yang memuja selebriti, kebijaksanaan diri menjadi antidot fragmentasi sosial—seperti sufisme Nusantara ala Hamzah Fansuri, yang mengajak jihad akbar melawan nafsu kolektif.

Akhirnya, kutipan Lao Tzu adalah simfoni ruhani: kecerdasan membangun jembatan ke dunia luar, tapi kebijaksanaan membakar jembatan itu untuk pulang ke rumah batin. Seperti burung phoenix yang bangkit dari abu, manusia sejati lahir dari api introspeksi. Di era AI dan big data yang “mengenal” kita lebih baik daripada diri sendiri, undangan ini semakin mendesak: berhentilah mengejar bayang, selami gua jiwa. Hanya di sana, cahaya kebijaksanaan menyinari dunia, mengubah kecerdasan menjadi kasih yang abadi.


 

Posting Komentar

0 Komentar