MUSIBAH: UNDANGAN ALLAH AGAR ENGKAU MENEMUI-NYA

 Oleh:!Muhammad Yusuf

Engkau punya teman? Punya banyak pendukung, followers? Okey, mungkin benar. Sudah teruji? Sudah terseleksi? Ketika musibah datang, satu persatu teruji kesetiannya. Jika kamu sedang di puncak kesuksesan, pastilah banyak jumlahnya. Kalau mau lihat yang benar-benar setia, lihatlah saat engkau sedang ditimpa musibah. Saat gelap, bayanganmu pin menghilang. Sementara Allah selalu ADA dalam semua keadaan, bahkan ketika engkau ditimpa musibah meskipun engkau sering meninggalkan Allah saat engkau sukses. Imam Syafi'i mengatakan, "Jika manusia menghindar darimu di kala engkau sedang mendapatkan musibah, ketahuilah bahwa Allah sendiri yang ingin mengurus urusanmu."

Dalam hembusan angin sepoi yang menyiratkan rahasia ilahi, terselip kalimat penghibur yang sunyi namun menusuk jiwa: saat musibah menimpa dan manusia menjauh, bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari kedekatan abadi. Fase paling berat hidup ini bukan sekadar luka fisik atau emosional, tapi kehampaan relasional yang menusuk—perasaan ditinggalkan di tengah badai. Namun, di balik tabir kesunyian itu, tersembunyi hikmah agung: pemilihan Tuhan yang presisi. Manusiawi memang lenyapnya kehadiran sesama saat gelap menyelimuti, tapi justru di situlah Allah membuka tirai hijab, menarik hati dari sandaran rapuh makhluk menuju Yang Kekal. Ini bukan kutukan, melainkan panggilan suci untuk bersandar hanya kepada-Nya. 

***

Bayangkan sebuah ruang batin yang tadinya ramai oleh suara-suara manusia: tawa, nasihat, dan janji setia. Lalu datanglah musibah—sebuah badai tak terduga yang merenggut segalanya. Bukan hanya rasa sakit dari cobaan itu sendiri yang menyiksa, tapi yang lebih pedih adalah keheningan sesama. Mereka yang dulu berdesak-desakan kini menjauh, meninggalkan ruang kosong yang bergema. Mengapa? Karena manusia pada hakikatnya terbatas, rapuh, dan gamang menghadapi kegelapan orang lain. Psikologi modern menyebutnya "compassion fatigue" atau kelelahan empati, di mana orang menghindar bukan karena kejam, tapi karena ketakutan akan luka mereka sendiri. Al-Qur'an menggambarkannya dengan tajam: "Manusia itu pada hakikatnya sangat lemah" (QS. An-Nisa: 28). Keterbatasan ini bukan alasan untuk membenci, melainkan undangan untuk mengkritisi ekspektasi kita terhadap sesama.

Secara spiritual, penjauhan ini adalah bentuk hijab ilahi yang disingkap secara bertahap. Hijab, dalam tradisi tasawuf, adalah tabir yang menutupi hakikat, tapi di sini Allah justru menyibukkannya. Saat manusia mundur, Ia maju mengisi kekosongan. Ini mirip kisah Nabi Ayyub AS, yang ditinggalkan keluarga dan masyarakat di puncak penderitaannya, namun justru di situlah wahyu datang: "Dan Ingatlah (kisah) hamba-Kami Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya, 'Sesungguhnya Syaitan telah menimpakan kepadaku penyakit dan azab yang sangat pedih'" (QS. Al-Anbiya: 83). Tuhan tidak hanya mendengar, tapi menyembuhkan langsung. Penjauhan manusia menjadi katalisator: doa yang dulu formal kini jujur mentah, air mata yang dulu tertahan kini ikhlas mengalir, dan harapan yang dulu bergantung pada obat manusia kini murni tertuju pada Yang Maha Kuasa. Kritik tajam di sini: jika kita terus menyandarkan hati pada makhluk, kita justru menolak rahmat Tuhan yang ingin datang tanpa perantara.

Filosofisnya, fenomena ini mengajak kita merefleksikan ontologi ketergantungan. Aristoteles bicara tentang "eudaimonia" atau kebahagiaan sejati yang lahir dari aktualisasi potensi diri, tapi dalam Islam, itu adalah tawhid mutlak—bersandar hanya kepada Allah. Selama lingkungan ramai, kita terjebak ilusi antropomorfik: menganggap manusia sebagai pemilik kuasa. Musibah meruntuhkan menara ilusi itu, seperti gempa yang membersihkan puing-puing palsu. Heidegger menyebutnya "Geworfenheit" atau keterlemparan ke dunia, tapi Islam pergi lebih dalam: musibah adalah "fitnah" yang menyucikan (QS. Al-Ankabut: 2-3), membersihkan ruang batin dari sandaran sekunder. Logikanya sederhana namun mendalam: jika urusan dipegang manusia (yang 99% gagal), hasilnya chaos; jika langsung oleh Allah, meski jalannya sunyi, ujungnya kebaikan tak terduga. Kritik kritis: masyarakat modern, dengan budaya individualisme dan media sosial, justru memperparah ini—hubungan dangkal yang lenyap saat krisis, memperkuat kebutuhan isolasi spiritual.

Lebih tajam lagi, ini bukan sekadar penghiburan pasif, tapi panggilan aktif untuk transformasi. Jangan tergesa menyimpulkan penjauhan sebagai hukuman; itu bisa jadi kasih sayang tertinggi, seperti bedah yang menyakitkan tapi menyelamatkan. Dalam ushul fiqh, prinsip "al-ashlu fil asyya' al-husn" (asal musibah adalah kebaikan) berlaku: Allah tidak memberi cobaan kecuali untuk mengangkat derajat. Hadis Nabi SAW mengukuhkannya: "Sungguh besarnya anugerah bagi seorang Muslim; segala sesuatu yang menimpanya adalah kebaikan baginya" (HR. Muslim). Saat tidak ada siapa pun, Allah mengambil alih sepenuhnya—urusan yang dipegang-Nya selalu presisi, holistik, dan berujung falah. Contoh historis: Imam Al-Ghazali, di tengah krisis eksistensial, menarik diri dari hiruk-pikuk Baghdad, justru melahirkan "Ihya Ulumuddin" yang mengubah peradaban Islam. Kesunyian bukan akhir, tapi laboratorium ilahi untuk melahirkan versi terbaik diri.

Namun, logika ini menuntut sikap kritis: jangan romantisasi penderitaan secara berlebih, karena bisa jatuh ke pasivisme fatalistik. Islam mendorong ikhtiar: tetap jaga silaturahmi meski terluka, tapi prioritaskan ridha Ilahi. Indahnya, di balik sunyi itu, lahir ketabahan (sabr) yang estetis—seperti puisi Rumi: "Luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu." Musibah plus penjauhan manusia membersihkan jiwa, membuatnya layak menyambut pertolongan Tuhan yang tak terbatas. Akhirnya, ini pelajaran universal: hidup bukan tentang keramaian sesaat, tapi kedalaman abadi dengan Sang Pencipta. (782 kata)

***

Penjauhan manusia di tengah musibah bukan kutukan, melainkan pemilihan ilahi yang penuh hikmah—menarik hati dari rapuhnya makhluk ke Kekalnya Allah. Secara spiritual dan filosofis, ia membersihkan ilusi ketergantungan, melahirkan doa ikhlas dan harapan murni. Urusan yang dipegang langsung-Nya selalu berujung kebaikan tak terduga. Jadikan kesunyian ini panggilan transformasi: bersandarlah hanya kepada-Nya, dan lihat bagaimana sunyi berubah menjadi simfoni rahmat.

Posting Komentar

0 Komentar