Oleh: Muhammad Yusuf
Esai ini saya susun berdasarkan kutipan kalimat bijak, "Tergigit lidah saat makan adalah contoh sempurna bahwa kita tetap bisa keliru meski sudah bertahun-tahun berpengalaman". Tulisan ini menggunakan pendekatan sufistik yang menyelami rahasia jiwa, filosofis yang merenungkan hakikat pengetahuan, psikologis yang menggali lapisan batin manusia, serta sosiologis yang menyoroti dinamika kebersamaan.
Di balik gerak halus sendok yang menyapa bibir, tersembunyi sebuah misteri: tergigit lidah saat makan. Kutipan sederhana kalimat bijak tersebut menjadi cermin jiwa yang retak, mengingatkan kita pada kerapuhan pengetahuan di tengah rutinitas paling akrab. Seperti lidah yang tahu setiap lekuk mulutnya sendiri, pengalaman panjang tak menjamin kesempurnaan. Ini bukan sekadar celah fisik, melainkan metafora mendalam tentang hakikat manusia: selalu berada di ambang kekeliruan, meski telah menari bertahun-tahun dalam irama kebiasaan.
Dari sudut pandang sufistik, tergigit lidah adalah panggilan ilahi untuk fanâ—kehancuran ego yang congkak. Rumi pernah berbisik, "Lidahmu adalah kuncinya, tapi ia sendiri yang terkunci oleh keliru." Pengalaman bertahun-tahun bagai jubah wol yang usang, menyelimuti kita dengan ilusi penguasaan. Namun, gigitan itu datang sebagai tajongan rahmat, membangunkan kita dari mimpi diri. Dalam tasawuf, ini mirip zikir yang tersendat: lidah, organ suci pengagungan Tuhan, justru terluka saat lalai. Ia mengajak kita ke maqâm tawadhu, di mana pengalaman bukan benteng, melainkan jembatan menuju Yang Maha Tahu. Seperti Ibn Arabi yang melihat segala sesuatu sebagai tajalli-Nya, gigitan lidah adalah wahyu kecil: pengetahuan manusiawi hanyalah bayang, selalu tergelincir di hadapan ilmu Rabbani yang tak terukur.
Secara filosofis, kutipan ini menggugat fondasi epistemologi Socrates: "Aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa." Pengalaman panjang—santapan harian yang ribuan kali—seharusnya menyempurnakan gerak, tapi justru membuktikan absurditas keyakinan Nietzsche tentang kehendak kuasa. Lidah, simbol logos dalam mulut, tergigit karena hubris pengalaman: kita lupa bahwa pengetahuan adalah proses tak berujung, bukan akumulasi statis. Heidegger mungkin menyebutnya sebagai "thrownness" Dasein—kita dilempar ke dunia familiar, tapi selalu asing pada dirinya sendiri. Gigitan itu adalah pemberontakan fenomena terhadap noumena Kant: pengalaman empiris tak pernah menembus dinginnya hal-hal-dalam-diri. Di sini, kekeliruan bukan kegagalan, melainkan esensi eksistensi—pengingat bahwa hidup adalah dialektika Hegel yang tak pernah selesai, gigit demi gigit menuju sintesis yang mustahil.
Dari sisi psikologis, fenomena ini menyingkap lapisan bawah sadar Freud: lidah sebagai id yang impulsif, tergigit oleh superego pengalaman yang represif. Bertahun-tahun makan membentuk skema kognitif Piaget—otomatisasi gerak yang aman—tapi kecemasan bawah sadar Jung tetap mengintai sebagai arketipe bayangan. Mengapa lidah, bagian paling sensitif diri, yang terluka? Karena pengalaman menciptakan bias konfirmasi: kita abaikan sinyal halus, seperti lapar emosional yang menyamar sebagai fisik. Gigitan itu trauma mikro, memaksa reintegrasi self—seperti terapi Gestalt yang menghidupkan kesadaran tubuh. Carl Rogers akan bilang, ini momen kongruensi: pengalaman panjang tak menjamin autentisitas; justru kekeliruan membuka ruang pertumbuhan, mengubah lidah yang luka menjadi saksi empati diri.
Dari kacamata sosiologis, tergigit lidah mencerminkan dinamika masyarakat Durkheim: norma pengalaman kolektif—cara makan bersama keluarga, ritual makan di warung—menciptakan anomi halus. Kita semua "berpengalaman" dalam norma sosial, tapi gigitan tetap datang, simbol disintegrasi solidaritas modern. Di masyarakat kolektif Indonesia, di mana makan adalah ikatan silaturahmi, kekeliruan ini mengingatkan pada teori Bourdieu tentang habitus: pengalaman kelas dan budaya membentuk gerak tak sadar, tapi selalu rentan alienasi. Berger dan Luckmann melihatnya sebagai konstruksi realitas sosial yang rapuh—lidah kita tergigit karena tekanan konformitas, lupa bahwa pengalaman bersama pun penuh kontradiksi. Di era digital, di mana "pengalaman" dibagikan via feed, gigitan ini kritik tajam: kita tetap barbar di balik topeng ahli.
Tergigit lidah adalah puisi ilahi tentang kerendahan hati. Ia mengajak kita melampaui pengalaman, menuju hikmah yang tak tergigit: kesadaran abadi bahwa kekeliruan adalah guru terindah. Dalam diam luka itu, kita temukan keabadian—bukan di tahun-tahun, tapi di setiap suapan yang sadar. Pengalaman panjang tidak.menafikan sifat dasar manusia sebagai tempatnya salah dan lupa. Karenanya, pengalaman panjang tidak seharusnya membuat manusia sombong dan membanggakan diri.
0 Komentar