Oleh: Muhammad Yusuf
Esai ini mengembangkan kutipan nasihat Syaikh Ibnu Atha'illah as-Sakandari dengan pendekatan tasawuf yang mendalam, filosofis yang tajam, psikologis yang halus, dan sosiologis yang kritis. Tulisan ini terinspirasi oleh nasihat beliau: "Takutlah bila kebaikan Allah selalu engkau peroleh pada saat engkau terus berbuat maksiat kepada-Nya. Itu bisa jadi lambat laun akan menghancurkanmu." Kata-kata Syaikh Ibnu Atha'illah as-Sakandari ini bagai angin malam yang menyusup ke relung jiwa, membangunkan dari mimpi kelimpahan yang palsu. Dalam tasawuf, ketakutan sejati bukan pada badai yang menggelegar, melainkan pada keheningan yang menyelimuti dosa, ketika rahmat Ilahi mengalir deras seperti sungai yang membawa kita ke lautan kelalaian. Ia bukan azab kasar yang merobek tabir, tapi ujian halus yang mengikis nurani, meninggalkan cangkang kosong dari esensi kemanusiaan.
Secara psikologis, kelapangan rezeki dan kemudahan urusan ini menciptakan ilusi keamanan diri, mekanisme pertahanan yang Freud sebut sebagai rasionalisasi. Manusia merasa benar, aman, bahkan diberkahi, padahal hati telah mati rasa. Rasa bersalah, yang dalam pandangan Jung adalah bayang-bayang arketipe moral, lenyap digantikan euforia sementara. Ini seperti tidur nyenyak di tepi jurang: angin sepoi tak membangunkan, justru meninabobokan hingga jatuh tanpa jerit.
Dari lensa filosofis, Nietzsche mungkin melihatnya sebagai kehendak kekuasaan yang menipu, di mana kelimpahan duniawi menutupi kehampaan eksistensial. Namun tasawuf lebih dalam: kebaikan yang tertunda teguran adalah rahmat panjang, ruang taubat yang bisa jadi jebakan tersesat. Seperti pepohonan rindang yang tumbuh liar tanpa akar iman, ia menjanjikan naungan tapi runtuh saat angin ujian datang. Ujian ini lebih berat daripada penderitaan fisik, karena menuntut kepekaan batin—ma'rifatullah—bukan sekadar ketabahan jasmani.
Sosiologis, fenomena ini meresap dalam masyarakat permisif, di mana Durkheim akan menyebutnya sebagai anomi moral: norma dosa dinormalisasi oleh kelompok. Pelanggaran menjadi rutinitas gaya hidup, dipuji sebagai kesuksesan kolektif. Lingkungan urban Jakarta, misalnya, sering merayakan kemewahan sambil mengabaikan pelanggaran etika—minuman haram di pesta mewah, riba dalam transaksi harian—seolah dosa ringan karena "semua orang begitu". Kehancuran tak lagi tragedi, tapi normalitas yang dibenarkan bersama, mengikis ikatan sosial dengan Tuhan menjadi ikatan sekuler semu.
Dalam tasawuf, hilangnya rasa bersalah adalah awal fanâ—kehancuran ego yang tak disadari. Syaikhul Akbar Ibnu Arabi mengingatkan, jiwa yang tak terguncang dosanya telah mati sebelum badan. Kesadaran yang menggetarkan hati justru kasih sayang paling keras: ia menggoncangkan agar bangkit, bukan sekadar berjalan sebagai mayat berjalan. Psikologisnya, ini restorasi superego; filosofisnya, pemanggilan kembali ke otonomi Kantian; sosiologisnya, rekonstruksi komunitas berbasis taqwa.
Jika hidupmu kian mudah sementara hatimu menjauh dari nilai yang kau yakini, sadarilah: kemudahan itu bukan hadiah, melainkan peringatan yang kau abaikan. Kembalilah, sebelum kelapangan itu jadi jurang tak berujung. Takutlah pada rahmat yang meninabobokan, karena di situlah kehancuran sejati bermula—perlahan, halus, tapi mematikan. Pemberian kebaikan Allah terbagi dua sesuai dengan sikap penerimanya. Jika kebaikan Allah makin mendekatkan pada Allah, itu nikmat, bersyukurlah. Jika kebaikan Allah itu malah membuatmu jauh dari-Nya, maka itu istidraj (jebakan), maka berhati-hatilah karena azab-Nya lebih dekat kepadamu.
0 Komentar