KEYAKINAN DAN CINTA: KOMPAS MELINTASI BADAI JIWA

Oleh: Muhammad Yusuf

Dalam hembusan angin badai kehidupan yang mengguncang jiwa, Buya Hamka menyuguhkan hikmah abadi: "Untuk melewati badai kita harus terus berjalan, bukan berhenti. Dan untuk berjalan, hanya ada dua hal yang harus terus dibawa, yaitu keyakinan dan cinta." Kata-kata ini bukan sekadar nasihat, melainkan peta sufi menuju hakikat eksistensi, di mana badai bukan musuh, tapi guru yang membangunkan ruh dari tidur kelalaian.

Badai sebagai Ujian Jiwa: Pendekatan Sufistik dan Psikologis

Bayangkan badai itu sebagai qalb yang bergolak, seperti yang digambarkan Rumi dalam mathnawi-nya: pusaran nafsu, keraguan, dan penderitaan yang menyapu fondasi diri. Secara sufistik, badai adalah fana—penghancuran ego agar baqa, keabadian ruh, lahir. Psikologisnya, Carl Jung menyebutnya sebagai konfrontasi dengan bayang-bayang (shadow self), di mana trauma masa lalu bangkit untuk diintegrasikan. Berhenti di tengahnya berarti menyerah pada stasis, di mana depresi merajalela seperti kabut yang membelenggu. Namun, berjalan terus adalah aktor resilience: Jung bilang, individuasi lahir dari perjuangan ini. Keyakinan (yaqin) menjadi kompas batin, cahaya iman yang menembus gelap, sementara cinta (mahabbah) adalah nafas ruhani yang menghidupkan setiap langkah lelah. Tanpa keduanya, jiwa mengering seperti daun di musim kemarau.

Keyakinan: Fondasi Filosofis dan Sosiologis

Filosofis, keyakinan adalah telos Aristotelian—tujuan yang memberi makna pada perjalanan. Kierkegaard menyebutnya lompatan iman, melampaui absurditas eksistensial Sartre. Dalam masyarakat modern Indonesia, di mana globalisasi menciptakan badai identitas—konflik antara tradisi dan modernitas—keyakinan menjadi jangkar kolektif. Sosiologis, Durkheim akan melihatnya sebagai solidaritas organik: keyakinan pada nilai-nilai Pancasila atau tauhid menyatukan umat di tengah krisis ekonomi atau polarisasi politik. Tanpa itu, individu tercerai-berai, seperti masyarakat feodal yang runtuh di bawah tekanan kapitalisme. Keyakinan bukan ilusi, tapi praxis: ia mendorong langkah konkret, dari aktivisme sosial hingga ibadah harian, menjaga arah meski angin menderu.

Cinta: Tenaga Psikologis-Sosiologis yang Mengalir

Cinta, pula, adalah esensi sufistik—ishq ilahi yang Al-Ghazali gambarkan sebagai obat penyembuh luka ruh. Psikologis, Erikson bilang cinta adalah intimacy versus isolation; ia melawan alienasi modern, di mana media sosial menciptakan badai kesepian. Sosiologis, Weber melihat cinta sebagai karisma yang menggerakkan perubahan sosial, seperti gerakan cinta kasih Buya Hamka dalam membangun masyarakat madani. Cinta pada keluarga, tanah air, atau Sang Pencipta memberi tenaga ketika badai ekonomi (seperti inflasi pasca-pandemi) atau bencana alam mengguncang. Ia bukan sentimentalitas lemah, tapi kekuatan dialektis Hegel: tesis penderitaan bertemu antitesis pengorbanan, lahirkan sintesis harapan.

Kesetiaan Langkah: Integrasi Holistik

Pada akhirnya, melewati badai bukan soal kecepatan, tapi kesetiaan berjalan—seperti haji ruhani yang tak tergesa. Sufistik, ini fanafillah; filosofis, eudaimonia Aristoteles; psikologis, flow Csikszentmihalyi; sosiologis, kohesi komunitas yang bertahan. Di negeri kita yang rawan gempa batin—korupsi, intoleransi—kutipan Buya Hamka mengajak: bawa keyakinan sebagai peta, cinta sebagai bahan bakar. Saat badai reda, kita temukan bukan tujuan akhir, tapi transformasi: jiwa yang lebih dalam, masyarakat yang lebih kuat. Teruslah berjalan, wahai saudara ruh—karena di balik awan, ada fajar ilahi yang menanti







Posting Komentar

0 Komentar