Oleh: Muhammad Yusuf
Ada sebuah hipotesis bahwa orang yang diremehkan seringkali lebih sukses di masa depan. Mungkin hipotesis ini ada benarnya dan mungkin juga ada salahnya. Bergantung pada bagaimana responnya. Jika disikapi secara positif maka peluang suksesnya lebih besar. Sebaliknya, jika disikapi secara negatif maka bisa berlanjut menjadi malapetaka. Namun, tulisan mengajak pembaca yang bijaksana untuk mendudukkan kosa kata "diremehkan" secara positif.
Sering kali, realitas yang paling mendalam justru tersembunyi di balik lapisan prasangka sosial yang tebal. Mereka yang diremehkan—dianggap tak berdaya, dipinggirkan ke sudut gelap tanpa harapan—malah menyimpan potensi vulkanik yang jarang terdeteksi oleh mata yang malas. Saat seseorang dijatuhi cap rendah, ia tak sekadar menelan kepahitan; ia dipaksa menembus ilusi, memandang kehidupan dengan kejernihan brutal yang langka. Dari perspektif hina itulah lahir ketangguhan purba, dorongan primal yang tak dimiliki mereka yang terbiasa dimanjakan pujian dangkal.
Referensi Angela Duckworth dalam Grit (2016) memperkuat argumen ini secara empiris: kesuksesan bukan monopoli bakat bawaan, melainkan hasil grit—kombinasi gairah jangka panjang dan ketekunan. Orang yang diremehkan kerap mengasah grit ini secara organik, melebihi mereka yang dilimpahi kepercayaan awal. Mereka bertahan dalam kesunyian, bangkit dari reruntuhan, dan bekerja tanpa sorotan—karakter yang akhirnya melontarkan mereka melampaui batas prediksi skeptis.
Kata "diremehkan" itu jika dapat dimaknai secara positif maka alasan kesuksesan, dijelaskan secara rinci, sebagai berikut:
1. Melatih ketangguhan asli dari jurang penolakan
Diremehkan bukan sekadar luka; ia adalah forge api yang memaksa seseorang menemukan jalur bertahan mandiri. Tanpa bantalan dukungan eksternal atau ekspektasi manis, yang tersisa hanyalah kehendak baja untuk membantah vonis itu. Ketangguhan lahir perlahan, tapi akarnya dalam—bukan dari euforia sementara, melainkan dari erosi panjang oleh keraguan. Fenomena ini didukung psikologi resiliensi Carol Dweck (growth mindset): pengalaman diremehkan mendorong pandangan diri sebagai proyek berkembang, bukan entitas statis. Hasilnya, fondasi tak tergoyahkan untuk ambisi besar.
2. Membebaskan dari belenggu ekspektasi sosial
Ironisnya, rendahnya ekspektasi justru menciptakan ruang vakum kreativitas. Tak ada tekanan untuk sempurna, tak ada sorotan pengawas—hanya kebebasan bereksperimen: gagal, iterasi, bangkit. Ini kontras tajam dengan "beban pujian" yang melumpuhkan banyak talenta, seperti dijelaskan dalam studi impostor syndrome.Di ruang abu-abu ini, ketekunan organik tumbuh liar. Keberhasilan akhir bukan bayang-bayang ekspektasi orang lain, melainkan ritme autentik diri—bukti bahwa kebebasan lahir dari ketidakpedulian.
3. Memaksa pembangunan kepercayaan internal yang kokoh
Tanpa kepercayaan orang lain, seseorang dipaksa menempa keyakinan dari dalam: proses alkimia yang menyakitkan tapi abadi. Ini bukan kepercayaan rapuh bergantung pujian, melainkan benteng mandiri yang tahan guncangan kritik atau kegagalan berulang.Logika kritis: self-efficacy Bandura (1977) menegaskan bahwa kepercayaan internal ini—ditempa skeptisisme eksternal—menjadi prediktor utama ketahanan jangka panjang, unggul atas versi superfisial.
4. Menghancurkan zona nyaman, membangun momentum tak terhentikan
Pujian berlebih menciptakan stagnasi: "sudah cukup baik" menjadi mantra zona nyaman. Sebaliknya, diremehkan mencabut kemewahan itu; setiap langkah adalah pemberontakan melawan batas buatan orang lain. Tak ada pilihan selain evolusi konstan.Konteks evolusioner: seperti spesies yang bertahan di nis habitat ekstrem, mereka menjadi adaptif hiperaktif—belajar, bergerak, evaluasi diri—melesat melebihi yang pernah "aman".
5. Menyulut motivasi primal, bukan ambisi kosmetik
Motivasi mereka murni: dorongan intrinsik untuk bertahan dan membuktikan nilai esensial, bukan pencitraan sosial atau validasi eksternal. Ini konsisten, tahan lama—tak goyah oleh absennya tepuk tangan.Kritis: teori self-determination Ryan & Deci menunjukkan motivasi intrinsik superior untuk perjalanan panjang; pertumbuhan mereka tak berhenti di puncak sementara, tapi terus mengalir seperti sungai abadi.
6. Mengasah intuisi sosial yang tajam layak strateg
Diremehkan memaksa pengamatan hiperpeka: membaca dinamika sosial, mengukur arus kuasa sebelum bergerak. Ini lahir dari tekanan psikologis kronis, menghasilkan keputusan strategis yang presisi.Aset ini krusial di dunia kompetitif—seperti catur grandmaster yang antisipasi 10 langkah ke depan, mereka unggul karena terlatih di arena survival sejak dini.
7. Mengarahkan fokus eksklusif pada hasil nyata
Kata-kata hampa bagi yang diremehkan; hanya hasil konkret yang bicara. Mereka bekerja diam-diam, fokus laser: tenang, dalam, tak terganggu debat verbal.Transformasi pandangan terjadi otomatis saat prestasi muncul—bukti ironi bahwa prediksi skeptis sering runtuh di altar realitas.
Diremehkan bukan kutukan, melainkan paradoks keunggulan: laboratorium psikologis yang memahat karakter elit, tak dimiliki semua orang. Dari jurang hina, banyak legenda melompat ke puncak tak terduga. Jika hari ini Anda diremehkan, anggap itu inisiasi suci—titik nol perjalanan epik yang akan menyanggakan dunia, termasuk bayang diri Anda sendiri.
Pesan moral tulisan ini sejalan dengan petunjuk al-Quran, tepatnya Q.S. al-Hujurat: 11:
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum (laki-laki) mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka (yang mengolok). Dan jangan pula perempuan (mengolok-olok) perempuan lain, boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka (yang mengolok). Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan pula kamu panggil sesamamu dengan gelar yang jelek. Seburuk-buruk nama adalah nama pelanggar (fisq) setelah beriman. Barangsiapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang zalim."
0 Komentar