Penjelasan Ulama
Ayat keempat surah Al-Qamar memiliki keterkaitan erat dengan ayat sebelumnya, yang berbicara tentang penolakan kaum musyrik terhadap kebenaran, meskipun mereka telah disampaikan bukti-bukti nyata. "Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti keinginan mereka, padahal setiap urusan telah ada ketetapannya" (Q.S. Al-Qamar: 3). Ayat ini menyoroti kecenderungan manusia yang menolak kebenaran karena hawa nafsu, bukan karena kurangnya bukti.
Kemudian, ayat keempat menegaskan bahwa berbagai berita (نَبَأ, naba’) telah disampaikan kepada mereka, mengandung peringatan keras (muzdajar). Ini menggambarkan konsekuensi dari penolakan terhadap ilmu dan kebenaran. Dalam konteks pendidikan dan sains modern, hal ini dapat dihubungkan dengan bagaimana masyarakat yang menolak fakta ilmiah atau prinsip pendidikan berbasis riset akan menghadapi dampak negatif. Misalnya, penolakan terhadap teori perubahan iklim atau vaksinasi berbasis sains dapat menyebabkan bencana global.
Selain itu, ayat ini juga relevan dalam pedagogi kritis, yang menekankan pentingnya membangun kesadaran ilmiah dan kritis dalam pendidikan. Seperti halnya para nabi yang membawa berita kebenaran kepada umatnya, para pendidik juga memiliki tugas menyampaikan ilmu yang benar dan membangun pola pikir berbasis data. Jika manusia tetap memilih hawa nafsu dan menolak kebenaran ilmiah, mereka berisiko menghadapi konsekuensi serius, sebagaimana peringatan dalam ayat ini.
Tinjauan Kebahasaan
وَلَقَدْ جَاۤءَهُمْ مِّنَ الْاَنْبَاۤءِ مَا فِيْهِ مُزْدَجَرٌۙ ٤
Terjemahnya: "Sungguh, benar-benar telah datang kepada mereka beberapa berita yang di dalamnya terdapat ancaman (terhadap orang-orang kafir)" (4).
Ayat ini menggunakan bentuk laqad (لَقَدْ) yang menunjukkan kepastian. Kata jā’ahum (جَاۤءَهُمْ) dalam bentuk kata kerja lampau (fi’il madhi) menekankan bahwa berita-berita peringatan sudah datang, bukan sekadar janji di masa depan. Istilah min al-anbā’ (مِنَ الْاَنْبَاۤءِ) merujuk pada kisah-kisah umat terdahulu yang dihancurkan akibat keingkaran mereka, memperkuat hujjah terhadap kaum yang menolak. Kata muzdajar (مُزْدَجَرٌ) dalam bentuk mashdar memberi makna peringatan yang sangat kuat. Struktur ini menyusun argumen dengan logis: ada berita datang, mengandung ancaman, namun mereka tetap mengingkarinya.
Ayat ini menggunakan ta’kid (penguatan) dengan laqad untuk menegaskan realitas peringatan. Diksi muzdajar memiliki nuansa hiperbolis yang menunjukkan peringatan yang seharusnya cukup untuk mengguncang hati manusia. Pemakaian bentuk ma fīhi muzdajar (مَا فِيْهِ مُزْدَجَرٌ) menunjukkan bahwa seluruh berita itu sendiri sudah cukup menjadi peringatan, tanpa perlu tambahan bukti lain. Gaya bahasa ini mirip dengan teknik argumentasi ilmiah modern yang menekankan data yang sudah cukup jelas untuk membuktikan suatu fakta. Namun, tetap ada manusia yang menolak, sebagaimana dijelaskan dalam ayat sebelumnya.
Kata anbā’ (أَنْبَاءُ) tidak hanya berarti berita biasa, tetapi berita penting dengan konsekuensi besar, mirip dengan news dalam jurnalisme atau scientific findings dalam sains. Sementara itu, muzdajar (مُزْدَجَرٌ) berasal dari akar kata زجر (zajara), yang berarti mencegah atau memperingatkan keras. Dalam konteks ini, kata tersebut menekankan bahwa berita yang datang bukan sekadar informasi, tetapi memiliki fungsi edukatif yang mengharuskan respons tertentu. Konsep ini sejalan dengan pendidikan modern, di mana informasi bukan hanya disampaikan, tetapi juga harus dipahami dan diinternalisasi agar menghasilkan perubahan perilaku yang positif.
Kata anbā’ melambangkan narasi sejarah yang berisi pesan moral. Ini menunjukkan bahwa sejarah bukan sekadar rekaman masa lalu, tetapi juga simbol dari konsekuensi pilihan manusia. Kata muzdajar bertindak sebagai simbol peringatan universal yang dapat dikontekstualisasikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk ilmu pengetahuan. Misalnya, dalam sains, teori dan eksperimen bertindak sebagai "peringatan" bagi mereka yang mengabaikan hukum alam. Penolakan terhadap fakta ilmiah dapat diibaratkan seperti kaum terdahulu yang mengabaikan peringatan nabi, yang akhirnya membawa kehancuran bagi mereka. Ayat ini mengajarkan bahwa memahami tanda-tanda dan mengambil hikmah adalah kunci bagi kemajuan.
Penjelasan Ulama Tafsir
Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini dengan menjelaskan bahwa kaum musyrikin Makkah telah menerima banyak kabar dari umat-umat terdahulu yang dihancurkan akibat kedurhakaan mereka terhadap para rasul. Berita-berita tersebut mencakup kisah kaum Nabi Nuh, ‘Ad, Tsamud, serta umat-umat lain yang dihukum karena mendustakan kebenaran. Dalam ayat ini, kata "مُزْدَجَرٌ" bermakna "peringatan keras" atau "ancaman serius" yang seharusnya cukup untuk menyadarkan mereka agar tidak mengulangi kesalahan bangsa-bangsa terdahulu. Namun, kaum musyrikin tetap bersikeras dalam kekufuran mereka.
Ibnu Abbas juga menekankan bahwa kisah-kisah ini bukan sekadar cerita, tetapi bukti nyata dari hukum kausalitas dalam ketetapan Allah. Hukuman bagi pendusta kebenaran akan selalu terjadi, baik di dunia maupun di akhirat. Konsep ini selaras dengan prinsip keadilan Tuhan yang tidak membiarkan kezaliman tanpa konsekuensi.
Sedangkan Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan lebih mendalam, menghubungkannya dengan berbagai kejadian sejarah. Menurutnya, "الْأَنبَاءِ" (berita-berita) merujuk pada kisah-kisah umat terdahulu yang mengalami kehancuran akibat mendustakan para nabi. Kata "مُزْدَجَرٌ" menunjukkan bahwa berita-berita ini tidak hanya sekadar informasi, tetapi juga sebagai peringatan dan pembelajaran bagi manusia agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Ibnu Katsir menekankan bahwa jika seseorang tidak mengambil pelajaran dari sejarah, mereka akan mengulangi kesalahan yang sama dan mendapat hukuman yang setimpal. Tafsirnya mengaitkan peringatan ini dengan ketetapan sunnatullah (hukum alam dan sosial), di mana kemunduran dan kehancuran suatu kaum merupakan akibat dari tindakan mereka sendiri.
Relevansinya dengan Sains dan Pendidikan
Konsep dalam ayat ini memiliki korelasi dengan ilmu sejarah dan sosiologi modern. Berbagai studi menunjukkan bahwa peradaban yang gagal belajar dari sejarah cenderung mengulang kesalahan yang sama. Arnold Toynbee dalam teori peradabannya menegaskan bahwa peradaban jatuh bukan karena faktor eksternal semata, tetapi karena kegagalan internal dalam merespons tantangan moral dan sosial.
Selain itu, dalam ilmu psikologi dan neurosains, penelitian menunjukkan bahwa manusia cenderung mengabaikan peringatan jika tidak memahami atau tidak merasa terancam secara langsung. Hal ini selaras dengan sifat kaum musyrikin yang tetap mendustakan kebenaran meskipun telah ada banyak bukti.
Adapun dalam konteks pendidikan, ayat ini mengajarkan pentingnya pembelajaran berbasis sejarah dan moral. Model pendidikan modern menekankan critical thinking dan historical analysis agar siswa dapat memahami sebab-akibat dari suatu peristiwa. Misalnya, dalam pembelajaran sejarah, siswa tidak hanya menghafal kejadian tetapi juga menganalisis dampaknya terhadap peradaban.
Pendekatan education for sustainable development (ESD) yang diperkenalkan UNESCO juga selaras dengan ayat ini. Pembelajaran tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan keterampilan akademik, tetapi juga untuk menanamkan kesadaran moral agar generasi mendatang tidak mengulangi kesalahan yang merusak lingkungan, sosial, dan moral.
Riset yang Relevan
Pertama, sebuah riset yang dilakukan oleh Dr. Ahmed Youssef (2023), berjudul: "The Impact of Historical Warnings on Modern Societal Behavior" dengan menerapkan metode: penelitian kualitatif dengan analisis historis terhadap peradaban yang mengalami kehancuran, serta survei terhadap pola pikir masyarakat modern terkait peringatan sejarah.Hasil penelitian menemukan bahwa masyarakat yang memiliki pendidikan sejarah yang kuat lebih mampu menghindari pola kehancuran sosial dan ekonomi. Sementara itu, kelompok yang mengabaikan pelajaran dari sejarah cenderung mengalami kemunduran moral dan politik, yang pada akhirnya berujung pada krisis sosial.
Kedua, riset Prof. Lisa Carter (2024) berjudul: "The Role of Fear-Based Warnings in Educational Psychology". Penelitian ini menerapkan penelitian eksperimen psikologis dengan melibatkan dua kelompok siswa; satu kelompok diberi peringatan berbasis ancaman, sementara kelompok lain diberi peringatan berbasis motivasi positif. Hasilnya menunjukkan bahwa peringatan berbasis ancaman efektif dalam jangka pendek tetapi kurang berkelanjutan dalam perubahan perilaku jangka panjang. Sementara itu, pendekatan yang menggabungkan ancaman dengan solusi edukatif lebih efektif dalam membentuk pola pikir yang lebih bertanggung jawab.
Dengan demikian, ayat ini mengandung pelajaran penting tentang bagaimana manusia harus belajar dari sejarah agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tafsir Ibnu Abbas dan Ibnu Katsir menegaskan bahwa berita-berita umat terdahulu adalah bukti nyata dari sunnatullah. Dalam sains modern, konsep ini berkaitan dengan studi sejarah dan psikologi perilaku, sementara dalam pendidikan, konsep ini mendukung metode pembelajaran berbasis sejarah dan moral. Dua riset terbaru semakin memperkuat pemahaman ini dengan menunjukkan bagaimana peringatan berbasis sejarah dan psikologi dapat mempengaruhi perilaku masyarakat.
0 Komentar