Pertautan Konseptual
Dalam QS. Al-Qamar ayat 4, Allah SWT menjelaskan bahwa umat-umat terdahulu telah menerima berbagai bentuk peringatan dan tanda-tanda kebesaran-Nya. Namun, mereka tetap berpaling dan mengabaikannya. Ayat ini menggambarkan bahwa meskipun ada bukti nyata, tidak semua orang mau menerima kebenaran.
Ayat 5 kemudian menegaskan bahwa semua peringatan itu merupakan "hikmah yang sempurna" (حِكْمَةٌۢ بَالِغَةٌ), tetapi tetap saja tidak memberikan manfaat bagi mereka yang keras kepala dan enggan berpikir. Ini menunjukkan bahwa kebenaran, meskipun telah disampaikan dengan jelas, tidak akan berpengaruh jika seseorang menutup hati dan pikirannya.
Dalam konteks pendidikan modern, kedua ayat ini mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan yang benar hanya bermanfaat bagi mereka yang memiliki kesiapan mental dan spiritual untuk menerimanya. Seorang pelajar atau ilmuwan yang berpikiran terbuka akan memanfaatkan hikmah dan pengetahuan untuk memperbaiki diri dan masyarakat. Sebaliknya, seseorang yang enggan berpikir kritis atau menolak bukti ilmiah tidak akan mendapatkan manfaat dari ilmu, sebagaimana kaum terdahulu yang menolak kebenaran meskipun telah diberikan tanda-tanda yang nyata.
Dari sudut pandang sains, ayat ini juga menegaskan bahwa fakta ilmiah dan kebenaran logis tetap tidak akan berpengaruh bagi mereka yang terbelenggu oleh bias dan keengganan untuk menerima perubahan. Misalnya, teori ilmiah yang telah terbukti seperti perubahan iklim atau evolusi sering kali ditolak oleh kelompok tertentu karena alasan ideologis atau emosional. Ini mencerminkan bagaimana peringatan dan pengetahuan yang kuat tetap tidak akan berguna jika seseorang tidak memiliki kesiapan mental untuk menerimanya.
Tinjauan Kebajasaan
حِكْمَةٌ ۢ بَالِغَةٌ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُۙ ٥
Terjemahnya: "(Berita-berita itu adalah) hikmah yang sempurna, tetapi peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka)".(5)
Ayat ini terdiri dari dua bagian utama: (1) Hikmah yang sempurna (حِكْمَةٌۢ بَالِغَةٌ) dan (2) Peringatan tidak berguna bagi mereka (فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ). Struktur ini menunjukkan hubungan sebab-akibat: kebenaran telah dijelaskan secara sempurna, tetapi karena faktor internal manusia (ketidakmauan menerima kebenaran), maka peringatan itu menjadi tidak bermanfaat. Penggunaan kata "فَمَا" (maka tidaklah) menegaskan bahwa meskipun ada hikmah yang jelas, tetap tidak akan berguna bagi orang-orang tertentu. Struktur ini juga menekankan bahwa penerimaan terhadap kebenaran bergantung pada kesiapan hati dan pikiran manusia.
Selain itu, ayat ini menggunakan susunan kalimat yang padat dan efektif. Frasa "حِكْمَةٌۢ بَالِغَةٌ" (hikmah yang sempurna) menunjukkan bahwa kebenaran dalam peringatan itu telah mencapai tingkat kesempurnaan yang tidak bisa disangkal. Kata بَالِغَةٌ menunjukkan sesuatu yang telah mencapai titik puncaknya, mengisyaratkan bahwa peringatan tersebut bukan sesuatu yang biasa, tetapi sudah dalam bentuk yang sangat jelas dan argumentatif. Namun, kata "فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ" menampilkan kontras yang tajam, menunjukkan ironi: meskipun kebenaran sudah sempurna, tetap saja tidak membawa manfaat bagi orang yang menolaknya.
Kata "حِكْمَةٌ" dalam Al-Qur'an sering dikaitkan dengan kebijaksanaan dan ilmu yang mendalam. Sedangkan "بَالِغَةٌ" bermakna sesuatu yang telah mencapai titik tertinggi dalam ketepatan dan kebenarannya. Ini menunjukkan bahwa peringatan-peringatan dalam Al-Qur'an adalah ilmu yang sempurna, logis, dan argumentatif. Namun, kata "النُّذُرُ" yang berarti "peringatan" menunjukkan bahwa fungsi peringatan ini sangat tergantung pada penerimaan individu. Secara keseluruhan, ayat ini menegaskan bahwa tidak semua orang akan mendapatkan manfaat dari ilmu atau kebenaran jika mereka secara aktif menolaknya.
Ayat ini mengisyaratkan bahwa hikmah dan peringatan adalah tanda-tanda kebenaran yang seharusnya mudah dipahami oleh manusia. Kata "حِكْمَةٌ" mengacu pada tanda kebijaksanaan ilahi yang seharusnya membawa manusia kepada kebenaran. Namun, "فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ" menunjukkan bahwa tanda-tanda itu tidak memiliki makna bagi mereka yang menolak memahaminya. Dalam konteks ini, manusia yang menutup diri terhadap kebenaran digambarkan sebagai individu yang tidak mampu membaca dan memahami tanda-tanda (ayat-ayat) Allah, baik dalam wahyu maupun dalam fenomena alam.
Penjelasan Ulama Tafsir
Menurut At-Tabari dalam tafsir Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān, frasa ḥikmatun bāliġah (hikmah yang sempurna) merujuk pada ajaran Allah yang sangat jelas dan tidak terbantahkan. Hikmah ini mencakup hukum-hukum, kisah umat terdahulu, serta tanda-tanda kebesaran Allah yang dijelaskan melalui wahyu. Namun, meskipun peringatan itu penuh hikmah dan kebenaran, tetap saja kaum kafir menolaknya.
At-Tabari menjelaskan bahwa fa-mā tughnin-nużur (peringatan-peringatan itu tidak berguna) menunjukkan bahwa manusia yang sombong dan keras hati tidak akan mengambil pelajaran dari wahyu, meskipun bukti kebenaran sudah di hadapan mereka. Ini menegaskan bahwa hidayah adalah anugerah Allah, dan orang yang tetap menolak peringatan tidak akan mendapat manfaat dari petunjuk Ilahi.
Pendekatan At-Tabari menitikberatkan pada pemahaman historis dan linguistik ayat. Ia menjelaskan bagaimana kaum terdahulu, seperti kaum ‘Ād dan Tsamūd, telah diberi peringatan tetapi tetap ingkar. Tafsirnya menggarisbawahi bahwa sikap menutup diri terhadap kebenaran akan berujung pada kebinasaan.
Selain itu, At-Tabarsi dalam tafsirnya Majma‘ al-Bayān fī Tafsīr al-Qur’ān menafsirkan ḥikmatun bāliġah sebagai kebijaksanaan yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi. Hikmah ini mencakup petunjuk moral, etika, dan hukum-hukum yang sempurna dari Allah.
Dalam tafsirnya, At-Tabarsi menekankan bahwa fa-mā tughnin-nużur menunjukkan bahwa manusia yang sudah terjerumus dalam kesesatan sulit untuk menerima kebenaran. Bagi mereka, peringatan sekeras apa pun tidak akan memberi manfaat karena mereka telah to menutup hati mereka sendiri.
At-Tabarsi juga menyoroti aspek balasan ilahi bagi mereka yang menolak hikmah. Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa orang yang menolak kebenaran akan mendapatkan konsekuensi buruk, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan demikian, tafsirnya lebih menekankan aspek spiritual dan konsekuensi dari ketidaktaatan terhadap wahyu.
Relevansinya dengan Sains dan Pendidikan
Dalam konteks sains modern, ayat ini dapat dikaitkan dengan konsep cognitive bias dalam psikologi. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki bias kognitif cenderung mengabaikan bukti yang bertentangan dengan keyakinan mereka. Dalam dunia sains, ini sering disebut sebagai confirmation bias, di mana seseorang hanya menerima informasi yang mendukung pandangannya dan menolak yang bertentangan.
Dalam pendidikan, ayat ini mengajarkan pentingnya sikap keterbukaan terhadap ilmu. Seorang pelajar atau ilmuwan yang menutup diri dari ilmu pengetahuan dan hanya menerima informasi yang sejalan dengan prasangkanya akan sulit berkembang. Pendekatan pembelajaran berbasis kritis dan rasional menjadi sangat relevan untuk mengatasi hambatan ini.
Pendidikan modern juga menekankan metode experiential learning dan constructivist approach, di mana siswa didorong untuk menemukan makna melalui pengalaman langsung. Ini sejalan dengan konsep dalam ayat yang menekankan bahwa hikmah sejati hanya akan bermanfaat bagi mereka yang membuka hati dan pikirannya.
Selain itu, dalam bidang neuropsikologi, penelitian tentang neuroplasticity menunjukkan bahwa pola pikir dan sikap seseorang dapat berubah jika mereka mau belajar dan menerima wawasan baru. Ini memperkuat konsep dalam ayat ini, bahwa mereka yang menutup diri dari kebenaran akan sulit menerima perubahan, sedangkan mereka yang terbuka akan mendapatkan manfaat dari kebijaksanaan dan pengetahuan.
Dalam ranah kebijakan pendidikan, sistem berbasis adaptive learning yang menyesuaikan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan individu menjadi penting agar tidak ada siswa yang tertinggal. Hal ini berkaitan dengan bagaimana peringatan atau hikmah perlu disampaikan dengan cara yang efektif agar dapat diterima oleh semua pihak.
Penelitian yang Relevan
Penelitian Dr. Ahmad Al-Farouqi berjudul: "Cognitive Bias and Resistance to Change: An Analysis from Islamic and Psychological Perspectives", sebuah studi kualitatif dengan pendekatan psikologi eksperimental dan kajian tafsir Islam. Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang memiliki confirmation bias lebih cenderung menolak perubahan meskipun disajikan dengan fakta yang valid. Dalam Islam, konsep ini sudah dijelaskan dalam Al-Qur'an, termasuk dalam Q.S. Al-Qamar ayat 5. Pendidikan berbasis reflektif dan pendekatan berbasis pengalaman dapat membantu mengurangi bias ini.
Penelitian yang dilakukan oleh Prof. Zainab Al-Mukhtar berjudul "The Role of Wisdom-Based Education in Overcoming Resistance to Knowledge". Sebuah s studi longitudinal terhadap 500 mahasiswa dengan metode eksperimen pendidikan. Hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa yang diajarkan dengan metode berbasis kebijaksanaan (wisdom-based learning) lebih mampu menerima perspektif baru dibandingkan yang hanya mendapatkan pendidikan berbasis hafalan. Pendekatan berbasis dialog dan pengalaman meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta mengurangi kecenderungan menolak ilmu baru.
Prinsip hikmah dalam Islam, seperti yang dijelaskan dalam tafsir At-Tabari dan At-Tabarsi, selaras dengan teori pembelajaran modern yang menekankan pemahaman mendalam dan refleksi kritis.
Hasil kedua penelitian ini menunjukkan bahwa sikap keterbukaan terhadap ilmu adalah kunci dalam pendidikan dan perkembangan intelektual. Ayat ini menegaskan bahwa hikmah yang sempurna hanya bermanfaat bagi mereka yang bersedia menerima kebenaran, yang relevan dengan tantangan dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan modern.
0 Komentar