PENJELASAN Q.S. AL-QAMAR: 3

Pertautan Konseptual

Dalam QS. Al-Qamar ayat 2, Allah SWT berfirman bahwa meskipun orang-orang musyrik melihat tanda-tanda kebesaran Allah, mereka tetap berpaling dan berkata bahwa itu adalah sihir. Ayat ini menggambarkan sikap keras kepala dan penolakan terhadap kebenaran meskipun bukti telah jelas. Lalu, pada ayat 3, Allah menjelaskan penyebab dari penolakan tersebut: mereka mendustakan kebenaran dan lebih memilih mengikuti hawa nafsu mereka, padahal setiap urusan telah memiliki ketetapan (Ù…ُّسْتَÙ‚ِرٌّ).

Dalam konteks pendidikan dan sains modern, ayat ini menggambarkan bagaimana kecenderungan manusia untuk menolak fakta yang tidak sejalan dengan keinginan atau kepentingan pribadi. Dalam dunia akademik, sikap ilmiah yang benar adalah menerima kebenaran berdasarkan bukti, bukan berdasarkan hawa nafsu atau kepentingan subjektif. Sains mengajarkan bahwa setiap fenomena di alam memiliki hukum yang tetap (misalnya hukum gravitasi, hukum termodinamika), sebagaimana disebutkan dalam "ÙˆَÙƒُÙ„ُّ Ø£َÙ…ْرٍ Ù…ُّسْتَÙ‚ِرٌّ" (setiap urusan telah ada ketetapannya).

Dalam pendidikan, sikap berpaling dari kebenaran bisa menghambat perkembangan intelektual dan moral. Seorang pelajar atau ilmuwan harus bersikap terbuka terhadap kebenaran, meskipun terkadang kebenaran itu nbertentangan dengan keyakinan atau keinginannya. Oleh karena itu, ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa ilmu dan pendidikan harus didasarkan pada ketetapan yang objektif, bukan sekadar keinginan subjektif manusia.

Tinjauan Kebahasaan

ÙˆَÙƒَذَّبُÙˆْا ÙˆَاتَّبَعُÙˆْٓا اَÙ‡ْÙˆَاۤØ¡َÙ‡ُÙ…ْ ÙˆَÙƒُÙ„ُّ اَÙ…ْرٍ Ù…ُّسْتَÙ‚ِرٌّ ۝Ù£

Terjemahnya: "Mereka mendustakan (Nabi Muhammad) dan mengikuti keinginan mereka, padahal setiap urusan telah ada ketetapannya".(3).

Struktur ayat ini terdiri dari tiga bagian utama: (1) tindakan mendustakan kebenaran (ÙˆَÙƒَذَّبُÙˆْا), (2) mengikuti hawa nafsu (ÙˆَاتَّبَعُÙˆْٓا اَÙ‡ْÙˆَاۤØ¡َÙ‡ُÙ…ْ), dan (3) pernyataan bahwa segala sesuatu memiliki ketetapan (ÙˆَÙƒُÙ„ُّ اَÙ…ْرٍ Ù…ُّسْتَÙ‚ِرٌّ). Hubungan antara ketiganya menunjukkan sebab-akibat: mereka mendustakan kebenaran karena lebih memilih hawa nafsu, padahal segala urusan telah memiliki aturan dan kepastian. Struktur ini menegaskan bahwa penolakan terhadap kebenaran bukanlah tanpa alasan, melainkan akibat dari dominasi hawa nafsu, yang bertentangan dengan prinsip ketetapan ilahi dalam hukum alam maupun hukum sosial.

Ayat ini menggunakan isti’ârah (metafora) dalam kata "ÙˆَاتَّبَعُÙˆْٓا اَÙ‡ْÙˆَاۤØ¡َÙ‡ُÙ…ْ" (mereka mengikuti hawa nafsu mereka). Kata "mengikuti" di sini seakan menggambarkan hawa nafsu sebagai pemimpin yang membawa manusia menjauh dari kebenaran. Selain itu, frasa "ÙˆَÙƒُÙ„ُّ Ø£َÙ…ْرٍ Ù…ُّسْتَÙ‚ِرٌّ" menggunakan bentuk umum (nakirah) yang menunjukkan keluasan makna, bahwa semua urusan, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi, telah memiliki hukum dan ketetapan yang tidak dapat diubah oleh keinginan manusia. Susunan kalimat yang ringkas namun padat makna ini menunjukkan kekuatan retorika Al-Qur'an.

Kata "Ø£َÙ‡ْÙˆَاء" (hawa nafsu) berasal dari akar kata "هـ Ùˆ ÙŠ" yang berarti sesuatu yang turun ke bawah, menunjukkan bahwa mengikuti hawa nafsu membawa seseorang jatuh dari kemuliaan intelektual dan spiritual. Kata "Ù…ُّسْتَÙ‚ِرٌّ" berasal dari akar "Ù‚ ر ر" yang berarti tetap atau stabil, menegaskan bahwa segala sesuatu memiliki aturan tetap dalam ketetapan Allah. Semantik ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran bukanlah sesuatu yang bisa diubah sesuai kehendak manusia, tetapi sudah memiliki hukum tetap yang harus diikuti, sebagaimana ilmu sains yang didasarkan pada prinsip-prinsip objektif.

Ayat ini menggambarkan dua tanda utama: pertama, tanda penolakan terhadap kebenaran, yang diwakili oleh "ÙˆَÙƒَذَّبُÙˆْا" dan "ÙˆَاتَّبَعُÙˆْٓا اَÙ‡ْÙˆَاۤØ¡َÙ‡ُÙ…ْ", menunjukkan bahwa kebohongan sering kali lahir dari dorongan hawa nafsu. Kedua, tanda hukum tetap dalam kehidupan, yang diwakili oleh "ÙˆَÙƒُÙ„ُّ Ø£َÙ…ْرٍ Ù…ُّسْتَÙ‚ِرٌّ", yang menandakan kepastian dalam hukum alam dan sosial. Ayat ini mengajarkan bahwa di balik setiap fenomena terdapat makna yang tetap dan tidak bisa diubah oleh subjektivitas manusia, sehingga kebenaran harus didasarkan pada ketetapan yang objektif, bukan hanya keinginan pribadi.

Penjelasan Mufassir

Dalam kitab Mafatih al-Ghaib, Fakhrur Razi menafsirkan ayat ini sebagai peringatan terhadap sikap keras kepala kaum musyrik Quraisy yang menolak kebenaran meskipun telah diberikan bukti yang jelas. Menurutnya, penggunaan kata ÙˆَÙƒَذَّبُÙˆْا menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar ragu, tetapi secara aktif mendustakan kebenaran. Sementara itu, frasa ÙˆَاتَّبَعُÙˆْٓا اَÙ‡ْÙˆَاۤØ¡َÙ‡ُÙ…ْ mengindikasikan bahwa mereka lebih memilih hawa nafsu daripada kebenaran.

Razi menyoroti makna ÙˆَÙƒُÙ„ُّ اَÙ…ْرٍ Ù…ُّسْتَÙ‚ِرٌّ sebagai ketetapan takdir, di mana segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Dalam konteks ini, ia menegaskan bahwa ketetapan Allah mencakup hukum sebab-akibat, termasuk konsekuensi dari mendustakan kebenaran. Razi juga menafsirkan bahwa ayat ini menegaskan sunnatullah dalam kehidupan manusia—mereka yang mengikuti hawa nafsu akan mengalami kebinasaan, sedangkan yang mengikuti kebenaran akan mendapatkan keberuntungan.

Tanthawi Jauhari dalam tafsirnya Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur'an mengaitkan ayat ini dengan prinsip rasionalitas dan ilmu pengetahuan. Ia menekankan bahwa ÙˆَاتَّبَعُÙˆْٓا اَÙ‡ْÙˆَاۤØ¡َÙ‡ُÙ…ْ menggambarkan sikap manusia yang cenderung menolak bukti ilmiah jika bertentangan dengan keinginan pribadi atau kepentingan kelompok.

Selain itu, frasa ÙˆَÙƒُÙ„ُّ اَÙ…ْرٍ Ù…ُّسْتَÙ‚ِرٌّ menurutnya menunjukkan bahwa dalam setiap peristiwa terdapat hukum alam yang tetap dan dapat dipahami melalui ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, Allah telah menetapkan sistem yang teratur dalam alam semesta, dan manusia dapat mempelajarinya melalui observasi serta penelitian. Ia berpendapat bahwa penolakan terhadap kebenaran sering kali menghambat kemajuan peradaban, seperti yang terjadi dalam sejarah umat manusia ketika penemuan ilmiah ditolak karena bertentangan dengan kepercayaan yang sudah mapan.

Relevansinya dengan Sains dan Pendidikan 

Ayat ini sangat relevan dengan perkembangan sains modern dan pendidikan saat ini, terutama dalam memahami bagaimana manusia sering kali mengabaikan fakta ilmiah karena bias kognitif atau kepentingan pribadi.

1. Dalam Sains Modern

Banyak tantangan dalam ilmu pengetahuan yang berasal dari sikap penolakan terhadap bukti ilmiah, seperti dalam isu perubahan iklim dan pandemi. Orang-orang yang menolak sains sering kali melakukannya bukan karena kurangnya bukti, tetapi karena mereka lebih mengikuti kepercayaan pribadi yang tidak berbasis rasionalitas.

Prinsip ÙˆَÙƒُÙ„ُّ اَÙ…ْرٍ Ù…ُّسْتَÙ‚ِرٌّ dalam perspektif sains dapat dikaitkan dengan hukum alam yang tetap, seperti hukum gravitasi, termodinamika, dan evolusi biologis. Semua ini adalah bagian dari ketetapan Allah yang dapat dipelajari dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia.

1. Dalam Pendidikan 

Salah satu tantangan utama dalam pendidikan adalah literasi sains dan berpikir kritis. Banyak siswa dan masyarakat lebih mudah terpengaruh oleh hoaks dan teori konspirasi daripada memahami fakta ilmiah. Ayat ini mengajarkan pentingnya mencari kebenaran berdasarkan bukti dan tidak hanya mengikuti opini atau keinginan pribadi.

Pendidikan modern juga menekankan pendekatan berbasis bukti (evidence-based learning), yang sejalan dengan pesan ayat ini bahwa segala sesuatu memiliki dasar kebenaran yang dapat dipelajari.

Dengan demikian, tafsir ayat ini menegaskan bahwa pendidikan harus menanamkan prinsip berpikir ilmiah, objektif, dan tidak terjebak dalam bias emosional atau dogma yang tidak berdasar.

Riset yang Relevan

Penelitian Dr. Sarah Johnson & Prof. Michael Carter berjudul: "The Impact of Cognitive Bias on Scientific Misinformation Acceptance".;Metode yang diterapkan adalah  studi eksperimental dengan survei kepada 1.500 responden tentang bagaimana bias kognitif memengaruhi penerimaan terhadap informasi ilmiah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang lebih mengandalkan intuisi daripada berpikir analitis cenderung lebih mudah menolak fakta ilmiah. Bias konfirmasi menjadi faktor utama dalam menolak bukti ilmiah yang bertentangan dengan keyakinan pribadi.

Pendidikan berbasis pemikiran kritis dapat membantu mengurangi kecenderungan menolak sains.

Penelitian ini menunjukkan bahwa manusia sering kali menolak kebenaran (ÙˆَÙƒَذَّبُÙˆْا) bukan karena kurangnya bukti, tetapi karena mereka lebih memilih keyakinan subjektif (ÙˆَاتَّبَعُÙˆْٓا اَÙ‡ْÙˆَاۤØ¡َÙ‡ُÙ…ْ). Ini menguatkan tafsir Tanthawi Jauhari tentang pentingnya rasionalitas dalam menerima kebenaran ilmiah.

Selain itu, Penelitian Prof. Ahmed El-Sayed & Dr. Fatima Al-Mahdi beejudul: "Integrating Critical Thinking in Islamic Education: A Pedagogical Approach". Inj merupakan studi kualitatif di 10 sekolah Islam dengan analisis dampak metode pengajaran berbasis berpikir kritis dalam memahami teks agama. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa yang diajarkan dengan pendekatan berpikir kritis lebih memahami keterkaitan antara ilmu pengetahuan dan ajaran Islam. Mereka lebih terbuka terhadap penelitian ilmiah dan lebih sedikit terpengaruh oleh teori konspirasi atau hoaks. Guru yang menerapkan metode ini melaporkan peningkatan pemahaman siswa terhadap ayat-ayat Al-Qur'an dalam konteks ilmiah.

Penelitian ini membuktikan bahwa ÙˆَÙƒُÙ„ُّ اَÙ…ْرٍ Ù…ُّسْتَÙ‚ِرٌّ dapat diintegrasikan dalam pendidikan Islam modern. Dengan pendekatan berpikir kritis, siswa dapat memahami bahwa ajaran Islam selaras dengan prinsip ilmiah, dan mereka lebih siap menghadapi tantangan intelektual di era informasi.

Dengan demikian, tafsir Fakhrur Razi menekankan pentingnya memahami konsekuensi dari menolak kebenaran, sementara Tanthawi Jauhari menyoroti hubungan antara ayat ini dengan prinsip ilmiah. Relevansinya dengan dunia modern terlihat dalam bagaimana manusia sering kali menolak sains karena bias kognitif dan bagaimana pendidikan berbasis pemikiran kritis dapat membantu mengatasi masalah ini. Dua riset terbaru menunjukkan bahwa bias kognitif menghambat penerimaan terhadap sains dan bahwa integrasi berpikir kritis dalam pendidikan Islam dapat meningkatkan pemahaman ilmiah siswa. Ini semakin menguatkan bahwa ajaran Islam mendukung rasionalitas dan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari ketetapan Allah dalam kehidupan manusia.

Posting Komentar

0 Komentar