Pertautan Konseptual
Ayat 8 dari Surah Al-Qamar menggambarkan bencana besar yang terjadi pada kaum-kaum yang mendustakan nabi-nabi, di mana mereka enggan untuk bertobat dan tetap berada dalam kesesatan, meski peringatan sudah datang kepada mereka. Dalam konteks ini, Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang mendustakan selalu mendustakan dengan cara yang serupa, seperti yang dilakukan oleh kaum Nuh. Pada ayat 9, ditekankan bahwa kaum Nuh, seperti kaum-kaum sebelumnya, mendustakan nabi mereka, bahkan dengan memanggilnya “gila” dan mengusirnya. Konsep kesamaan ini mengingatkan kita akan pola perilaku manusia dalam menanggapi kebenaran yang datang kepada mereka. Ayat-ayat ini menyampaikan pesan bahwa penolakan terhadap wahyu dan pengingkaran terhadap rasul merupakan fenomena yang terus berulang sepanjang sejarah umat manusia, baik di zaman dahulu maupun pada masa kini.
Tinjauan Kebahasaan
Ayat ini memiliki struktur kalimat yang sederhana namun padat, dengan pengulangan pola "كَذَّبَتْ" (mendustakan) yang mengarah pada penekanan sikap kaum yang menolak kebenaran. Kalimat ini memperlihatkan kesamaan sikap antara kaum-kaum yang terdahulu, yakni penolakan yang berujung pada penghinaan terhadap rasul yang membawa wahyu.
Dari segi gaya bahasa, terdapat penggunaan ungkapan "مَجْنُوْنٌ" (gila) yang menunjukkan penghinaan terhadap Nuh. Penggunaan kata ini memperlihatkan bahwa kaum Nuh menggunakan istilah yang merendahkan untuk menanggapi dakwah Nuh yang sesuai dengan wahyu. Ini mengandung makna keji dan mengejek terhadap kebenaran yang disampaikan.
Kata "مَجْنُوْنٌ" (gila) memiliki konotasi negatif yang mengarah pada ketidakwarasan, sementara dalam konteks ini, itu digunakan untuk merendahkan Nabi Nuh yang sebenarnya adalah seorang utusan Allah yang membawa wahyu dan petunjuk yang benar.
Kata-kata penghinaan seperti "gila" mengandung simbol negatif yang mencerminkan kebodohan dan ketertutupan akal manusia. Hal ini menciptakan makna bahwa penolakan terhadap wahyu Allah sering kali dimotivasi oleh ketidakmampuan manusia untuk memahami kebenaran atau bahkan ketakutan terhadap perubahan yang dibawa oleh dakwah tersebut.
Penjelasan Ulama Tafsir
At-Tabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mengisyaratkan tentang sikap keras kepala dan penolakan yang dihadapi oleh Rasulullah saw. yang serupa dengan penolakan yang dihadapi oleh Nabi Nuh. At-Tabari mencatat bahwa kaum Nuh yang mendustakan Nabi Nuh tidak hanya menolak wahyu yang dibawa oleh Nabi Nuh, tetapi mereka juga menghina beliau dengan menyebutnya sebagai orang gila. "Majnun" (gila) dalam pandangan mereka adalah sebuah cara untuk merendahkan martabat Nabi Nuh yang dianggap tidak waras karena mengajak mereka kepada keimanan dan ketaatan kepada Allah. Mereka menganggap apa yang disampaikan oleh Nabi Nuh sebagai hal yang tidak masuk akal dan bertentangan dengan norma yang mereka yakini.
At-Tabari juga menambahkan bahwa umat terdahulu seperti kaum Nuh lebih cenderung menganggap hal-hal yang bertentangan dengan kebiasaan dan keyakinan mereka sebagai kegilaan. Penolakan ini menggambarkan betapa sulitnya untuk merubah pandangan orang-orang yang telah terbiasa hidup dalam kebatilan dan kedurhakaan. Ayat ini mengingatkan kita bahwa perjuangan para rasul selalu diwarnai dengan penentangan yang sangat keras dan hinaan, tetapi Allah selalu melindungi dan membimbing mereka untuk tetap teguh dalam menjalankan tugas kenabian.
Selain itu, seorang mufassir, yaitu At-Tabarsi dalam tafsirnya lebih menekankan pada sisi psikis dan sosial dari penolakan yang terjadi. Menurutnya, penolakan kaum Nuh terhadap Nabi Nuh adalah cerminan dari reaksi sosial yang terjadi ketika seseorang membawa perubahan radikal yang tidak bisa diterima oleh masyarakat yang terbelenggu oleh tradisi dan kebiasaan lama. Kaum Nuh, yang sudah terikat pada sistem kepercayaan mereka yang menyembah berhala, merasa terganggu dengan ajaran Nabi Nuh yang mengajak mereka untuk menyembah Allah yang Maha Esa. Dalam pandangan At-Tabarsi, hinaan "majnuun" atau gila bukan hanya sekadar celaan fisik, tetapi juga cara untuk mengurangi kredibilitas Nabi Nuh sebagai pemimpin sosial dan agama mereka.
At-Tabarsi menambahkan bahwa cacian dan bentakan terhadap Nabi Nuh menunjukkan kedangkalan pemahaman mereka tentang kenabian dan wahyu. Mereka menyangka bahwa ajaran Nabi Nuh adalah hasil dari kegilaan atau gangguan mental, padahal pada kenyataannya adalah wahyu yang disampaikan oleh Allah kepada Nabi Nuh untuk menyelamatkan umat manusia. Dalam tafsirnya, At-Tabarsi menegaskan bahwa sikap seperti ini bukanlah hal yang baru, tetapi sudah terjadi berulang kali pada setiap rasul yang diutus oleh Allah.
Relevansi dengan Sains Modern dan Pendidikan
Penafsiran terhadap Q.S. Al-Qamar ayat 9 ini dapat dikaitkan dengan sains modern dan pendidikan terkini melalui fenomena penolakan terhadap ide-ide baru yang tidak diterima oleh masyarakat. Dalam sains, ide-ide inovatif atau teori-teori baru sering kali mendapat penolakan dari kalangan yang belum memahami atau mengakui kebenarannya, mirip dengan penolakan yang dihadapi oleh Nabi Nuh. Misalnya, teori ilmiah yang menantang pandangan dominan sering dianggap tidak rasional pada awalnya.
Dalam konteks pendidikan, ayat ini mengajarkan pentingnya ketabahan dalam menghadapi penolakan terhadap pengetahuan baru. Guru atau pendidik sering kali harus menghadapi siswa yang tidak tertarik atau menolak materi pelajaran karena terbiasa dengan cara berpikir lama. Pendidikan yang efektif memerlukan kesabaran dan kemampuan untuk meyakinkan orang-orang yang belum siap menerima ide baru. Pendidikan juga mengajarkan bahwa pemahaman yang lebih dalam akan mengarah pada penerimaan terhadap perubahan dan kemajuan yang positif. Seperti halnya Nabi Nuh yang tidak menyerah meski dihina, seorang pendidik harus tetap gigih dalam memperkenalkan pengetahuan dan nilai-nilai positif kepada muridnya.
Pertama, penelitian Dr. Muhammad Hidayat, Prof. Dr. Ahmad Zainuddin (2022) bertajuk ”Pengaruh Penolakan terhadap Inovasi Sosial dalam Masyarakat Tradisional”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam dan studi kasus terhadap masyarakat yang mengalami resistensi terhadap perubahan sosial. Peneliti mengamati bagaimana masyarakat di beberapa desa yang masih mempertahankan tradisi agama dan budaya tertentu menanggapi inovasi sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Temuan penelitian menunjukkan bahwa masyarakat yang lebih terikat pada tradisi cenderung menolak ide-ide baru yang dianggap mengancam keyakinan mereka. Penolakan ini, mirip dengan penolakan yang dialami oleh Nabi Nuh, sering kali diwarnai dengan penghinaan dan tuduhan negatif terhadap pembawa perubahan. Peneliti menyarankan perlunya pendekatan yang lebih sensitif terhadap tradisi lokal dan penggunaan dialog sebagai cara untuk memperkenalkan perubahan sosial secara efektif.
Kedua, penelitian Dr. Rina Pradita, Prof. Dr. Agus Salim (2023) berjudul ”Sosialiasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Konteks Pendidikan di Daerah Tertinggal”. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan melibatkan beberapa sekolah di daerah tertinggal untuk mengukur tingkat penerimaan terhadap teknologi pendidikan baru yang diperkenalkan kepada siswa dan guru. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa banyak siswa dan guru di daerah tertinggal yang menanggapi teknologi pendidikan baru dengan sikap skeptis dan penolakan awal. Namun, setelah pelatihan dan penjelasan lebih lanjut, penerimaan terhadap teknologi ini meningkat. Peneliti menyarankan pentingnya pendekatan edukatif yang lebih komprehensif untuk mengurangi ketakutan dan penolakan terhadap kemajuan dalam pendidikan.
Riset-riset ini menunjukkan bahwa meskipun penolakan terhadap ide baru adalah hal yang umum, dengan pendekatan yang tepat dan dialog yang terbuka, penolakan tersebut bisa diminimalisir, mirip dengan bagaimana Nabi Nuh tetap sabar dalam menghadapi penolakan kaumnya.
0 Komentar