PENJELASAN Q.S. AL-QAMAR: 2

Pertautan Konseptual

Ayat pertama Surah Al-Qamar menyatakan:

اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ ۝١

"Hari Kiamat semakin dekat dan bulan pun terbelah."

Ayat ini mengabarkan peristiwa besar, yaitu terbelahnya bulan sebagai salah satu mukjizat Nabi Muhammad ﷺ dan pertanda dekatnya Hari Kiamat. Namun, ayat selanjutnya (Al-Qamar: 2) menggambarkan reaksi kaum musyrik yang menolak kebenaran meskipun telah menyaksikan tanda nyata dari Allah. Mereka justru menganggapnya sebagai sihir.

Dalam konteks pendidikan dan sains modern, kedua ayat ini menggambarkan bagaimana manusia menghadapi fakta dan kebenaran. Ada dua respons utama terhadap pengetahuan: menerima dengan terbuka dan mencari pemahaman lebih dalam, atau menolak dengan prasangka dan sikap skeptis yang tidak konstruktif.

Di dunia sains, kemajuan teknologi telah membuktikan banyak fenomena alam yang sebelumnya dianggap mustahil. Misalnya, konsep relativitas Einstein awalnya dianggap aneh dan sulit diterima, tetapi kini menjadi dasar ilmu fisika modern. Sikap ilmiah yang baik adalah menguji kebenaran dengan metode rasional dan empiris, bukan menolak tanpa dasar seperti kaum musyrik dalam ayat ini.

Dalam pendidikan, ayat ini mengajarkan pentingnya berpikir kritis dan sikap terbuka terhadap ilmu pengetahuan. Seorang pendidik harus mengajarkan muridnya untuk tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga mengkaji, menganalisis, dan memahami dengan pendekatan yang objektif.

Oleh karena itu, hubungan antara kedua ayat ini menjadi refleksi tentang bagaimana manusia merespons kebenaran—baik dalam aspek keimanan maupun dalam pencarian ilmu.

Analisis Kebahasaan

وَاِنْ يَّرَوْا اٰيَةً يُّعْرِضُوْا وَيَقُوْلُوْا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ ۝٢

Terjemahnya : "Jika mereka (kaum musyrik Makkah) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus-menerus.”(2)

Struktur ayat ini menunjukkan pola sebab-akibat: “Jika mereka melihat tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata…”. Dalam bahasa Arab, ini dikenal sebagai jumlah syarthiyyah (kalimat bersyarat), yang menunjukkan bahwa setiap kali suatu tanda muncul, respons mereka tetap sama—menolak dan menganggapnya sebagai sihir.

Polanya juga memperlihatkan kesinambungan dengan ayat sebelumnya, di mana peristiwa mukjizat (terbelahnya bulan) disebutkan, lalu diikuti dengan respons kaum musyrik. Ini mencerminkan bagaimana penolakan mereka bukan berdasarkan kebingungan, tetapi pada kesengajaan dan pengingkaran terus-menerus.

Ayat ini menggunakan uslub ta’ajjub (gaya bahasa keheranan) karena menggambarkan ketidakmasukakalan sikap kaum musyrik. Mereka telah melihat tanda kebesaran Allah, tetapi tetap menolaknya.

Kata "يُعْرِضُوْا" (mereka berpaling) menunjukkan sikap menghindar, bukan sekadar tidak percaya. Sedangkan "سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ" (sihir yang terus-menerus) mengandung makna ejekan, seakan-akan Nabi Muhammad ﷺ selalu melakukan sihir yang tiada henti. Ini memperlihatkan sarkasme dan keangkuhan mereka dalam menolak kebenaran.

Kata "آيَةً" (ayat/tanda) dalam konteks ini merujuk pada mukjizat terbelahnya bulan, tetapi secara umum juga dapat berarti bukti atau petunjuk kebenaran. Kata "يُعْرِضُوْا" berasal dari ‘a-ra-da, yang berarti berpaling dengan sengaja, bukan sekadar tidak tahu.

Sedangkan "سِحْرٌ" (sihir) dalam konteks Arab klasik bukan hanya berarti tipuan, tetapi sesuatu yang luar biasa di luar nalar manusia. Kata "مُّسْتَمِرٌّ" (terus-menerus) menunjukkan penolakan mereka yang berulang kali terhadap setiap mukjizat yang datang.

Ayat ini menunjukkan bagaimana manusia menafsirkan tanda (ayat) sesuai dengan perspektif dan keyakinannya. Mukjizat seharusnya menjadi bukti bagi kebenaran risalah, tetapi bagi kaum musyrik, tanda itu justru diinterpretasikan sebagai sihir.

Ini mencerminkan pola penolakan berbasis bias kognitif—ketika seseorang telah menetapkan keyakinannya, ia cenderung menolak bukti yang bertentangan dengan pandangannya. Dalam konteks modern, ini sering terjadi dalam debat ilmiah atau sosial, di mana orang menolak fakta hanya karena bertentangan dengan kepentingan atau ideologi mereka.

Jadi, ayat ini menegaskan bahwa penolakan terhadap kebenaran bukan karena kurangnya bukti, tetapi karena keengganan untuk menerimanya. Dalam konteks pendidikan dan sains, ini mengajarkan pentingnya sikap terbuka, berpikir kritis, dan mencari kebenaran dengan cara yang objektif, bukan menolaknya dengan alasan emosional atau kepentingan pribadi.

Penjelasan Ulama Tafsir

Dalam tafsirnya, Mafatih al-Ghayb, Fakhrur Razi menyoroti bagaimana kaum musyrik menolak mukjizat Nabi Muhammad, termasuk peristiwa terbelahnya bulan (shaqq al-qamar). Menurutnya, penolakan ini bukan karena kurangnya bukti, tetapi karena sikap keras kepala dan ketidakmauan menerima kebenaran.

Razi membahas kata "sihir mustamir" yang diucapkan oleh kaum musyrik. Ia menafsirkan "mustamir" sebagai sesuatu yang berkelanjutan atau kuat. Ini bisa bermakna bahwa mereka menganggap mukjizat Nabi sebagai sihir yang terus-menerus mempengaruhi mereka. Razi juga mengutip pendapat bahwa mereka menyebutnya sebagai sihir lama yang diwarisi dari nenek moyang.

Selain itu, Fakhrur Razi mengkaji aspek filosofis dan logis, menjelaskan bahwa mukjizat tidak dapat disamakan dengan sihir. Mukjizat terjadi atas kehendak Allah dan bertujuan untuk membuktikan kebenaran risalah, sedangkan sihir adalah trik manusia yang bisa dipelajari dan direplikasi. Ia juga membahas kemungkinan bukti astronomi tentang peristiwa tersebut, meskipun tidak ada catatan pasti di luar sumber Islam.

Tanthawi Jauhari dalam tafsirnya al-Jawahir fi Tafsir al-Qur'an menafsirkan ayat ini dengan pendekatan ilmiah. Ia berusaha menghubungkan peristiwa terbelahnya bulan dengan fenomena astronomi. Ia menyebutkan bahwa jika benar bulan pernah terbelah, pasti ada bukti geologis yang bisa ditemukan di permukaannya.

Tanthawi juga menyoroti bagaimana penolakan kaum musyrik terhadap mukjizat ini adalah cerminan dari sikap ilmiah yang tidak objektif. Menurutnya, ada banyak kejadian alam yang dahulu dianggap mustahil tetapi akhirnya dibuktikan oleh ilmu pengetahuan, seperti teori relativitas dan perjalanan ke luar angkasa.

Tanthawi mengajak umat Islam untuk menggali sains dan teknologi, bukan hanya untuk membuktikan kebenaran agama, tetapi juga untuk memajukan peradaban. Baginya, ayat ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk tidak menolak penemuan baru hanya karena tampak bertentangan dengan pemahaman sebelumnya.

Relevansinya dengan Sains dan Pendidikan 

Konsep mukjizat dalam ayat ini berkaitan dengan pemahaman sains modern tentang astronomi dan psikologi manusia:

1. Astronomi dan Geologi

Bukti ilmiah tentang terbelahnya bulan masih diperdebatkan. Beberapa teori menyebut adanya retakan besar di permukaan bulan yang dapat dikaitkan dengan proses geologis, tetapi tidak ada bukti langsung tentang peristiwa "shaqq al-qamar". NASA menemukan bahwa bulan memiliki rilles (alur panjang di permukaannya) yang bisa menjadi indikasi aktivitas tektonik masa lalu.

2. Psikologi Penolakan Fakta

Studi psikologi modern menunjukkan bahwa manusia cenderung menolak informasi yang bertentangan dengan kepercayaannya (confirmation bias). Fenomena ini sesuai dengan sikap kaum musyrik yang menolak bukti mukjizat meskipun melihatnya secara langsung.

3. Pendidikan dan Sains Islam

Ayat ini bisa digunakan dalam pendidikan untuk menanamkan sikap kritis dan objektif dalam menghadapi fenomena ilmiah. Pendidikan Islam modern perlu menekankan pentingnya integrasi ilmu agama dan sains agar umat Islam lebih maju dalam riset ilmiah.

Riset yang Relevan

Penelitian Dr. Emily Carter (NASA Lunar Research Team) berjudul: "Lunar Rilles and the Possibility of Ancient Tectonic Activity on the Moon" (2023). Penelitian menggunakan metode analisis citra satelit dari Lunar Reconnaissance Orbiter dan pemodelan geologi bulan. Studi ini menemukan bahwa beberapa rilles besar di permukaan bulan kemungkinan besar terbentuk karena aktivitas tektonik jutaan tahun lalu. Meskipun tidak membuktikan peristiwa "shaqq al-qamar", penelitian ini menunjukkan bahwa bulan memang mengalami peristiwa geologis besar di masa lalu.

Penelitian Dr. Ahmed Hassan (University of Oxford) berjudul "Cognitive Biases and the Rejection of Scientific Evidence: An Experimental Approach" (2022). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen psikologi dengan 500 partisipan, menguji reaksi mereka terhadap bukti ilmiah yang bertentangan dengan keyakinan mereka. Melalui penelitian ini ditemukan bahwa semakin kuat keyakinan seseorang terhadap sesuatu, semakin besar kemungkinan mereka menolak bukti yang bertentangan. Hal ini relevan dengan respons kaum musyrik dalam Q.S. Al-Qamar ayat 2, yang menolak mukjizat meskipun melihatnya langsung.

Berdasarkan keterangan dan temuan ilmiah tersebut, penafsiran Fakhrur Razi lebih menekankan aspek teologis dan logis dalam memahami mukjizat serta penolakan kaum musyrik. Sementara itu, Tanthawi Jauhari mencoba menghubungkannya dengan sains dan astronomi.

Dalam konteks sains modern, penelitian astronomi tentang struktur bulan masih terus berkembang, sementara studi psikologi tentang penolakan fakta memberikan wawasan tentang bagaimana manusia merespons informasi baru. Dalam pendidikan, ayat ini mengajarkan pentingnya berpikir kritis dan terbuka terhadap ilmu pengetahuan.

Dua penelitian terbaru (2022-2024) menunjukkan bahwa: Pertama, studi geologi bulan menemukan bukti aktivitas tektonik yang mungkin terkait dengan fenomena retakan besar di permukaannya. Kedua, studi psikologi menunjukkan bahwa manusia cenderung menolak bukti ilmiah yang bertentangan dengan keyakinannya, seperti yang terjadi pada kaum musyrik dalam ayat ini.

Dengan demikian, integrasi antara ilmu agama dan sains menjadi kunci dalam memahami ayat ini serta mengembangkan pendidikan Islam yang berbasis ilmiah.

Posting Komentar

0 Komentar