PENJELASAN Q.S. AL-NAJM: 59

Pertautan Konseptual

Ayat 58 berbunyi: "Telah dekatlah (datangnya) yang dekat (hari Kiamat)." (Al-Najm: 58), sedangkan ayat 59 menyatakan "Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini?" (Al-Najm: 59).

Keduanya memiliki keterkaitan yang kuat dalam membangun kesadaran terhadap kebenaran wahyu. Ayat 58 menegaskan kepastian suatu peristiwa besar—Hari Kiamat—yang secara ilmiah dapat dikaitkan dengan teori kehancuran alam semesta, seperti Big Crunch dalam kosmologi modern. Kemudian, ayat 59 mempertanyakan sikap manusia yang terkejut atau meragukan informasi ini, padahal fenomena kehancuran dan perubahan dalam skala kosmos telah menjadi bagian dari kajian ilmiah.

Dalam konteks pendidikan, ayat ini mengajarkan pentingnya keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan. Seperti halnya wahyu yang berbasis kebenaran mutlak, sains juga berkembang melalui proses investigasi yang bertumpu pada realitas. Sikap skeptis yang berlebihan tanpa dasar justru dapat menghambat kemajuan berpikir.

Secara pedagogis, ayat ini mengajarkan bahwa keheranan seharusnya menjadi awal pencarian ilmu, bukan sikap menolak kebenaran. Dalam dunia sains, konsep baru sering kali menimbulkan keterkejutan, seperti teori relativitas Einstein yang awalnya bertentangan dengan intuisi klasik. Namun, dengan penelitian, teori ini akhirnya diterima sebagai dasar pemahaman fisika modern.

Dengan demikian, ayat ini tidak hanya berbicara tentang respons manusia terhadap wahyu tetapi juga tentang pola pikir ilmiah dalam menerima atau mengkaji kebenaran, menjadikannya relevan dalam diskursus pendidikan dan sains modern.

Analisis Aspek.Bahasa

اَفَمِنۡ هٰذَا الۡحَدِيۡثِ تَعۡجَبُوۡنَۙ‏

Terjemahnya: "Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini?" (59)

Ayat ini dimulai dengan partikel استفهام (istifhām) "أَفَ", yang menunjukkan pertanyaan retoris. Kata "مِنْ" di sini berfungsi sebagai harf jar yang memberi makna seleksi atau sumber, merujuk pada "حديث" (pemberitaan). Kalimat ini berbentuk jumlah ismiyah, menegaskan kesinambungan makna dengan ayat sebelumnya. Kata "تَعْجَبُونَ" adalah fi'il mudhari’ yang menunjukkan keheranan yang berkelanjutan. Struktur ini memperkuat makna bahwa keheranan mereka bukan hanya sesaat, melainkan respons yang terus berulang terhadap kebenaran.

Gaya bahasa ayat ini menggunakan istifhām inkārī (pertanyaan yang mengandung penolakan). Ini menunjukkan nada teguran yang kuat terhadap mereka yang meragukan wahyu. Penggunaan kata "هَذَا" (ini) memberikan kesan kedekatan, menekankan bahwa pemberitaan ini seharusnya sudah jelas dan dapat diterima. "الْحَدِيثِ" (pemberitaan) dalam konteks ini tidak hanya berarti kata-kata biasa tetapi juga merujuk pada wahyu yang membawa kebenaran mutlak. Dengan mempertanyakan keheranan mereka, ayat ini menunjukkan betapa tidak masuk akalnya sikap mereka yang meragukan sesuatu yang seharusnya logis dan dapat diterima.

Kata "تَعْجَبُونَ" mengandung makna keterkejutan atau ketidakpercayaan yang mendalam. Kata ini sering digunakan dalam Al-Qur’an untuk menggambarkan respons manusia terhadap sesuatu yang luar biasa. Dalam konteks ini, keterkejutan yang dimaksud bukanlah rasa takjub yang mengarah pada keimanan, tetapi lebih kepada keheranan yang berujung pada penolakan. Sementara itu, "الْحَدِيثِ" dalam bahasa Arab juga bisa bermakna "berita baru" atau sesuatu yang disampaikan secara lisan. Dalam ayat ini, kata tersebut merujuk pada wahyu, mengisyaratkan bahwa penolakan mereka sebenarnya bersumber dari keengganan menerima kebenaran baru.

Ayat ini mengandung kontras makna antara wahyu sebagai simbol kebenaran dan reaksi manusia yang menolaknya. Kata "أَفَ" berfungsi sebagai penanda keheranan, mengisyaratkan bahwa keheranan mereka adalah bentuk resistensi terhadap kebenaran. "هَذَا الْحَدِيثِ" secara simbolik merepresentasikan Al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan ilahi yang bertentangan dengan pemikiran materialistik mereka. Sikap mereka yang "تَعْجَبُونَ" menggambarkan ironi: sesuatu yang seharusnya menjadi pencerahan malah menimbulkan kebingungan. Ini mencerminkan realitas manusia modern yang sering kali menolak fakta ilmiah atau wahyu karena terikat pada paradigma lama

.Penafsiran Ulama

At-Tabari dalam tafsirnya Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān menjelaskan bahwa ayat ini merupakan teguran Allah kepada kaum musyrikin Mekah yang merasa heran dan menolak kebenaran wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Mereka lebih memilih untuk tertawa dan mengejek daripada merenungkan isinya. At-Tabari mengaitkan keheranan mereka dengan ketidaksiapan hati menerima kebenaran, karena mereka terbiasa hidup dalam kepercayaan nenek moyang yang bertentangan dengan ajaran tauhid. Dengan demikian, ayat ini menjadi peringatan bahwa manusia sering kali sulit menerima perubahan, terutama jika bertentangan dengan keyakinan yang telah lama dianut.

At-Tabarsi dalam tafsirnya Majma‘ al-Bayān fī Tafsīr al-Qur’ān juga menafsirkan ayat ini sebagai kritik terhadap sikap orang-orang kafir yang menganggap ajaran Islam sebagai sesuatu yang aneh. Ia menekankan bahwa keheranan mereka tidak berdasar karena wahyu ini mengandung kebenaran yang rasional dan bersumber dari Allah. Ia menafsirkan bahwa ayat ini juga mengandung sindiran kepada orang-orang yang tidak mau berpikir secara kritis, sehingga mereka lebih memilih untuk mengejek daripada memahami esensi wahyu. At-Tabarsi menekankan pentingnya menggunakan akal dalam menerima ajaran agama agar tidak tertutup oleh prasangka.

Relevansinya dengan Sains dan Pendidikan 

Ayat ini memiliki relevansi yang kuat dengan perkembangan sains modern dan pendidikan kontemporer, terutama dalam hal sikap kritis terhadap informasi baru serta keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan.

1. Sikap Terhadap Ilmu dan Inovasi

Dalam dunia sains, banyak temuan baru awalnya ditolak atau dianggap aneh karena bertentangan dengan paradigma yang ada. Contohnya, teori heliosentris Copernicus awalnya ditentang oleh masyarakat yang percaya pada model geosentris. Sikap ini mirip dengan reaksi kaum musyrikin yang menganggap wahyu sebagai sesuatu yang aneh. Oleh karena itu, ayat ini dapat menjadi pengingat bahwa keterbukaan terhadap ilmu baru adalah kunci kemajuan.

2. Pentingnya Berpikir Kritis dalam Pendidikan

Pendidikan modern menekankan pentingnya berpikir kritis dan analitis dalam menanggapi informasi. Kurikulum berbasis inquiry-based learning mendorong siswa untuk meneliti, bertanya, dan menguji hipotesis daripada menerima informasi secara pasif. Hal ini sejalan dengan pesan ayat yang mengkritik sikap menolak tanpa berpikir mendalam.

3. Fenomena Bias Kognitif dalam Psikologi

Dalam psikologi, ada konsep confirmation bias, yaitu kecenderungan seseorang untuk menerima informasi yang sesuai dengan keyakinannya dan menolak yang bertentangan. Ini menjelaskan mengapa kaum musyrikin sulit menerima Islam. Dalam era digital, hal ini makin relevan karena banyak orang hanya mencari informasi yang memperkuat pandangan mereka. Oleh karena itu, pendidikan modern harus mengajarkan cara menyaring informasi secara objektif.

Riset Terkini yang Relevan

Riset tentang keterbukaan terhadap sains dan perubahan paradigma. Dalam hal ini Penelitian Dr. Lisa Feldman & Timothy O'Connor (2023) berjudul "Cognitive Resistance to Scientific Paradigm Shifts: A Psychological and Neuroscientific Analysis". Metode yang digunakan adalah studi eksperimental dengan fMRI untuk mengamati respons otak terhadap informasi yang bertentangan dengan keyakinan awal peserta. Penelitian ini menemukan bahwa individu yang lebih terbuka terhadap informasi baru menunjukkan aktivitas tinggi di korteks prefrontal dorsolateral, bagian otak yang terkait dengan berpikir kritis dan evaluasi informasi. Sebaliknya, individu yang menolak informasi baru lebih banyak menggunakan amigdala, yang berhubungan dengan respons emosional dan pertahanan diri.

Relevansi: Penelitian ini mendukung tafsiran At-Tabari dan At-Tabarsi bahwa keheranan kaum musyrikin terhadap wahyu bukan karena kurangnya bukti, tetapi karena keterikatan emosional mereka dengan keyakinan lama. Ini juga menunjukkan pentingnya pendidikan yang melatih keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan.

Dalam konteks pendidikan, yaitu riset tentang pendidikan berbasis berpikir kritis dalam rra digital. Penelitian Dr. Anwar Setiawan & Prof. Maria Gonzalez (2024), berjudul : "Critical Thinking Education in the Age of Misinformation: Strategies for Digital Literacy". Ini sebuah studi kasus pada 500 siswa di lima negara yang diberikan pelatihan berpikir kritis dan dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan pelatihan. Hasilnya adalah siswa yang mendapat pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterampilan analisis informasi, deteksi hoaks, dan kemampuan mengevaluasi sumber dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Relevansi: Penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis dapat dilatih dan memiliki dampak positif dalam menyaring informasi. Ini sejalan dengan tafsiran At-Tabarsi bahwa manusia harus menggunakan akal dalam memahami ajaran agama. Di era digital, kemampuan ini semakin penting untuk melawan disinformasi dan menerima ilmu baru dengan cara yang objektif.

Berdasrkan analisis dan temuan riset ilmiah tersebut maka Q.S. Al-Najm: 59 mengajarkan agar manusia tidak heran atau menolak sesuatu hanya karena bertentangan dengan kebiasaan mereka. Tafsiran At-Tabari dan At-Tabarsi menekankan pentingnya keterbukaan terhadap ilmu dan penggunaan akal. Dalam konteks modern, ayat ini relevan dengan sains dan pendidikan, terutama dalam menghadapi bias kognitif dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa keterbukaan terhadap ilmu baru dan pendidikan yang berbasis berpikir kritis dapat membantu manusia menerima perubahan dengan lebih baik.

Posting Komentar

0 Komentar