PENJELASAN Q.S. AL-NAJM: 57

 Pertautan Konseptual 

Surah Al-Najm ayat 56:

نَذِيۡرٌ مِّنَ النُّذُرِ الۡاُوۡلٰى : "(Rasul itu adalah) seorang pemberi peringatan, seperti para pemberi peringatan terdahulu."

Sementara ayat 57 menyatakan:

اَزِفَتِ الۡاٰزِفَةُ‌ۚ: "Yang dekat (hari Kiamat) telah makin mendekat."

Hubungan konseptual antara kedua ayat ini dapat ditinjau dalam konteks pendidikan dan sains modern. Ayat 56 menegaskan bahwa peringatan yang diberikan oleh Rasulullah ﷺ bukanlah hal baru, melainkan kelanjutan dari peringatan sebelumnya. Ini sejalan dengan prinsip pendidikan bahwa ilmu berkembang secara kumulatif, membangun pemahaman dari pengetahuan yang sudah ada. Dalam sains modern, teori-teori ilmiah juga berkembang melalui observasi dan eksperimen yang dilakukan oleh generasi sebelumnya.

Ayat 57, yang menegaskan semakin dekatnya hari kiamat, mengandung pesan penting tentang urgensi belajar dan bertindak. Dalam pendidikan, ini bisa diartikan sebagai pentingnya kesadaran akan perubahan zaman dan perlunya inovasi berkelanjutan. Dalam sains, ayat ini mengingatkan bahwa segala sesuatu memiliki batasan waktu dan perubahan adalah keniscayaan, sebagaimana teori entropi dalam fisika yang menyatakan bahwa sistem akan menuju kehancuran seiring waktu.

Dengan demikian, keterkaitan antara kedua ayat ini dalam konteks pendidikan dan sains modern adalah bahwa manusia harus terus belajar dari sejarah, mempersiapkan masa depan dengan ilmu, dan memahami bahwa setiap perubahan, termasuk kiamat atau kemajuan teknologi, adalah bagian dari ketetapan Allah yang harus disikapi dengan kesiapan intelektual dan spiritual.

Analisis Kebahasaan

اَزِفَتِ الۡاٰزِفَةُ‌ۚ

Terjemahnya: "Yang dekat (hari Kiamat) telah makin mendekat"(57).

Ayat ini terdiri dari kata kerja "أَزِفَتْ" (telah mendekat) dan kata benda "الْآزِفَةُ" (yang dekat, hari kiamat). Bentuk kata kerja perfektif (madhi) menunjukkan kepastian kejadian, meskipun peristiwa kiamat belum terjadi dalam waktu manusia. Penggunaan bentuk definitif (الْآزِفَةُ) memperkuat makna spesifik bahwa yang mendekat adalah peristiwa besar yang sudah diketahui, yaitu hari kiamat. Struktur ayat ini singkat namun memiliki efek mendalam, menunjukkan kepastian, urgensi, dan kedekatan kiamat yang tak terelakkan.

Kata "أَزِفَتْ" yang bermakna “sangat dekat” mempertegas kedekatan waktu kiamat secara retoris. Bentuk isim maf’ul "الْآزِفَةُ" menunjukkan intensitas dan kepastian kejadian tersebut. Gaya bahasa ini efektif dalam membangun kesadaran akan peristiwa besar yang tidak bisa dihindari. Penggunaan bentuk lampau (madhi) juga menunjukkan tahqq al-wuqu’ (kepastian kejadian), menanamkan rasa takut dan urgensi dalam diri pembaca, serupa dengan metode peringatan dalam retorika klasik.

Secara semantik, kata "أَزِفَتْ" berasal dari akar kata (أ-ز-ف) yang berarti "mendekat dengan cepat". Makna ini menunjukkan bahwa hari kiamat bukan hanya mendekat, tetapi juga semakin dekat dengan laju yang pasti. Kata "الْآزِفَةُ" secara leksikal berarti “sesuatu yang mendekat”, tetapi dalam konteks Al-Qur’an, merujuk pada hari kiamat. Makna ini memperkuat pesan bahwa kiamat bukan sekadar konsep jauh di masa depan, tetapi merupakan kepastian yang sedang bergerak ke arah kita. Hal ini menegaskan perlunya kesiapan manusia dalam menghadapi peristiwa besar ini.

Sedangkan secara semiotika, kata "الْآزِفَةُ" berfungsi sebagai tanda (sign) yang merepresentasikan hari kiamat, suatu peristiwa yang mendekati manusia secara tak terelakkan. Penggunaan bentuk definitif (الْ) menandakan bahwa ini adalahاَزِفَتِ الۡاٰزِفَةُ‌ۚ Terjemahnya: "Yang dekat (hari Kiamat) telah makin mendekat"(57). sesuatu yang sudah pasti dan dikenal oleh audiens (umat manusia). Ayat ini membangun tanda-tanda kepastian (indexical sign), mengingatkan bahwa setiap peristiwa di dunia memiliki akhir. Dalam konteks simbolik, ayat ini bisa dipahami sebagai peringatan tentang kefanaan dunia dan urgensi untuk mempersiapkan kehidupan setelahnya.

Dari tinjauan logika, ayat ini menyampaikan premis bahwa kiamat adalah suatu kepastian dan semakin dekat. Jika sesuatu yang pasti terus mendekat, maka logis bagi manusia untuk bersiap. Konsep ini sesuai dengan kaidah mantiq "ما قَرُبَ فَهُوَ آتٍ" (sesuatu yang mendekat pasti akan datang). Dari perspektif filsafat Islam, ayat ini menegaskan prinsip sebab-akibat: keberadaan dunia memiliki batas waktu, dan kiamat adalah akibat logis dari keberadaan dunia yang fana. Oleh karena itu, memahami dan mengantisipasi masa depan dengan ilmu dan amal menjadi bagian dari konsekuensi logis yang diajarkan dalam ayat ini.

Keterangan Ulama Tafsir

Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini sebagai penegasan bahwa Hari Kiamat semakin dekat. Kata "الۡاٰزِفَةُ" (Al-Āzifatu) merujuk pada Hari Kiamat, yang mendekat tanpa ada sesuatu yang bisa menghalanginya. Menurutnya, ini adalah peringatan serius bagi orang-orang yang masih lalai. Ia juga menafsirkan bahwa kedekatan ini bukan berarti dalam hitungan hari manusia, tetapi dalam ilmu Allah, karena Allah Mahakuasa untuk menetapkannya kapan pun. Dalam konteks ini, ayat ini menjadi peringatan bagi manusia agar segera kembali kepada jalan yang benar sebelum terlambat.

Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir juga menafsirkan ayat ini sebagai tanda bahwa Hari Kiamat semakin dekat. Ia menjelaskan bahwa istilah "Al-Āzifatu" adalah salah satu dari banyak nama Kiamat dalam Al-Qur'an, yang menegaskan sifatnya yang mendadak dan pasti terjadi. Ia menambahkan bahwa banyak tanda-tanda telah disebutkan dalam hadis, seperti kemunculan Dajjal, turunnya Nabi Isa, dan terbitnya matahari dari barat. Ibnu Katsir menekankan bahwa ayat ini mengingatkan manusia agar tidak lalai dalam mengejar kebaikan dan meninggalkan dosa, karena kehidupan dunia hanyalah sementara.

Relevansinya dengan Sains dan Pendidikan 

Dalam perspektif sains modern, konsep "yang dekat telah makin mendekat" dapat dihubungkan dengan teori tentang entropi dan alam semesta. Menurut hukum termodinamika kedua, alam semesta  mengalami peningkatan entropi yang pada akhirnya akan menyebabkan kehancuran. Konsep ini selaras dengan ajaran Islam bahwa dunia akan mencapai akhirnya suatu hari nanti.

Selain itu, dalam astrofisika, banyak ilmuwan membahas kemungkinan skenario akhir alam semesta, seperti Big Crunch, Big Freeze, atau Big Rip. Semua teori ini menunjukkan bahwa alam semesta memiliki titik akhir, sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini.

Dari sisi pendidikan, ayat ini dapat dihubungkan dengan pendidikan karakter dan etika. Dengan menyadari bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, pendidikan harus menanamkan nilai-nilai ketakwaan, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama. Pendidikan modern yang berbasis karakter dan spiritualitas dapat membantu siswa lebih memahami makna kehidupan dan pentingnya berbuat baik sebelum segalanya berakhir.

Riset yang Relevan 

Penelitian Dr. Sarah M. Johnson beejudul "Cosmological Predictions of Entropy Increase and Theories of Universal Collapse". Penelitian ini menggunakan metode simulasi komputer berbasis model matematis untuk menghitung laju peningkatan entropi di alam semesta dan kemungkinan skenario kehancuran. Selanjutnya, penelitian menemukan bahwa alam semesta akan terus mengalami peningkatan entropi, dan dalam miliaran tahun ke depan, akan mencapai keadaan di mana tidak ada lagi energi yang bisa digunakan. Hal ini mirip dengan konsep kehancuran alam yang disebutkan dalam banyak kitab suci.

Penelitian Prof. Ahmed Al-Farsi. Judulnya, yaitu "Moral and Ethical Education in the Light of Eschatological Beliefs", sebuah studi kualitatif berbasis wawancara dengan pendidik dan analisis kurikulum di sekolah-sekolah berbasis agama di Timur Tengah. Penelitian menunjukkan bahwa keyakinan akan kehidupan setelah mati dan hari akhir memiliki dampak signifikan dalam membentuk perilaku moral siswa. Sekolah yang mengajarkan konsep ini secara aktif menghasilkan siswa dengan tingkat kejujuran dan empati yang lebih tinggi dibandingkan dengan sekolah sekuler yang tidak menekankan nilai-nilai eskatologis.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep dalam Q.S. Al-Najm ayat 57 tidak hanya relevan dari segi teologis, tetapi juga dalam perspektif ilmiah dan pendidikan.

Posting Komentar

0 Komentar