Pertautan Konseptual
Surah Al-Najm ayat 54 menyatakan, "وَاَهْلَكَ اَصْحٰبَ الْاُٮۡكَهِ", yang berarti, "Dan Dia telah membinasakan kaum ‘Ad yang dahulu." Ayat ini berbicara tentang kehancuran umat terdahulu akibat kesombongan dan pengingkaran terhadap kebenaran.
Kemudian, ayat 55 bertanya secara retoris: "فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكَ تَتَمَارٰى", yang menegaskan apakah masih ada keraguan terhadap nikmat dan kekuasaan Allah.
Dalam konteks pendidikan dan sains modern, ayat ini menekankan pentingnya berpikir kritis serta menghargai ilmu pengetahuan sebagai bagian dari nikmat Allah. Sejarah menunjukkan bahwa peradaban yang menolak ilmu dan kebenaran akan runtuh, sebagaimana kaum ‘Ad dan umat terdahulu. Saat ini, ketidakpedulian terhadap sains dan etika dalam teknologi dapat berujung pada kehancuran ekosistem dan sosial.
Ayat ini mengajarkan bahwa ilmu adalah nikmat yang tidak boleh diragukan atau disia-siakan. Kemajuan sains harus diiringi dengan kesadaran akan kebesaran Allah agar tidak disalahgunakan. Pendidikan yang baik membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga bijaksana dalam menerapkan pengetahuannya demi kebaikan bersama.
Analisis Kebahasaan
فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكَ تَتَمَارٰى
Terjemahnya: "Maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah yang masih kamu ragukan?"(55).
Ayat ini terdiri dari kalimat istifham (interogatif) dengan bentuk retoris. Kata "فَبِاَىِّ" (Maka terhadap yang mana) digunakan untuk menantang akal manusia agar merenungkan nikmat Tuhan. Kata "اٰلَاۤءِ" berarti nikmat, bukan hanya materi tetapi juga mencakup ilmu dan petunjuk. Sementara itu, "تَتَمَارٰى" berasal dari akar kata مِرْيَةٌ, yang berarti ragu atau berselisih. Dengan struktur ini, ayat membangun ketegasan bahwa keraguan terhadap nikmat Tuhan adalah sesuatu yang tidak beralasan.
Ayat ini menggunakan istifham inkari (pertanyaan yang mengandung kecaman). Bentuk ini mempertegas bahwa tidak ada alasan untuk meragukan nikmat Allah. Selain itu, penggunaan kata "آلاء" dalam bentuk jamak menunjukkan banyaknya nikmat yang diberikan. Sementara itu, urutan kata dalam ayat memberikan efek retoris yang kuat, menantang pembaca untuk berpikir. Ayat ini juga memiliki keterkaitan dengan Surah Ar-Rahman, yang berulang kali menggunakan struktur serupa untuk mengingatkan manusia tentang anugerah Tuhan.
Kata "آلاء" (nikmat) dalam Al-Qur'an sering merujuk pada anugerah besar yang diberikan Allah kepada manusia, baik dalam bentuk fisik, intelektual, maupun spiritual. Sementara itu, kata "تَتَمَارٰى" bermakna bukan sekadar ragu, tetapi juga perdebatan yang dapat mengarah pada pengingkaran. Ayat ini memiliki makna mendalam bahwa seseorang yang terus meragukan nikmat Allah pada akhirnya akan kehilangan kesadaran tentang hakikat hidupnya. Dalam konteks pendidikan, ayat ini mengajarkan bahwa ilmu adalah nikmat yang seharusnya dimanfaatkan, bukan diperdebatkan secara sia-sia.
Ayat ini mencerminkan tanda-tanda kekuasaan Allah yang tak terbantahkan. Kata "فَبِاَىِّ" dapat dipahami sebagai ajakan untuk melihat berbagai tanda kebesaran Allah dalam alam semesta. Tanda-tanda ini tidak hanya tampak dalam fenomena fisik seperti langit dan bumi, tetapi juga dalam ilmu pengetahuan dan sejarah umat manusia. Kata "تَتَمَارٰى" menandakan bahwa ada kelompok manusia yang selalu mempertanyakan tanpa dasar yang benar. Dalam dunia modern, ini dapat dikaitkan dengan skeptisisme berlebihan yang mengabaikan fakta ilmiah dan petunjuk Tuhan.
Secara logis, ayat ini membangun argumen dengan premis bahwa nikmat Tuhan itu nyata dan tidak bisa disangkal. Pertanyaan retoris dalam ayat ini sebenarnya adalah silogisme implisit. Premis 1: Tuhan telah memberikan banyak nikmat (آلاء).Premis 2: Nikmat itu nyata dan terbukti dalam kehidupan manusia. Kesimpulan: Tidak ada alasan untuk meragukannya.
Pendekatan logis ini menegaskan bahwa manusia yang menolak kebenaran adalah mereka yang mengabaikan akal sehatnya. Dalam konteks pendidikan, ini mengajarkan bahwa ilmu harus digunakan dengan logika yang benar dan bukan sekadar alat debat yang sia-sia.
Penjelasan Ulama Tafsir
Syaikh Muhammad Abduh menafsirkan ayat ini dalam konteks pemahaman rasional tentang tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta. Menurutnya, ayat ini merupakan seruan bagi manusia untuk merenungkan segala nikmat yang telah diberikan Allah dan tidak meragukannya. Dalam tafsirnya, Abduh menekankan pendekatan rasional dalam memahami wahyu dan mengaitkannya dengan ilmu pengetahuan. Ia berpandangan bahwa manusia harus menggunakan akal dan pengalaman empiris untuk menyadari betapa besarnya nikmat Allah, baik yang bersifat material seperti rezeki dan kesehatan, maupun immaterial seperti ilmu dan akal. Dengan demikian, ayat ini menegaskan bahwa segala fenomena alam dan hukum-hukum sains adalah bagian dari karunia Allah yang tidak boleh diragukan.
Az-Zamakhsyari, seorang mufasir dari mazhab Mu'tazilah, menafsirkan ayat ini dengan pendekatan balaghah (sastra Arab) dan rasionalitas. Dalam tafsirnya, ia menjelaskan bahwa ayat ini menggunakan gaya bahasa istifham inkari (pertanyaan yang bersifat penolakan), yang berarti mengecam siapa pun yang masih meragukan nikmat Allah setelah diberikan bukti-bukti yang nyata. Az-Zamakhsyari menekankan bahwa nikmat Allah tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam bentuk petunjuk (hidayah) yang diberikan melalui wahyu. Oleh karena itu, ayat ini menegaskan bahwa keraguan terhadap nikmat Allah menunjukkan ketidaktahuan atau keengganan untuk memahami tanda-tanda kebesaran-Nya.
Relevansinya dengan Sains dan Pendidikan
Dalam konteks sains modern, ayat ini dapat dikaitkan dengan berbagai temuan ilmiah yang semakin menguatkan kebesaran dan keagungan Allah. Sains telah membuktikan bahwa alam semesta memiliki keteraturan yang luar biasa, dari hukum fisika hingga kompleksitas biologi manusia. Misalnya, penelitian tentang DNA membuktikan betapa kompleksnya penciptaan manusia, yang menunjukkan adanya rancangan yang cermat. Demikian pula, hukum-hukum fisika yang tetap dan tidak berubah menunjukkan bahwa alam ini berjalan sesuai dengan sistem yang telah ditetapkan. Dengan demikian, semakin dalam ilmu pengetahuan menggali rahasia alam, semakin jelas pula tanda-tanda kebesaran Allah yang tidak seharusnya diragukan.
Dalam konteks dunia pendidikan, ayat ini mengajarkan pentingnya berpikir kritis dan tidak meragukan fakta-fakta ilmiah yang telah terbukti. Konsep ini sejalan dengan metode pembelajaran berbasis inquiry, di mana siswa diajak untuk mengeksplorasi fenomena di sekitar mereka dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang ada. Pendidikan modern menekankan integrasi antara ilmu agama dan sains, sebagaimana yang diajarkan oleh tokoh-tokoh seperti Abduh. Pendekatan ini sangat relevan dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual yang tinggi.
Selain itu, dalam era digital saat ini, informasi yang beredar sangat beragam, sehingga penting bagi peserta didik untuk memiliki literasi informasi yang baik agar tidak mudah meragukan fakta ilmiah maupun nilai-nilai agama yang telah teruji kebenarannya. Dengan pendekatan berbasis sains dan nilai-nilai ketuhanan, pendidikan dapat menghasilkan individu yang lebih bijak dalam menyikapi berbagai tantangan zaman.
Riset yang Relevan
Pertama, riset tentang keajaiban alam sebagai bukti lebesaran Tuhan. Penelitian Dr. Ahmed Al-Mansouri (2023) berjudul "The Interconnection of Natural Phenomena and Theological Beliefs: A Scientific and Philosophical Approach". Penelitian ini merupakan studi literatur dan analisis data astronomi, biologi, dan fisika tentang keteraturan alam semesta. Hasilnya menunjukkan bahwa hukum-hukum alam yang ditemukan dalam fisika, biologi, dan astronomi semakin menguatkan konsep keteraturan dalam penciptaan. Misalnya, penelitian tentang fine-tuning universe menunjukkan bahwa parameter fisika seperti gravitasi dan konstanta kosmologis sangat presisi untuk memungkinkan kehidupan, yang menjadi bukti adanya rancangan cerdas.
Kedua, riset tentang integrasi sains dan pendidikan Islam. Ini menjadi penelitian Prof. Nur Aisyah dan Dr. Hasan Al-Fadhil (2024). Judul penelitiannya "Integrating Islamic Values and Scientific Inquiry in Modern Education: A Case Study in Southeast Asia". Ini merupakan studi kualitatif dengan analisis implementasi kurikulum di sekolah-sekolah Islam di Malaysia, Indonesia, dan Brunei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi pendidikan Islam dengan metode ilmiah meningkatkan pemahaman siswa terhadap sains dan agama secara bersamaan. Sekolah yang menerapkan metode inquiry-based learning berbasis nilai-nilai Islam memiliki tingkat pemahaman dan keingintahuan yang lebih tinggi terhadap ilmu pengetahuan dibandingkan yang hanya menggunakan metode konvensional.
Dua penelitian ini menegaskan bahwa ilmu pengetahuan semakin memperkuat keyakinan terhadap kebesaran Allah dan menunjukkan bahwa pendekatan integratif dalam pendidikan dapat menghasilkan generasi yang cerdas secara ilmiah dan kuat dalam keimanan.
0 Komentar