PENJELASAN MAKNA Q.S. ATH-Thur : 6

 Pertautan Konseptual

Surah Ath-Thur ayat 5 berbunyi:";Dan demi atap yang ditinggikan (langit)"

Kemudian, ayat 6 menyatakan: "Dan demi lautan yang dipanaskan (di dalamnya ada api)"

Kedua ayat ini memiliki hubungan konseptual yang erat dalam perspektif pendidikan dan sains modern. Ayat 5 menggambarkan "atap yang ditinggikan," yang dapat dikaitkan dengan atmosfer dan ruang angkasa yang memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan kehidupan di bumi. Sementara itu, ayat 6 membahas lautan yang "dipanaskan," yang secara ilmiah merujuk pada fenomena aktivitas vulkanik bawah laut dan arus panas yang berkontribusi pada dinamika bumi.

Dalam konteks pendidikan, kedua ayat ini menekankan pentingnya memahami hubungan antara atmosfer dan lautan sebagai dua elemen kunci dalam ilmu bumi. Pendidikan modern mengajarkan bahwa pemanasan lautan akibat aktivitas tektonik atau perubahan iklim dapat memengaruhi pola cuaca global, yang pada akhirnya berdampak pada kehidupan manusia.

Dari sudut pandang sains, ayat 6 mencerminkan penemuan ilmiah tentang keberadaan gunung berapi bawah laut yang aktif serta sumber hidrotermal yang memanaskan lautan. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an telah mengisyaratkan fenomena alam yang baru dipahami dalam era modern.

Pendidikan berbasis sains dapat mengambil inspirasi dari ayat ini untuk mengembangkan pembelajaran berbasis eksplorasi, penelitian, dan pemahaman tentang interkoneksi sistem bumi. Dengan demikian, Al-Qur’an bukan hanya sebagai kitab spiritual, tetapi juga sebagai sumber inspirasi untuk memahami hukum-hukum alam yang dapat dikaji secara ilmiah.

Struktur ayat وَالْبَحْرِ الْمَسْجُوْرِ menunjukkan bentuk sumpah (qasam) dengan kata “وَ” yang berarti “demi.” Penggunaan bentuk ma’ṭuf (penyambung) setelah ayat sebelumnya menghubungkan objek sumpah secara erat. Kata الْبَحْرِ berarti "lautan," sedangkan الْمَسْجُوْرِ berasal dari akar kata سَجَرَ yang berarti “membakar atau mengisi.” Struktur ini menekankan karakteristik lautan yang dipanaskan, baik secara literal maupun metaforis. Dalam sintaksis bahasa Arab, pola ini memberikan penekanan pada fenomena yang luar biasa dan tidak biasa, menarik perhatian terhadap sesuatu yang belum sepenuhnya diketahui manusia pada saat wahyu ini diturunkan.

Ayat ini menggunakan tasybih maknawi (perumpamaan implisit). Kata الْمَسْجُوْرِ menunjukkan paradoks antara air dan api, yang secara alami bertentangan, tetapi dalam konteks ini disandingkan secara harmonis. Ini memperlihatkan aspek i’jaz (keajaiban bahasa) Al-Qur’an dalam menyampaikan konsep yang mendalam dalam satu kata. Penggunaan sumpah juga memperkuat makna, seolah-olah Allah mengingatkan manusia akan keagungan dan kekuasaan-Nya melalui fenomena alam yang luar biasa. Keindahan lafaz ini terletak pada kontradiksi yang mengandung makna ilmiah yang baru dapat dipahami dalam era modern.

Kata الْمَسْجُوْرِ memiliki beberapa makna yang relevan. Dalam bahasa Arab klasik, ia berarti "dituangkan atau dipenuhi," yang menunjukkan bagaimana lautan penuh dengan air. Namun, makna lain adalah "dipanaskan atau dibakar," yang sesuai dengan penemuan sains modern tentang aktivitas vulkanik bawah laut. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an menggunakan bahasa yang fleksibel dan multi-interpretatif, memungkinkan pemahaman yang berkembang seiring bertambahnya ilmu pengetahuan manusia. Dengan demikian, pemilihan kata ini bukan hanya menggambarkan kondisi lautan saat itu, tetapi juga mengisyaratkan fenomena geologi yang baru ditemukan.

Ayat ini mengandung tanda-tanda yang memiliki makna mendalam. Lautan yang "dipanaskan" bisa menjadi simbol ketidakstabilan alam yang menunjukkan kekuasaan Allah dalam mengendalikan alam semesta. Secara metaforis, api di dalam lautan dapat melambangkan proses penciptaan dan kehancuran dalam siklus kehidupan bumi. Selain itu, dalam konteks eskatologi Islam, beberapa tafsir mengaitkannya dengan kondisi kiamat, di mana lautan akan "menyala" sebagai bagian dari kehancuran dunia. Dari perspektif ini, ayat ini dapat dilihat sebagai simbol kebesaran Allah yang tersirat dalam fenomena alam dan peristiwa akhir zaman.

Penjelasan Ulama Tafsir


Tafsir Fakhruddin Ar-Razi

Fakhruddin Ar-Razi dalam kitab Mafatih al-Ghaib menafsirkan "الْبَحْرِ الْمَسْجُوْرِ" sebagai lautan yang memiliki unsur panas atau terbakar. Menurutnya, kata "مسجور" berasal dari akar kata "سجر" yang berarti "menyalakan" atau "mengisi penuh." Ia menyebut dua kemungkinan makna: pertama, bahwa lautan ini sedang atau akan dipanaskan oleh Allah sebagai bagian dari tanda kekuasaan-Nya; kedua, bahwa lautan ini berisi api di dalamnya. Ar-Razi juga menghubungkan ayat ini dengan neraka yang digambarkan berada di bawah lautan, yang menunjukkan bahwa air dan api bisa berdampingan dalam ketentuan Allah.


Tantowi Jauhari dalam tafsirnya, Tafsir Al-Jawahir, lebih menitikberatkan pada pendekatan ilmiah. Ia menafsirkan "البحر المسجور" sebagai lautan yang memiliki aktivitas panas di dalamnya, yang sesuai dengan fenomena letusan gunung api bawah laut. Ia menafsirkan ayat ini sebagai isyarat Al-Qur’an terhadap geologi modern, di mana dasar laut mengandung magma yang terus aktif. Tantowi juga menekankan bahwa penemuan ilmiah mengenai lempeng tektonik dan aktivitas vulkanik bawah laut membuktikan kebenaran ayat ini.


Sains dan Pendidikan


Penafsiran ini memiliki hubungan erat dengan ilmu geologi dan oseanografi modern. Penemuan mengenai mid-ocean ridges dan gunung berapi bawah laut menunjukkan bahwa bumi memiliki jaringan retakan di dasar samudra yang terus mengeluarkan magma. Fenomena ini sejalan dengan makna "مسجور" dalam ayat ini.


Secara pendidikan, pemahaman ini dapat diintegrasikan dalam kurikulum sains berbasis Al-Qur'an. Pendekatan integratif ini mendorong siswa untuk melihat hubungan antara wahyu dan ilmu pengetahuan, memperkuat keyakinan bahwa Al-Qur’an memberikan isyarat ilmiah jauh sebelum ilmu modern menemukannya. Pendidikan berbasis wahyu dan sains dapat meningkatkan pemahaman spiritual serta kemampuan berpikir kritis dalam memahami fenomena alam.

Riset yang Relevan

Berbagai riset menunjukkan hasil yang relevan dengan ayat ini. Riset yang dilakukan oleh Dr. Robert Sohn (2023)eL t.8ngan judul "Hydrothermal Activity and Volcanic Eruptions in Mid-Ocean Ridges" merupakan sebuah penelitian yang menggunakan pemetaan sonar dan pengukuran suhu hidrotermal di Samudra Pasifik untuk menganalisis aktivitas vulkanik bawah laut.

Melalui penelitian ini ditemukan bahwa dasar laut memiliki banyak retakan yang terus menerus mengeluarkan panas dan gas vulkanik, yang mendukung teori bahwa lautan memang "dipanaskan" dari dalam.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Prof. Emily S. Klein (2022) bertajuk "The Role of Magma Plumes in Oceanic Crust Formation". Studi ini menggunakan data satelit dan pengukuran langsung dengan robot bawah laut untuk menganalisis pergerakan magma di bawah kerak samudra. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa panas dari inti bumi berperan dalam pembentukan kerak samudra dan menghasilkan zona panas di bawah laut, yang sesuai dengan konsep "مسجور" dalam Al-Qur’an.

Ayat ini memberikan isyarat ilmiah yang kini terbukti melalui penelitian modern, mendukung integrasi sains dan wahyu dalam pendidikan. Ini menjadi bukti bahwa Islam agama peradaban.

Posting Komentar

0 Komentar