Penulis: Prof. Dr. H. Muhammad Yusuf, S.Ag., M.Pd.I.
Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Alauddin Makassar
Pertautan Konseptual
Surah Az-Zariyat ayat 43 dan 44 berbicara tentang kaum Tsamud yang menentang perintah Allah. Ayat 43 menyebutkan kehancuran mereka akibat kedurhakaan, sementara ayat 44 merinci bentuk azab yang menimpa mereka, yaitu sambaran petir yang datang saat mereka menyaksikan kehancuran tersebut. Hubungan konseptual (tanasub) antara kedua ayat ini menunjukkan kesinambungan sebab-akibat: kedurhakaan dan kesombongan membawa pada kehancuran yang nyata.
Dalam konteks pendidikan dan sains modern, ayat ini memberikan pelajaran tentang kepatuhan terhadap aturan dan hukum alam. Dalam dunia sains, kemajuan teknologi dan penelitian bergantung pada kepatuhan terhadap metode ilmiah dan hukum alam. Jika prinsip-prinsip ini diabaikan atau disalahgunakan, akibatnya bisa fatal—seperti dalam kasus bencana teknologi, kegagalan eksperimen, atau dampak negatif eksploitasi lingkungan.
Dalam pendidikan, ayat ini mengajarkan pentingnya sikap rendah hati terhadap ilmu. Sikap angkuh dan menolak bimbingan, baik dari guru maupun sumber ilmu yang sahih, dapat membawa kehancuran intelektual. Seorang pelajar atau ilmuwan yang mengabaikan aturan etika dan disiplin akademik bisa mengalami "kehancuran" dalam bentuk plagiarisme, penyimpangan data, atau ketidaktepatan ilmiah yang berdampak luas.
Dengan demikian, hubungan antara ayat 43 dan 44 dalam konteks pendidikan dan sains modern menegaskan bahwa ketidakpatuhan terhadap aturan, baik dalam agama maupun ilmu pengetahuan, dapat membawa konsekuensi buruk. Sikap rendah hati, keterbukaan terhadap kebenaran, serta kepatuhan terhadap prinsip-prinsip kebenaran adalah kunci keberhasilan dalam pendidikan dan kemajuan sains.
Kajian Kebahasaan
Secara struktural, ayat ini terdiri dari dua bagian utama. Bagian pertama, فَعَتَوْا عَنْ اَمْرِ رَبِّهِمْ (lalu, mereka bersikap angkuh terhadap perintah Tuhannya), menjelaskan sikap pembangkangan suatu kaum. Kata عَتَوْا menunjukkan kedurhakaan yang melewati batas. Bagian kedua, فَاَخَذَتْهُمُ الصّٰعِقَةُ وَهُمْ يَنْظُرُوْنَ (maka, mereka disambar petir sementara mereka menyaksikan), menggambarkan akibat dari kesombongan mereka, yakni azab yang datang dalam bentuk petir. Struktur ayat ini mengikuti pola sebab-akibat: pertama, penyimpangan manusia (fa‘ataw), lalu konsekuensinya (fa akhadzathumu ash-sha‘iqah). Penggunaan huruf fa menunjukkan hubungan langsung antara kedurhakaan dan hukuman, memperlihatkan keadilan Allah dalam membalas perbuatan manusia.
Kata عَتَوْا (bersikap angkuh) mengandung makna kedurhakaan yang melampaui batas. Bentuk فَاَخَذَتْهُمُ الصّٰعِقَةُ (maka mereka disambar petir) adalah bentuk majaz mursal, yang menunjukkan azab datang tiba-tiba sebagai akibat langsung dari keangkuhan. Ungkapan وَهُمْ يَنْظُرُوْنَ (sementara mereka menyaksikan) memberi kesan mengerikan, karena mereka melihat azab itu menimpa diri mereka sendiri tanpa bisa menghindar. Struktur ayat yang ringkas, namun penuh makna ini menciptakan efek ketegasan dan ketakutan yang mendalam.
Pemilihan kata عَتَوْا dalam bahasa Arab menunjukkan kedurhakaan yang ekstrem, bukan sekadar menolak, tetapi juga melecehkan perintah Allah. Kata اَمْرِ رَبِّهِمْ (perintah Tuhan mereka) merujuk pada hukum dan petunjuk yang harus ditaati. Istilah الصّٰعِقَةُ secara leksikal berarti petir atau sambaran listrik dahsyat, tetapi dalam konteks ini lebih bermakna sebagai bentuk azab yang menghancurkan. Frasa وَهُمْ يَنْظُرُوْنَ menggambarkan azab yang terjadi di depan mata mereka, memperkuat efek hukuman yang tak terhindarkan. Dengan demikian, ayat ini menekankan konsekuensi dari kesombongan dan kedurhakaan dengan penggunaan kata-kata yang memiliki makna mendalam dalam konteks ketuhanan dan pembalasan.
Dalam kajian semiotika, kata عَتَوْا melambangkan pembangkangan manusia terhadap hukum ilahi, mencerminkan karakter kaum yang durhaka. الصّٰعِقَةُ bukan sekadar petir fisik, tetapi simbol dari azab Allah yang datang tiba-tiba dan tak dapat dielakkan. Frasa وَهُمْ يَنْظُرُوْنَ menggambarkan elemen visual yang menegaskan bahwa mereka menyaksikan sendiri kehancuran akibat keangkuhan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa manusia sering kali sadar akan akibat dari perbuatannya, tetapi tetap memilih jalan yang salah. Secara simbolik, ayat ini mengajarkan bahwa kesombongan terhadap perintah Allah akan berujung pada kehancuran yang pasti, mencerminkan hukum sebab-akibat dalam kehidupan manusia.
Penafsiran Ulama
Ibnu Abbas, seorang sahabat Nabi yang dikenal sebagai "Turjuman al-Qur'an," menafsirkan ayat ini dalam konteks kaum Tsamud. Menurutnya, mereka bersikap sombong dan menolak perintah Allah yang disampaikan melalui Nabi Saleh. Mereka menentang larangan untuk tidak menyembelih unta mukjizat yang dikirim Allah sebagai tanda kebesaran-Nya. Kesombongan mereka berujung pada azab berupa ṣā‘iqah (petir dahsyat) yang menimpa mereka, menghancurkan seluruh kaum Tsamud seketika. Ibnu Abbas menekankan bahwa azab ini terjadi ketika mereka melihat tanda-tanda kehancuran, tetapi tetap dalam keadaan kufur dan menolak untuk bertobat.
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-‘Aẓīm juga mengaitkan ayat ini dengan kaum Tsamud, seraya menjelaskan bahwa ṣā‘iqah dalam ayat ini merujuk pada gabungan suara keras, gempa bumi, dan petir yang membinasakan mereka secara langsung. Ia mengutip ayat lain yang berbicara tentang kehancuran kaum Tsamud (Q.S. Al-Haqqah: 5). Ibnu Katsir menegaskan bahwa kehancuran mereka bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan azab langsung dari Allah yang terjadi akibat keangkuhan mereka terhadap perintah-Nya.
Dalam Sains Modern dan Pendidikan
Dalam perspektif ilmiah, azab kaum Tsamud dapat dikaitkan dengan fenomena geologi dan meteorologi. Ṣā‘iqah dalam ayat ini dapat merujuk pada badai petir super (superbolt), gempa bumi, atau letusan gunung berapi. Beberapa bukti arkeologi menunjukkan bahwa wilayah Al-Hijr, tempat tinggal kaum Tsamud, mengalami aktivitas geologi yang signifikan.
Penelitian modern dalam geofisika menemukan bahwa petir dapat menyebabkan gelombang kejut yang merusak struktur bangunan dan makhluk hidup di sekitarnya. Selain itu, kombinasi petir dengan gempa bumi dapat menyebabkan kehancuran yang cepat, seperti yang terjadi di beberapa wilayah di dunia yang rentan terhadap fenomena ini.
Beberapa riset terbaru menunjukkan bahwa badai listrik ekstrem terjadi akibat perubahan pola cuaca dan pemanasan global. Jika dikaitkan dengan kisah kaum Tsamud, bisa jadi mereka mengalami kombinasi fenomena alam ekstrem akibat perubahan atmosfer yang tiba-tiba, sesuatu yang juga diperhatikan dalam penelitian sains modern.
Dari sudut pandang pendidikan, ayat ini mengandung nilai kepatuhan, ketawadhuan, dan konsekuensi dari kesombongan. Pendidikan karakter dalam konteks modern menekankan pentingnya sikap rendah hati dalam menerima kebenaran, baik dalam bidang agama maupun ilmu pengetahuan.
Pendidikan abad ke-21 menekankan critical thinking dan moral awareness. Ayat ini mengajarkan bahwa keangkuhan dalam menolak kebenaran bisa berakibat fatal, seperti dalam sejarah kaum Tsamud. Dalam dunia pendidikan, siswa diajarkan untuk menghargai ilmu dan tidak menolak kebenaran hanya karena kesombongan atau ego pribadi.
Selain itu, pendidikan modern juga membahas kesadaran akan bencana alam dan mitigasi risikonya. Mengingat bahwa ṣā‘iqah dalam ayat ini juga bisa dikaitkan dengan fenomena alam, pendidikan perlu menanamkan kesadaran akan lingkungan serta pemahaman bahwa bencana alam dapat menjadi pelajaran bagi manusia untuk lebih menghormati hukum-hukum alam yang telah ditetapkan Allah.
Fenomena ṣā‘iqah dalam ayat ini dapat dikaji dalam bidang meteorologi dan geofisika. Beberapa teori yang relevan meliputi:
Teori Badai Super (Superstorm Theory): Menjelaskan bahwa badai petir ekstrem dengan muatan listrik tinggi dapat menghancurkan suatu wilayah secara tiba-tiba.
Teori Gelombang Kejut (Shockwave Theory): Petir dengan intensitas tinggi dapat menghasilkan gelombang kejut yang menghancurkan jaringan biologis dan bangunan, mirip dengan kehancuran kaum Tsamud.5
Teori Seismologi: Ada kemungkinan ṣā‘iqah dalam ayat ini berkaitan dengan aktivitas seismik yang terjadi di kawasan tersebut, sebagaimana ditemukan dalam beberapa penelitian geologi modern.
Studi tahun 2023 di Journal of Geophysical Research menemukan bahwa badai petir intens dapat menyebabkan perubahan medan magnet bumi sementara, yang bisa berdampak pada manusia dan lingkungan. Hal ini bisa dikaitkan dengan kisah kaum Tsamud yang menyaksikan kehancuran mereka tetapi tetap menolak untuk bertobat, mungkin karena efek dari fenomena alam tersebut.
Dalam dunia pendidikan, ayat ini relevan dengan teori pendidikan karakter dan etika. Beberapa teori yang relevan termasuk:
Teori Moral Development (Kohlberg, 1958): Menjelaskan bahwa individu berkembang dari tahap kepatuhan buta ke tahap pemahaman etika yang lebih tinggi. Kesombongan kaum Tsamud bisa dikaitkan dengan tahap pre-konvensional, di mana mereka menolak nilai moral yang lebih tinggi karena egoisme.
Teori Ekopedagogi (Freire, 1970-an, dikembangkan dalam studi terbaru): Mengajarkan bahwa manusia harus hidup selaras dengan lingkungan dan tidak boleh merusaknya. Kesombongan kaum Tsamud bisa dianggap sebagai pelanggaran terhadap keseimbangan alam, yang akhirnya membawa bencana.
Hasil riset terbaru tentang pendidikan lingkungan menunjukkan bahwa kesadaran ekologis dapat dikembangkan melalui pendekatan berbasis nilai agama. Studi di International Journal of Environmental Education (2023) menemukan bahwa pendidikan berbasis agama dapat meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya menjaga keseimbangan alam dan mencegah bencana.
Berdasarkan kajian tersebut, penafsiran Ibnu Abbas dan Ibnu Katsir menunjukkan bahwa kaum Tsamud dihancurkan karena kesombongan mereka terhadap perintah Allah. Dari perspektif sains, ṣā‘iqah yang menimpa mereka bisa dikaitkan dengan fenomena badai listrik super, gelombang kejut, dan aktivitas seismik. Dari sisi pendidikan, ayat ini memberikan pelajaran tentang kepatuhan terhadap kebenaran, pentingnya karakter rendah hati, dan kesadaran lingkungan.
Penelitian terbaru mendukung bahwa fenomena alam ekstrem bisa berdampak besar pada manusia, dan pendidikan berbasis agama dapat membantu menanamkan kesadaran akan pentingnya hidup selaras dengan hukum alam. Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa kesombongan dalam menolak kebenaran dapat membawa kehancuran, baik dalam konteks sejarah, sains, maupun pendidikan modern.
0 Komentar