Kosmologi Covid-19: Membaca Ayat yang Terhampar



Kosmologi Covid-19: Membaca Ayat yang Terhampar*

18/1/2021


*Oleh Muhammad Yusuf*

Saya berusaha merawat prasangka baik saya kepada Allah. Mungkin juga Anda begitu. Sebab Allah berada dalam prasangka hamba-Nya. Demikian dinukil dalam satu hadis qudsi. Kita mesti terus membaca dan memahami kode (ayat Allah). Ayat-ayat Allah ada yang termaktub (Al-Qur'an) atau disebut pula ayat qauliyah, dan ada yang terhampar (makro kosmos) atau disebut pula ayat kauniyah. Keduanya mesti dibaca. 

Dalam tradisi keilmuan manusia penguasaan secara terpisah mengidentifikasi dua istilah. Yang menguasai ayat qauliyah disebut ulama, dan yang menguasai ayat kauniyah diidentifikasi saintis (ilmuwan). Sedangkan menguasai keduanya dan melahirkan rasa khasy-yah (kesadaran takwa) disebut Ulul albab. Jadi nilai sebuah tindak pembacaan adalah takwa kepada Allah.

Secara teologis, dalam kuasa Allah, tidak ada satu kejadian di alam semesta yang lepas dari qadrat dan iradat-Nya. Semua berada dalam garis sunatullah yang diciptakan-Nya. Allah berfirman, yang artinya: “Tidak ada musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada dia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. ” (di-Taghabun: 11).

Nabi Muhammad Saw. mengingatkan musibah wabah (al-tha'un) sebagai peringatan penting bagi manusia sekaligus perlu karantina diri dan sosial (HR al-Bukhārī). Boleh jadi dalam sistem kehidupan saat ini, di negeri tercinta dan ranah dunia, manusia sudah lama terasing dan kerdil diri. Orang sekuler terlalu percaya diri pada rasio, iptek, dan sistem yang mereka bangun atas dasar humanisme belaka.

Mereka melupakan Tuhan dengan segala kemahakuasaan-Nya dan anugerah seluruh ciptaan-Nya. Sunatullah hanya menerapkan sebatas hukum alam. Agama sumber ketertinggalan dan masalah sehingga menjadi agnotik. Sebagian bahkan bangga menjadi anti-Tuhan atau ateis karena merasa diri otonom dengan otak dan ilmunya tanpa perlu Tuhan dan agama. Akan tetapi, kekaguman mereka pada teknologi tak mampu menjamin mereka aman dari virus Corona. Pokoknya, dunia saat ini dalam kecemasan. Secanggih apapun persenjataan mereka, tidak ada gunanya dalam menghadapi pandemi Covid-19. Tak ada negara adidaya menghadapi pandemi Covid-19 saat ini.

Para penguasa dunia yang merasa digdaya dengan sistem politik, ekonomi, budaya, dan sistem kehidupan lainnya yang menjadi acuan. Baik yang berpangkal pada sosialisme maupun kapitalisme yang rakus dan arogan. Semua hal dikendalikan dengan hitung-hitungan indrawi dan duniawi belaka. Hewan mengeksploitasi sesama manusia, tumbuhan, dan alam menjadi tabiatnya tanpa rasa dan memperhatikan kepentingan yang luhur.

Hanya Allah yang Maha Kaya (al-Ganiy wal Mugniy). Ada jutaan manusia termiskinkan dan alam dieksploitasi tanpa batas sehingga terjadi kebakaran hutan, banjir, dan kerusakan ekosistem yang masif. Di mana salah satu yang kita hadapi saat ini, yaitu pandemi Covid-19.

Kemajuan iptek dan infrastruktur menjadi keangkuhan baru. Lebih-lebih dengan kehadiran teknologi informasi dan revolusi 4.0 yang takjub dan membuat banyak manusia menjadi budaknya. Manusia hanya dari ukuran benda dan teknologi yang instrumental itu. Ini mendesak untuk dibaca. Sayangnya, pembacaan para ahli sebagian hanya terhenti pada tataran empiris, gagal menemukan pesan-pesan dan nilai-nilai transendental-ilahiyah. 

Idealnya pembacaan itu menghasilkan makna transendental-ilahiyah. Tak ada yang Kaya selain Allah. Ekonomi dan legasi fisik didewakan. Pendidikan, kebudayaan, spiritual, bahkan pemerintahan dan keagamaan disubordinasikan oleh hegemoni dunia teknologis yang robotik itu. Ibarat bangunan struktur dunia tampak kokoh dan megah, tapi rapih dan rapuh fondasinya. Akidah Tauhid adalah pondasi.

Akibatnya, manusia mengalami krisis budaya atau budaya-lag (istilah William Ogburn), disorientasi, dan kejutan kebudayaan atau kejutan budaya (istilah Alvin Toffler), dan anomie atau anomali dalam referensi para sosiolog.

Uang, teknologi, infrastruktur, investasi, materi, keuntungan, tempat, hiburan, serta segala hal yang bersifat materi dan fisik menjadi serba didewakan dalam nalar pragmatis dan instrumentalis.

Dunia dipandang sebatas telunjuk dan mata kuda sehingga hilang kesadaran kosmologisnya yang melintas batas semesta. Negara dan rakyat pun diurus dalam alfabet pola pikir pragmatis dan instrumentalis itu minus visi kenegarawanan yang mencukupi, apalagi visi kosmologis yang melindungi!

Di tengah gelombang dan arus deras krisis, sering sebagian manusia masih tetap zholim dan angkuh diri. Mereka mengaku beriman, berakal pikiran, dan berilmu. Lebih-lebih mereka yang merasa kaku.

Mereka seolah-olah mati kesadarannya memanipulasi firman Allah yang artinya: “Dan sebenarnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka tidak memiliki telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat Allah) ). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka menyerang orang-orang yang lalai ”(al-'Araf: 179).

Pandemi Covid-19 ini merupakan salah code dari langit yang ditujukan kepada pennghuni planet bumi, terutama manusia agar mampu merasakan sentuhan lembutd dariRabb-nya agar dekat dan menjadi Ulul albab. Ulul albab adalah orang-orang yang tafakkur (kontemplasi) dan zikirnya selalu "on" dan terkoneksi selalu kepada Allah. Dalam kondisi berdiri, duduk, dan berbaring kebesaran Allah selalu nyata. Covid-19 itulah instrumen yang menghendaki untaian doa-doa itu intensif terucap.


Wallahu a'lam.

Posting Komentar

0 Komentar