KAJIAN Q.S. AZ-ZARIYAT: 42

Penulis: Prof. Dr. H. Muhammad Yusuf, S.Ag., M.Pd.I.

Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Alauddin Makassar

Pertautan Konseptual

Surah Az-Zariyat ayat 42 menggambarkan kedahsyatan angin yang menghancurkan segala sesuatu hingga menjadi seperti tulang yang rapuh. Sementara itu, ayat 26 berbicara tentang kemurahan hati Nabi Ibrahim dalam menyuguhkan daging panggang kepada tamunya. Dua ayat ini sekilas tampak tidak berhubungan, tetapi jika ditelaah lebih dalam, keduanya memiliki hubungan konseptual yang erat dalam konteks pendidikan dan sains modern.

Dalam pendidikan, kedua ayat ini dapat dikaitkan dengan konsep keseimbangan antara ancaman kehancuran dan kebaikan yang membangun. Ayat 42 mengingatkan tentang dampak destruktif ketika suatu hal tidak dipelihara dengan baik, seperti bagaimana dalam sains, lingkungan yang rusak oleh bencana alam atau eksploitasi berlebihan dapat menyebabkan kehancuran ekosistem. Sementara itu, ayat 26 menekankan pentingnya nilai-nilai sosial seperti keramahan dan kepedulian terhadap sesama, yang dalam pendidikan modern menjadi bagian dari penguatan karakter.

Dalam dunia sains, kedua ayat ini juga dapat dihubungkan dengan prinsip sebab-akibat. Ayat 42 mencerminkan hukum alam yang bekerja dalam bentuk kehancuran akibat kekuatan alam, seperti badai atau erosi. Di sisi lain, ayat 26 menunjukkan bagaimana manusia dapat berperan dalam menciptakan keberlanjutan, seperti dalam ilmu pangan dan gizi yang berupaya menciptakan ketahanan pangan bagi masyarakat.

Dengan demikian, pertautan konseptual antara kedua ayat ini memberikan pelajaran bahwa ilmu pengetahuan dan pendidikan tidak hanya berorientasi pada pemahaman alam dan konsekuensi dari ketidakseimbangan, tetapi juga pada bagaimana manusia dapat membangun kehidupan yang lebih baik melalui kebaikan dan kebijaksanaan.

Kajian Linguistik

Struktur ayat ini terdiri dari dua bagian utama: klausa negatif "Ù…َا تَذَرُ Ù…ِÙ†ْ Ø´َÙŠْØ¡ٍ" (tidak meninggalkan apa pun) dan klausa positif "اِÙ„َّا جَعَÙ„َتْÙ‡ُ ÙƒَالرَّÙ…ِÙŠْÙ…ِ" (kecuali menjadikannya bagai tulang yang hancur). Penggunaan bentuk fi‘il mudhari‘ (تَذَرُ) menunjukkan kesinambungan atau sesuatu yang berulang. Kata "Ù…ِÙ†ْ Ø´َÙŠْØ¡ٍ" dengan partikel "Ù…ِÙ†ْ" berfungsi sebagai taukid (penguatan), menegaskan bahwa angin tersebut menghancurkan segala sesuatu tanpa pengecualian. Penggunaan "اِÙ„َّا" menandakan pengecualian bahwa akibat dari angin ini adalah kehancuran total. Struktur ini menciptakan efek dramatis dan menunjukkan sifat absolut dari angin tersebut, yang diyakini sebagai angin azab yang menghancurkan kaum ‘Ad.

Keindahan bahasa ayat ini dengan penggunaan .isti‘arah (metafora) dalam frasa "جَعَÙ„َتْÙ‡ُ ÙƒَالرَّÙ…ِÙŠْÙ…ِ" (menjadikannya seperti tulang yang hancur). Kata الرَّÙ…ِÙŠْÙ…ِ secara harfiah berarti sesuatu yang telah lapuk atau hancur berkeping-keping, menggambarkan kehancuran total akibat angin tersebut. Penggunaan majaz mursal juga tampak dalam kata "Ù…َا تَذَرُ", yang secara eksplisit berarti "tidak meninggalkan apa pun," tetapi dalam konteks ini menunjukkan pengaruh angin yang dahsyat. Selain itu, penggunaan takhwÄ«f (gaya bahasa untuk menimbulkan ketakutan) melalui penggambaran kehancuran total memperkuat pesan peringatan dalam ayat ini. Pola ini menegaskan kedahsyatan siksa Allah dan dampaknya yang tidak dapat dihindari oleh kaum yang menentang-Nya.

Dari perspektif semantik, kata تَذَرُ (meninggalkan) dalam ayat ini bermakna "mengabaikan" atau "tidak menyisakan apa pun," yang memperjelas efek destruktif angin tersebut. Kata الرَّÙ…ِÙŠْÙ…ِ merujuk pada sesuatu yang sudah hancur dan tak bernilai, sering digunakan dalam konteks benda mati seperti tulang atau daun kering. Makna ini mengindikasikan bahwa segala sesuatu yang terkena angin ini akan berubah menjadi puing-puing tanpa sisa kehidupan. Frasa "اِÙ„َّا جَعَÙ„َتْÙ‡ُ" menunjukkan hubungan sebab-akibat, yaitu angin ini menyebabkan kehancuran total. Secara semantik, ayat ini menggambarkan kehancuran kaum yang durhaka sebagai sesuatu yang pasti, mengacu pada kisah kaum ‘Ad yang dibinasakan oleh angin topan selama tujuh malam delapan hari berturut-turut.

Ayat ini menyampaikan tanda-tanda kehancuran sebagai akibat dari pembangkangan terhadap perintah Allah. Angin dalam ayat ini bukan sekadar fenomena alam, tetapi simbol kekuasaan Allah dalam menimpakan azab. Frasa "Ù…َا تَذَرُ Ù…ِÙ†ْ Ø´َÙŠْØ¡ٍ" menandakan sifat absolut dari angin tersebut, yang tidak memilih objek tertentu tetapi menghancurkan segalanya. Kata الرَّÙ…ِÙŠْÙ…ِ menyiratkan kesudahan yang hina bagi mereka yang menolak kebenaran, di mana tubuh dan bangunan mereka tak lagi dikenali. Dalam konteks yang lebih luas, ayat ini berfungsi sebagai peringatan bagi manusia untuk tidak sombong dan menentang kebenaran, karena akibatnya adalah kehancuran yang tidak tersisa sedikit pun.

Penafsiran Ulama

Fakhrur Razi dalam Tafsir al-Kabir menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan kekuatan angin yang Allah kirimkan sebagai azab kepada kaum terdahulu, seperti kaum ‘Ad. Ia menafsirkan kata "الرَّÙ…ِيمِ" (ramÄ«m) sebagai sesuatu yang telah hancur lebur dan tidak lagi memiliki bentuk asal. Angin ini bukan hanya sekadar angin kencang, tetapi memiliki daya destruktif luar biasa hingga menghancurkan apa pun yang dilewatinya. Menurut Fakhrur Razi, ayat ini juga menjadi peringatan bagi manusia agar tidak sombong dan merasa kuat, sebab kekuasaan Allah bisa menghancurkan segalanya dalam sekejap. Selain itu, ia menghubungkan ayat ini dengan konsep kehancuran sebagai sunnatullah yang menimpa kaum yang membangkang terhadap perintah-Nya.

Jauhari Tahnawi dalam Tafsir Jawahir lebih menitikberatkan pada aspek ilmiah dari ayat ini. Ia menafsirkan bahwa angin yang disebutkan dalam ayat ini bukan sekadar angin biasa, melainkan angin topan atau badai yang memiliki kekuatan destruktif tinggi. Ia mengaitkan kata "Ù…َا تَذَرُ" (tidak meninggalkan) dengan efek total dari bencana alam yang dapat meratakan bangunan dan pepohonan hingga menjadi puing-puing. Penafsiran ini memperlihatkan bahwa ayat ini tidak hanya berbicara tentang sejarah kaum terdahulu, tetapi juga mencerminkan fenomena alam yang masih terjadi hingga sekarang. Menurutnya, angin memiliki peran penting dalam keseimbangan ekosistem, namun ketika bergerak dalam skala ekstrem, ia dapat menjadi alat perusak yang dahsyat.

Sains Modern, Pendidikan, dan Kemaslahatan

Ayat ini memiliki korelasi kuat dengan fenomena alam yang dipelajari dalam sains modern, khususnya dalam meteorologi dan mitigasi bencana. Berdasarkan penelitian terbaru (2022-2024), perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas badai serta angin topan. Studi dari IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2023 menunjukkan bahwa suhu global yang meningkat berkontribusi pada meningkatnya kejadian badai kategori tinggi yang lebih destruktif. Penelitian lain dari Nature Climate Change (2024) mengungkapkan bahwa badai kini bertahan lebih lama di daratan, menyebabkan kehancuran yang lebih luas, mirip dengan yang disebutkan dalam Q.S. Az-Zariyat: 42.

Dalam konteks pendidikan, pemahaman ayat ini dapat diterapkan dalam kurikulum sains dan lingkungan. Pendidikan yang bertujuan untuk kemaslahatan umat harus mengajarkan bagaimana memahami gejala alam ini dan cara mengantisipasinya. Program mitigasi bencana berbasis pendidikan lingkungan, seperti yang diterapkan di Jepang dan Indonesia, telah terbukti mengurangi dampak korban jiwa akibat badai dan angin topan.

Selain itu, konsep "peringatan" dalam ayat ini bisa menjadi bahan edukasi moral dan spiritual. Manusia diingatkan untuk tidak lalai dalam menjaga keseimbangan alam, karena bencana sering kali terjadi akibat eksploitasi berlebihan terhadap lingkungan. Implementasi pendidikan berbasis agama dan sains dapat membantu masyarakat memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya keharusan ilmiah tetapi juga kewajiban spiritual.

Berdasarkan, penafsiran Fakhrur Razi menekankan aspek kehancuran sebagai bentuk azab, sedangkan Jauhari Tahnawi melihatnya sebagai fenomena alam yang memiliki sisi ilmiah. Kedua perspektif ini, jika dikaitkan dengan sains modern dan pendidikan, mengajarkan kita pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan serta kesiapsiagaan terhadap bencana sebagai bentuk ikhtiar dalam mewujudkan kemaslahatan manusia.

Posting Komentar

0 Komentar