KAJIAN Q.S. AZ-ZARIYAT: 41

 Penulis: Prof. Dr. H. Muhammad Yusuf, S.Ag., M.Pd.I.

Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Alauddin Makassar

Pertautan Konseptual

Surah Az-Zariyat ayat 40 menyebutkan bagaimana kaum terdahulu, seperti kaum ‘Ad, mengalami kehancuran akibat kezaliman dan penolakan mereka terhadap kebenaran. Ayat ini berbicara tentang hukuman yang ditimpakan kepada mereka sebagai akibat dari penyimpangan moral dan ketidakpatuhan terhadap hukum-hukum Allah.

Kemudian, pada ayat 41, disebutkan secara spesifik bahwa kaum ‘Ad dihancurkan oleh "angin yang membinasakan" (ar-riih al-'aqiim), yang dalam tafsir dijelaskan sebagai angin yang sangat kencang, panas, dan berhembus terus-menerus selama beberapa hari hingga menghancurkan mereka. Dari pertautan ini, terlihat bahwa ada hubungan sebab-akibat yang jelas: pelanggaran terhadap hukum-hukum Tuhan membawa konsekuensi berupa bencana alam yang dahsyat.

Dalam konteks pendidikan dan sains modern, keterkaitan antara kedua ayat ini memberikan pelajaran penting tentang hukum sebab-akibat dan konsekuensi dari tindakan manusia. Sains mengajarkan bahwa fenomena alam, seperti badai dan perubahan iklim ekstrem, sering kali memiliki korelasi dengan tindakan manusia, seperti eksploitasi lingkungan dan perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas industri. Sama halnya, dalam pendidikan, pemahaman tentang hukum alam dan etika menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran terhadap dampak dari setiap keputusan.

Dengan demikian, ayat-ayat ini dapat dijadikan refleksi bagi dunia pendidikan dan sains untuk menanamkan pemahaman bahwa ketidakpatuhan terhadap hukum, baik hukum Tuhan maupun hukum alam, dapat membawa akibat yang merugikan. Kesadaran akan keseimbangan dan tanggung jawab terhadap alam dan masyarakat menjadi esensi utama dalam membangun peradaban yang berkelanjutan.

Pendekatan Kebahasaan

وَفِيْ عَادٍ اِذْ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيْحَ الْعَقِيْمَۚ ۝٤١

Terjemahnya: "Begitu pula Kami meninggalkan) pada (kaum) ‘Ad (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengirim kepada mereka angin yang membinasakan." (41).

Ayat ini terdiri dari beberapa unsur utama: kata sambung (وَفِيْ), subjek (عَادٍ), kata kerja (اَرْسَلْنَا), objek (عَلَيْهِمُ), dan keterangan (الرِّيْحَ الْعَقِيْمَ). Ayat ini diawali dengan huruf waw (وَ) yang menunjukkan kesinambungan dengan ayat sebelumnya, sementara preposisi "فِي" menunjukkan keberadaan tanda-tanda kekuasaan Allah dalam kisah kaum ‘Ad. Kata kerja "أَرْسَلْنَا" (Kami mengirim) menunjukkan tindakan aktif dari Allah. Objek "الرِّيْحَ الْعَقِيْمَ" (angin yang membinasakan) memberi penekanan pada bentuk azab yang diturunkan. Struktur ayat ini menunjukkan pola naratif dengan alur sebab-akibat, menggambarkan bagaimana kaum ‘Ad dihancurkan oleh angin yang dikirim langsung oleh Allah.

Keindahan retoriika dengan pemilihan kata "الرِّيْحَ الْعَقِيْمَ" yang secara harfiah berarti "angin mandul". Penggunaan kata "عَقِيْمَ" (mandul) mengandung makna majazi, yaitu angin yang tidak membawa manfaat, hanya kehancuran. Istilah ini memperkuat efek ketakutan dan kengerian azab yang diterima kaum ‘Ad. Selain itu, penggunaan "أَرْسَلْنَا" (Kami mengirim) memberikan efek keagungan dan kekuasaan Allah dalam mengatur alam semesta. Struktur kalimat yang ringkas namun padat makna ini mencerminkan i'jaz (keajaiban bahasa) dalam Al-Qur'an, di mana dalam satu ayat terdapat informasi historis, ancaman, dan bukti kekuasaan Allah sekaligus.

Kata "الرِّيْحَ" (angin) dalam Al-Qur’an bisa bermakna rahmat atau azab, tergantung konteksnya. Dalam ayat ini, kata tersebut dikaitkan dengan "الْعَقِيْمَ", yang dalam konteks kaum ‘Ad berarti angin yang tidak membawa kehidupan, melainkan kehancuran total. Kata "أَرْسَلْنَا" berasal dari akar kata ر-س-ل yang berarti "mengirim", menandakan tindakan langsung dari Allah. Sementara itu, kata "عَادٍ" merujuk pada kaum yang sombong dan menolak dakwah Nabi Hud. Kombinasi kata dalam ayat ini menunjukkan hubungan sebab-akibat: kesombongan kaum ‘Ad menyebabkan mereka menerima azab berupa angin yang sangat keras dan mematikan.

Ayat ini mengandung simbol-simbol yang kuat. "عَادٍ" melambangkan kaum yang sombong dan menolak kebenaran. "الرِّيْحَ" sebagai elemen alam melambangkan kekuatan yang tak terlihat namun dapat membawa kehancuran. Adjektiva "الْعَقِيْمَ" menunjukkan sifat destruktif dari azab ini, bukan sekadar angin biasa, tetapi angin yang "mandul"—tidak memberi kehidupan, hanya menghancurkan. Secara keseluruhan, ayat ini menyampaikan pesan bahwa kekuasaan Allah tidak terbatas, dan siapa pun yang menentang-Nya akan menerima akibat yang setimpal. Simbolisasi ini juga menjadi peringatan bagi manusia agar tidak mengulangi kesalahan kaum ‘Ad yang dihancurkan karena kesombongan dan kedurhakaan mereka.

Penafsiran Ulama 

Dalam tafsir Fi Zhilalil Quran, Sayyid Qutb menekankan aspek keadilan dan kekuasaan Allah dalam menghancurkan kaum ‘Ad yang durhaka. Menurutnya, istilah ar-rīḥ al-‘aqīm (angin yang membinasakan) menggambarkan angin yang tidak membawa manfaat, berbeda dari angin yang biasanya memberikan kehidupan dengan membawa awan hujan atau menyuburkan tanah. Angin ini justru menjadi alat azab yang dikirimkan secara khusus untuk menghancurkan kaum ‘Ad.

Sayyid Qutb juga menyoroti bahwa bencana ini adalah bentuk sunnatullah yang berlaku bagi setiap kaum yang menolak kebenaran. Angin tersebut begitu dahsyat sehingga merobohkan bangunan dan melemparkan manusia seperti batang pohon kurma yang tercabut dari akarnya (Q.S. Al-Haqqah: 7). Penekanan dalam tafsirnya terletak pada aspek moral dan spiritual, yakni bagaimana kesombongan dan kedurhakaan membawa kehancuran, serta bagaimana kejadian ini menjadi peringatan bagi umat manusia.

Dalam tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir, Ibnu ‘Asyur memberikan pendekatan yang lebih linguistik dan historis. Ia menjelaskan bahwa ar-rīḥ al-‘aqīm disebut “mandul” karena tidak menghasilkan manfaat sebagaimana angin biasanya. Kata “‘aqīm” juga menunjukkan angin tersebut tidak membawa hujan dan tidak menyisakan kehidupan setelahnya.

Ibnu ‘Asyur menekankan bahwa angin ini bukan angin biasa, melainkan angin badai yang datang secara berulang dalam beberapa hari (Q.S. Al-Haqqah: 6-7). Ia juga meninjau aspek ilmiah dari angin ini, yang kemungkinan besar merupakan angin kencang yang membawa pasir dan debu, menghancurkan segala sesuatu di jalurnya. Dari perspektif sejarah, ia membandingkan kejadian ini dengan fenomena badai pasir ekstrem di Jazirah Arab, yang dapat berlangsung lama dan menyebabkan kehancuran luas.

Sains Modern dan Pendidikan 

Dalam perspektif sains modern, peristiwa yang menimpa kaum ‘Ad dapat dikaitkan dengan bencana alam seperti badai pasir atau topan dahsyat. Studi geologi menunjukkan bahwa peradaban kuno di wilayah Arab selatan mengalami perubahan iklim ekstrem, yang berkontribusi pada kehancuran mereka. Angin berkecepatan tinggi seperti yang digambarkan dalam ayat ini dapat dihubungkan dengan fenomena badai debu yang terjadi di daerah gurun. Misalnya, badai pasir yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara dapat mencapai kecepatan lebih dari 100 km/jam, cukup kuat untuk menghancurkan bangunan dan memusnahkan kehidupan.

Ayat ini dapat digunakan untuk mengajarkan bahwa kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran dapat membawa kehancuran, sebagaimana dialami oleh kaum ‘Ad. Ini dapat menjadi bahan refleksi moral bagi peserta didik.

Pendidikan Sains dan Geografi – Ayat ini bisa dikaitkan dengan pelajaran tentang perubahan iklim, badai pasir, dan efek angin ekstrem terhadap lingkungan. Siswa dapat diajak untuk membandingkan fenomena ini dengan peristiwa yang terjadi di dunia modern.

Pendidikan Sejarah – Kisah kaum ‘Ad bisa digunakan untuk memahami peradaban kuno dan bagaimana faktor lingkungan serta perilaku manusia dapat menyebabkan kehancuran suatu bangsa.

Berdasarkan keterangan tersebut, tafsir Sayyid Qutb lebih menekankan aspek keadilan Allah dan hukuman bagi kaum yang membangkang, sementara Ibnu ‘Asyur lebih fokus pada aspek linguistik dan ilmiah. Relevansi ayat ini dengan sains modern dapat membantu memahami fenomena alam dalam perspektif Al-Qur'an, dan dalam pendidikan, ayat ini bisa menjadi alat untuk membangun pemahaman holistik antara agama dan sains.

Posting Komentar

0 Komentar