TARGET CAPAIAN SEIRAMA DENGAN PERJALANAN WAKTU

Prof. Dr. H. Muhammad Yusuf, S.Ag., M.Pd.I.

Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Alauddin Makassar

Prolog

Allah menciptakan dan mengatur perjalanan waktu dan manusia untuk beramal dalam mengisi perjalan waktunya. Mereka dipandu agar perjalanannya makin hari makin berkualitas. Hidup yang sukses adalah hidup yang bertumbuh dan berkembang serta produktif dalam menghadirkan kemaslahatan.

Dalam sebuah riwayatkan disebutkan sebagaimana berikut:

من كان يومه خيرا من امسه فهو رابح. ومن كان يومه مثل امسه فهو مغبون. ومن كان يومه شرا من امسه فهو ملعون.( رواه الحاكم)

Artinya: "Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka." (HR Al Hakim). 

Riwayat ini sejalan dengan kehendak Allah agar hamba-hamba-Nya senantiasa mencapai target kualitas amalnya. Misalnya, di bulan Sya'ban mereka mempersiapkan bekal iman untuk memasuki bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan mereka beramal menempa diri untuk meraih taqwa. Taqwa yang diraih di bulan Ramadhan menjadi bekal untuk bulan berikutnya hingga menjadi bekal terbaik untuk berhajji untuk meraih hajji mabrur. Selanjutnya, hajji mabrur adalah tiket meraih surga-Nya.

Uraian 

Allah SWT telah menetapkan segala sesuatu dengan sempurna, termasuk perjalanan waktu dan tujuan yang harus dicapai dalam setiap detiknya. Setiap bulan dalam kalender Islam memiliki makna dan peran yang sangat penting dalam proses spiritual seorang hamba. Dari bulan Sya'ban, Ramadhan, Syawal, hingga Zulqa'dah dan Zulhijjah, Allah telah menetapkan berbagai target yang harus dicapai oleh setiap Muslim. Ini bukan sekadar perjalanan waktu biasa, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang penuh dengan makna dan pembelajaran, yang mengarahkan setiap Muslim untuk semakin dekat dengan-Nya. Setiap bulan memberikan kesempatan bagi seorang Muslim untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan meraih kedekatan yang lebih dalam dengan Allah.

Sya'ban

Pada bulan Sya'ban, seorang Muslim sudah mulai mempersiapkan diri untuk memasuki bulan Ramadhan yang penuh berkah. Sya'ban menjadi bulan yang penting karena menjadi bulan persiapan menuju Ramadhan. Dalam bulan ini, seseorang diperintahkan untuk meningkatkan amal ibadah dan memperkuat iman, karena Ramadhan yang penuh dengan ujian kesabaran dan pengorbanan sudah menanti. Dalam bulan ini, umat Islam disarankan untuk memperbanyak puasa sunnah, memperbaiki diri, serta meningkatkan kualitas ibadah, sehingga ketika Ramadhan tiba, seseorang sudah siap menghadapi tantangan besar untuk meraih target yang lebih tinggi.

Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa dan penuh berkah. Pada bulan ini, umat Islam diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Namun, puasa di bulan Ramadhan bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, melainkan lebih dari itu, yakni untuk meraih taqwa. Allah berfirman dalam Al-Qur'an bahwa tujuan dari puasa adalah agar umat-Nya menjadi orang-orang yang bertaqwa (Q.S. Al-Baqarah: 183). Puasa mengajarkan sabar, pengendalian diri, dan meningkatkan kesadaran spiritual. Melalui ibadah ini, seorang Muslim berusaha mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan hati dari noda-noda dosa, serta meraih keutamaan-keutamaan yang hanya bisa diperoleh di bulan yang penuh rahmat ini.

Syawal

Setelah Ramadhan berlalu, seorang Muslim masuk ke bulan Syawal. Syawal menjadi bulan yang sangat penting karena merupakan bulan kemenangan. Kemenangan yang dimaksud adalah kemenangan dalam menjaga dan mempertahankan taqwa yang telah diperoleh selama Ramadhan. Di bulan Syawal, seorang Muslim dianjurkan untuk berpuasa enam hari sebagai bentuk syukur atas keberhasilan menjalani puasa Ramadhan dan sebagai upaya untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Bulan Syawal adalah bulan untuk menjaga dan melanjutkan kebaikan yang telah dicapai di bulan Ramadhan, agar taqwa yang telah diperoleh tetap terpelihara hingga bulan-bulan berikutnya.

Zulq'dah

Selanjutnya, setelah melewati Syawal, umat Islam memasuki bulan Zulqa'dah, sebuah bulan yang menjadi persiapan untuk memasuki Zulhijjah, bulan yang penuh dengan amalan besar, yaitu ibadah haji. Zulqa'dah adalah bulan yang relatif tenang, namun bukan berarti umat Islam harus lengah. Pada bulan ini, umat Islam harus terus menjaga keimanan dan ketakwaan yang telah diperoleh (Q.S. al-Baqarah: 197). Bulan ini adalah waktu untuk memperkuat hati dan mempersiapkan diri baik secara fisik maupun spiritual untuk menghadapi ibadah haji yang akan datang. Zulqa'dah memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk merenung dan memperbaiki diri sebelum memasuki Zulhijjah, bulan yang penuh dengan ujian dan kesempatan meraih pahala yang besar.

Zulhijjah

Zulhijjah, bulan yang terakhir dalam kalender Hijriyah, adalah bulan yang sangat mulia dan penuh berkah. Di bulan ini, umat Islam yang mampu disyariatkan untuk melaksanakan ibadah haji, sebuah ibadah yang menjadi salah satu rukun Islam. Haji adalah perjalanan spiritual yang mengharuskan seseorang untuk membersihkan diri dari segala dosa, meningkatkan ketakwaan, serta menunaikan berbagai ritual ibadah dengan penuh kekhusyukan. Haji merupakan kesempatan untuk meraih haji mabrur, yaitu haji yang diterima di sisi Allah dan membawa perubahan positif dalam kehidupan seseorang. Bagi umat Islam yang tidak menunaikan haji, bulan Zulhijjah tetap memiliki keutamaan, terutama dalam ibadah qurban yang sangat dianjurkan.

Meraih Hajji Mabrur

Pada akhirnya, seluruh rangkaian perjalanan waktu ini membawa seorang Muslim pada tujuan tertinggi, yaitu mendapatkan surga Allah di akhirat kelak. Setiap bulan dengan target-target ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah adalah sarana untuk mengarahkan hamba-Nya menuju surga yang penuh kenikmatan. Dengan menjaga dan meraih ketakwaan, melaksanakan ibadah dengan ikhlas, serta terus berusaha memperbaiki diri, seorang Muslim diharapkan dapat mencapai kebahagiaan abadi di akhirat. Semua amal ibadah yang dilakukan sepanjang perjalanan waktu ini merupakan bentuk perjuangan seorang hamba dalam meraih cinta dan ridha Allah, yang pada akhirnya membawa kepada janji-Nya untuk memasukkan mereka ke dalam surga yang penuh dengan rahmat-Nya.

Pada puncak hajji di hari Arafah, di Padang Arafah, Nabi SAW. memberikan penegasan bahwa pada dasarnya identitas sosial hanya penanda agar saling mengenal, namun orang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling tinggi pencapaian derajat ketaqwaannya sebagaimana petunjuk Q.S. al-Hujurat: 13. 

Hingga Balasan Surga

Haji Mabrur balasannya tiada kain hanyalah Surga. Curi-ciri haji mabrur kesalehan sosialnya makin meningkat. Selain kesalehan individual (spritual) -hablun minallah,, juga kesalehan sosial (hablun minnaas) juga makin berkualitas.

عَنْ جَابِرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلَامِ وفي رواية لأحمد والبيهقي إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ

Artinya: Dari sahabat Jabir bin Abdillah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Haji mabrur tiada balasan lain kecuali surga." Lalu sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa (tanda) mabrurnya?" Rasulullah SAW menjawab, "Memberikan makan kepada orang lain dan melontarkan ucapan yang baik." (HR Ahmad, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi).

Wallahu a'kam

Posting Komentar

0 Komentar