Penulis: Prof. Dr. H. Muhammad Yusuf, S.Ag., M.Pd.I.
Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Alauddin Makassar
Pertautan Konseptual
Dalam konteks pendidikan dan sains modern, ayat 9 dari surah Az-Zariyat (يُؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ اُفِكَۗ ٩) yang berarti "Telah dijauhkan darinya (Al-Qur’an dan Rasul) orang yang dipalingkan," dapat dihubungkan dengan ayat sebelumnya, ayat 8 (أَيْنَ تَذْهَبُونَ ١) yang mengandung pertanyaan “Kemana kalian akan pergi?” dengan konsep tanasub (pertautan).
Ayat sebelumnya (8) menyentuh persoalan orientasi dan arah hidup manusia, dengan pertanyaan yang menyentuh realitas kehidupan manusia yang sering kali tercerai-berai dan tidak jelas arahnya. Dalam konteks pendidikan dan ilmu pengetahuan, ini mengingatkan kita pada pencarian manusia akan kebenaran dan pemahaman yang jelas dalam hidupnya. Banyak individu yang, meskipun berusaha mencari ilmu, terkadang terjebak dalam kebingungannya sendiri, tanpa panduan yang benar dan arah yang jelas.
Sementara ayat 9 (يُؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ اُفِكَ) memperlihatkan akibat dari sikap yang "dipalingkan" atau "dijauhkan" dari kebenaran, yaitu bahwa orang yang terjebak dalam kebingungannya akan dijauhkan dari cahaya kebenaran, yang dalam konteks ini dapat dimaknai sebagai wahyu Ilahi (Al-Qur'an) dan petunjuk Rasul. Dalam dunia pendidikan dan sains modern, ini bisa diartikan bahwa seseorang yang mengabaikan nilai-nilai etika, moral, dan hikmah dalam mencari ilmu bisa terperangkap dalam kesalahan atau distorsi dalam pemahamannya.
Pendidikan yang sejati tidak hanya berfokus pada penguasaan materi sains semata, tetapi juga pada pengembangan karakter dan pemahaman akan hakikat hidup dan penciptaan. Oleh karena itu, tanasub antara ayat 8 dan 9 menggambarkan hubungan antara tujuan pendidikan yang benar (mencapai kebenaran yang sejati) dan bahaya dari mengabaikan panduan Ilahi yang mengarahkan manusia kepada pemahaman yang benar, baik dalam ilmu pengetahuan maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Analisis Kebahasaan
Pada ayat ini, terdapat susunan kalimat yang menunjukkan kontras antara orang yang menerima petunjuk dan yang dipalingkan. "يُّؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ اُفِكَ" terdiri dari dua bagian. Pertama, kata “يُؤْفَكُ” berasal dari akar kata “أَفَكَ” yang berarti dipalingkan atau disesatkan, menunjukkan bahwa ada proses pemalingan yang terjadi terhadap seseorang. Kedua, kalimat ini diakhiri dengan “مَنْ اُفِكَ” yang menunjukkan subjek orang yang dipalingkan. Struktur ini memberi penekanan pada kenyataan bahwa mereka yang dipalingkan dari kebenaran adalah hasil dari proses yang disengaja atau tak terhindarkan, membedakan antara mereka yang diberi petunjuk dan yang dijauhkan dari petunjuk.
Keindahan retoris dalam penggunaan kata “يُؤْفَكُ,” memberikan efek dramatik tentang pemalingan seseorang dari kebenaran. Penggunaan pasif dalam kalimat ini, yaitu “يُؤْفَكُ” (dipalingkan), menegaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan oleh pihak lain. Hal ini memberikan kesan bahwa pemalingan itu bukan sesuatu yang alami, melainkan disengaja dan tidak dapat dihindari. Pemilihan kata "مَنْ اُفِكَ" memperlihatkan bahwa subjek yang dipalingkan adalah orang yang telah terjerat dalam kebodohan atau kesesatan. Al-Qur'an dengan cermat menggunakan balagah untuk menggambarkan nasib orang-orang yang menolak kebenaran.
Penggunaan kata “يُؤْفَكُ” merujuk pada tindakan pemalingan atau penyimpangan dari kebenaran, menunjukkan bahwa seseorang dapat dijauhkan dari petunjuk yang benar. Makna ini menyiratkan bahwa seseorang yang dipalingkan tidak hanya tersesat, tetapi juga disengaja dipisahkan dari kebenaran oleh kekuatan atau pengaruh luar. Frasa "مَنْ اُفِكَ" menggambarkan individu yang telah mengalami kondisi pemalingan, menyiratkan ketidakmampuan mereka untuk kembali kepada jalan yang benar. Semantik ayat ini menunjukkan bahwa petunjuk Ilahi dapat tersampaikan hanya bagi mereka yang terbuka, sedangkan mereka yang terbalik hatinya akan dijauhkan dari kebenaran itu.
Ayat ini menggunakan tanda untuk menggambarkan dualitas antara yang mendapat petunjuk dan yang terpinggirkan dari petunjuk. “يُؤْفَكُ” adalah tanda dari pemalingan atau peralihan dari kebenaran yang hakiki. Pemilihan kata ini menciptakan makna bahwa orang yang dipalingkan berada dalam kondisi yang terkontaminasi oleh kebodohan atau kesesatan. Tanda lain, yaitu "مَنْ اُفِكَ," menandakan bahwa individu tersebut adalah hasil dari sebuah sistem atau keadaan yang mempengaruhi dan mengarahkan mereka jauh dari kebenaran. Melalui semiotika, ayat ini menyiratkan bahwa ada interaksi antara kekuatan eksternal dan internal yang menentukan penerimaan atau penolakan terhadap petunjuk Ilahi.
Pesan Edukatif
Pesan edukatif yang tersembunyi dalam ayat ini mengajarkan bahwa untuk mendapatkan petunjuk Ilahi, seseorang harus memiliki hati yang terbuka dan bebas dari pengaruh negatif yang dapat memalingkan mereka dari kebenaran. Ayat ini juga mengingatkan bahwa kebodohan atau kesesatan bukan hanya karena ketidaktahuan, tetapi karena adanya pengaruh eksternal yang membelokkan jalan seseorang. Oleh karena itu, penting untuk menjaga ketulusan hati dalam mencari ilmu dan petunjuk.
Keterangan Ulama Tafsir
Tahir Ibnu Asyur, dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang orang-orang yang enggan menerima kebenaran, yaitu mereka yang dipalingkan dari wahyu dan Rasulullah. Kata "يُؤْفَكُ" (dipalingkan) mengandung makna bahwa seseorang yang seharusnya dapat menerima petunjuk, namun justru terhalang oleh sikap keras kepala atau kedegilan hatinya. Tahir Ibnu Asyur menyoroti bahwa keteguhan hati dalam menolak kebenaran adalah alasan utama mengapa seseorang tidak dapat melihat atau memahami wahyu. Palingnya hati ini adalah hasil dari pilihan bebas seseorang yang lebih cenderung mengikuti hawa nafsu atau duniawi, sehingga menjauh dari petunjuk Ilahi.
Menurut Tahir Ibnu Asyur, ayat ini juga menyiratkan bahwa setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima atau menolak kebenaran, dan Allah memberi kebebasan penuh dalam memilih jalan hidup. Ketika seseorang memilih untuk menutup hatinya dari kebenaran, maka ia akan semakin jauh dari petunjuk-Nya. Hal ini menandakan bahwa pendidikan, terutama dalam aspek spiritual, sangat bergantung pada niat dan kesiapan hati individu untuk menerima ilmu dan petunjuk.
Mutawalli Sya'rawi memberikan penafsiran yang lebih fokus pada aspek psikologis dalam pemahaman ayat ini. Ia menegaskan bahwa orang yang "dipalingkan" dari wahyu adalah orang yang telah menghalangi dirinya untuk menerima kebenaran. Menurut Sya'rawi, hal ini dapat terjadi karena keraguan atau penolakan yang dalam terhadap nilai-nilai wahyu. Beliau juga menyatakan bahwa "dipalingkan" bukan hanya berarti tidak mendengarkan, tetapi lebih kepada adanya mekanisme internal yang membuat seseorang menutup diri terhadap pengetahuan dan pemahaman yang disampaikan oleh Rasulullah.
Sya'rawi mengaitkan penafsiran ini dengan fenomena sosial yang sering terjadi di masyarakat, di mana manusia cenderung mendahulukan kepentingan duniawi dan ego pribadi, yang membuatnya tidak mampu melihat kebenaran yang ada di sekitarnya. Dengan demikian, ayat ini mengajarkan tentang pentingnya membangun sikap terbuka dan rendah hati dalam mencari ilmu serta menerima wahyu sebagai petunjuk hidup.
Pendidikan Modern
Ayat ini memiliki relevansi yang kuat dengan teori-teori pendidikan modern, terutama dalam aspek pengembangan karakter dan pembentukan sikap terbuka terhadap pembelajaran. Dalam konteks pendidikan modern, salah satu aspek yang sangat dihargai adalah kemampuan individu untuk mengakses informasi dan pengetahuan dengan cara yang terbuka dan tidak terhalang oleh prasangka atau ketertutupan mental.
Teori konstruktivisme, yang dipelopori oleh Jean Piaget dan Lev Vygotsky, misalnya, menekankan pentingnya keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran. Siswa yang "dipalingkan" dari proses belajar karena ketertutupan mentalnya akan kesulitan untuk membangun pengetahuan baru. Dalam hal ini, pendidikan yang efektif adalah pendidikan yang mampu membuka pikiran dan hati peserta didik untuk menerima kebenaran dan informasi baru.
Selain itu, dalam konteks pendidikan karakter, ayat ini mengajarkan pentingnya membangun sikap terbuka dan rendah hati. Siswa yang memiliki sikap terbuka akan lebih mudah menerima kritik, memperbaiki kesalahan, dan mengembangkan dirinya. Oleh karena itu, pendidikan modern harus menekankan pentingnya pengembangan karakter dan sikap mental yang mampu mengatasi ketertutupan diri.
Pendidikan juga dapat menggunakan pendekatan yang memotivasi siswa untuk lebih proaktif dalam mencari ilmu. Hal ini relevan dengan pandangan bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak ilmu. Oleh karena itu, pendidikan yang memfasilitasi rasa ingin tahu dan semangat belajar akan membantu siswa menghindari sikap menutup diri yang digambarkan dalam ayat ini.
0 Komentar