Penulis: Prof. Dr. H. Muhammad Yusuf, S.Ag., M.Pd.I.
Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Alauddin Makassar
Pertautan Konseptual
Surah az-Zariyat ayat 31 berbicara tentang pertanyaan Nabi Ibrahim kepada para utusan Allah, "Apa urusan pentingmu, wahai para utusan?" Ayat ini menggambarkan suasana komunikasi yang terbuka, di mana Nabi Ibrahim menunjukkan rasa ingin tahu yang mendalam terhadap misi para utusan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa dialog yang terbuka dan pertanyaan yang tajam menjadi salah satu metode dalam memperoleh pemahaman yang lebih dalam, yang juga sangat relevan dalam konteks pendidikan.
Sebelumnya, dalam Surah az-Zariyat ayat 30, Allah menyebutkan penciptaan langit yang begitu luas dan kokoh. "Dan langit Kami bangun dengan kekuatan, dan sungguh, Kami benar-benar memperluasnya." Ayat ini mengingatkan kita tentang keagungan ciptaan Allah yang tak terhingga, yang dapat dipahami melalui kajian ilmiah dan sains modern. Di sini, terdapat suatu hubungan antara pengetahuan yang diperoleh melalui dialog terbuka (seperti pertanyaan Ibrahim) dengan pengetahuan yang diungkapkan oleh sains tentang alam semesta.
Dalam konteks pendidikan, ayat-ayat ini mengajarkan pentingnya membuka ruang dialog dan memberikan kesempatan untuk bertanya, karena pertanyaan yang diajukan dengan tujuan mencari pemahaman yang benar dapat membawa kita pada pengetahuan yang lebih luas. Dalam sains modern, penemuan besar sering kali berawal dari pertanyaan-pertanyaan sederhana yang terus dikembangkan, seperti halnya pertanyaan Nabi Ibrahim yang memicu pembicaraan lebih dalam tentang misi utusan Allah. Dialog semacam ini tidak hanya memperkaya pemahaman teologis, tetapi juga dapat menyinergikan pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan yang ada.
Dengan demikian, melalui pendekatan pertanyaan yang diajukan oleh Nabi Ibrahim, ayat-ayat ini mengajarkan kita bahwa untuk membuka pemahaman yang lebih luas, baik dalam bidang agama maupun ilmu pengetahuan, perlu ada kesediaan untuk bertanya, berdialog, dan menggali lebih dalam.
Penjelasan Ulama Tafsir
Ibnu Abbas menjelaskan bahwa dalam ayat ini, Nabi Ibrahim a.s. bertanya kepada para malaikat yang datang untuk memberikan kabar gembira dan juga untuk menjalankan perintah Allah terkait azab bagi kaum Lut. Ibnu Abbas menyebutkan bahwa pertanyaan Ibrahim ini dilontarkan sebagai ungkapan rasa penasaran dan juga sebagai bentuk kesiapan untuk menerima informasi yang sangat penting terkait dengan masa depan umatnya. Pertanyaan ini menunjukkan sikap Ibrahim yang berhati-hati, penuh perhitungan, dan ingin memahami secara jelas apa yang hendak disampaikan oleh utusan tersebut.
Ibrahim bertanya dengan sangat spesifik, yaitu "Apa urusan pentingmu, wahai para utusan?" yang menunjukkan bahwa beliau mengetahui bahwa kedatangan mereka bukanlah sekadar kabar biasa, melainkan terkait dengan takdir dan nasib umat yang lebih besar. Penafsiran ini menggambarkan ketajaman intuisi Nabi Ibrahim yang selalu siap menghadapi tantangan dan mengharapkan petunjuk yang lebih jelas dari Allah. Di sini, pertanyaan bukan hanya sebagai bentuk keingintahuan, tetapi juga sebagai pembukaan jalan komunikasi yang sangat penting bagi kelangsungan misinya sebagai nabi.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengartikan bahwa ayat ini menggambarkan sikap Nabi Ibrahim yang penuh kebijaksanaan dan kehati-hatian. Ketika para malaikat datang dalam wujud manusia, Ibrahim segera mengenali bahwa kedatangan mereka bukan untuk hal yang biasa. Beliau bertanya untuk memastikan tujuan mereka, sebab setiap utusan dari Allah pasti membawa kabar yang luar biasa dan besar. Menurut Ibnu Katsir, Ibrahim mengajukan pertanyaan ini bukan karena ketidaktahuan, tetapi untuk memastikan bahwa ia memahami dengan baik apa yang akan terjadi, terutama terkait dengan azab yang akan menimpa kaum Lut.
Ibnu Katsir juga menambahkan bahwa pertanyaan ini merupakan bentuk kehormatan terhadap para utusan Allah, serta menunjukkan sikap Nabi Ibrahim yang sangat menjaga hubungan komunikasi dengan Allah dan para malaikat. Hal ini juga mencerminkan kebijaksanaan beliau dalam menghadapi berbagai peristiwa besar yang akan datang. Pertanyaan ini adalah langkah awal dalam menjalin komunikasi yang lebih dalam antara Ibrahim dan para utusan, yang selanjutnya akan mengarah pada penjelasan tentang azab yang menimpa kaum Lut.
Konteks Sain dan Pendidikan
Pertanyaan Nabi Ibrahim ini dapat dihubungkan dengan prinsip penting dalam sains modern dan pendidikan, yakni menginisiasi dan mengawali komunikasi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting. Dalam konteks sains, pertanyaan adalah fondasi dari penemuan-penemuan besar. Proses ilmiah dimulai dengan pertanyaan yang mendorong pencarian dan pengujian hipotesis untuk menemukan jawaban yang tepat. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh seorang ilmuwan bisa membuka cakrawala baru dalam pengetahuan, seperti halnya pertanyaan Nabi Ibrahim yang membuka pintu pemahaman terhadap pesan-pesan penting yang disampaikan oleh utusan Allah.
Dalam konteks pendidikan, pertanyaan juga merupakan alat penting dalam proses pembelajaran. Guru yang baik biasanya memulai pelajaran dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang kepada murid-muridnya, yang mendorong mereka untuk berpikir lebih dalam dan kritis. Begitu pula dengan pertanyaan Nabi Ibrahim yang mencerminkan sikap penuh kehati-hatian dan kecerdasan dalam berkomunikasi. Pertanyaan ini bukan hanya soal mencari informasi, tetapi juga menunjukkan bahwa untuk mencapai pemahaman yang mendalam, kita harus memulai dengan bertanya.
Dengan demikian, sikap Nabi Ibrahim yang mengajukan pertanyaan penting kepada para utusan Allah sangat relevan dengan cara ilmuwan dan pendidik modern menginisiasi komunikasi, membuka jalan untuk penemuan, dan meningkatkan pemahaman yang lebih dalam. Pertanyaan adalah pintu pertama dalam memperoleh pengetahuan, dan ini adalah prinsip yang tak lekang oleh waktu, baik dalam konteks wahyu maupun ilmu pengetahuan.
0 Komentar