*Antara Wajib dan Sunnah*
Suatu ketika ada orang bertamu di sebuah kantor. Sebelumnya, ia telah menghubungi manajer perusahaan pada kantor tersebut. Ia bahkan telah mendapatkan persetujuan untuk datang pada jam tertentu. Baik, datang tepat waktu ya!, saya tunggu di kantor. Demikian saran manajer dengan intonasi dan gaya bahasa yang meyakinkan.
Tamu tersebut berusaha dengan semaksimal mungkin agar dapat tepat waktu. Target on time itulah menjadi target perjalanannya demi menepati janji. Alhamdulillah, benar ia tiba 5 menit lebih cepat. Ia menghirup napas lega diiringi ucapan syukur. Ia segera masuk dengan rasa percaya diri. Karena selain telah ada janji, ia pun masuk tepat pada jam yang disepakati.
Salah seorang perempuan mengaku staf kantor mendekati dan mempersilahkan masuk. Ia menanyakan apa tujuannya dan mau bertemu dengan siapa? Tegas ia menjawab bertemu dengan Bos. Manajer maksudnya. Ada janji Pak? Ya, ada. Jam 10 tepat, katanya. Oke, Pak. Saya beritahu dulu Bos.
Tunggu dulu Pak, ibu manajer lagi di musholla sedang shalat dhuha. Oh, ya ya.... Berselang 20 menit setelahnya mulai membuat penasaran. Kok, belum keluar menemui tamu atau mempersilahkan masuk ke ruangan. Stafnya kembali menemui, dan ternyata belum selesai. 10 menit lagi Pak ya.
Berlalu lebih 30 menit menunggu, belum ada panggilan masuk. Stafnya memberitahukan bahwa ibu manajer sedang mengaji dulu pak. Mohon ditunggu. Tamu itu sudah mulai tidak nyaman sudah hampir 1 jam menunggu. Ia pun berdiri dan memohon izin untuk meninggalkan kantor, ia memiliki agenda lain di tempat yang lain.
Saat keluar tiba-tiba sang manajer datang dan memanggil tamunya. Tamu itu kembali dengan wajah tak puas atas pelayanan apalagi agaenda di tempat lain sudah hampir tiba waktunya. Tentu hal ini membuat hati tamu itu serba salah, jika kembali memenuhi panggilan manajer, ia akan terlambat pada agenda lain.
************
Shalat dhuha dan mengaji itu bagus. Tetapi, melayani tamu dan menepati janji tepat waktu itu sangat penting. Shalat dhuha itu hukumnya sunnat. Memuliakan dan melayani tamu itu hukumnya wajib. Menepati janji itu hukumnya wajib pula. Mengabaikan tamu dan menyalahi janji itu dosa. Memburu pahala ibadah sunnat tetapi melalaikan kewajiban justru bisa menghadirkan dosa besar dan fitnah. Kenapa membuat janji lalu shalat dhuha dan mengaji.
Nabi sangat memberi perhatian terhadap tamunya. Sehingga beliau menghubungkan kualitas iman dengan sikap terhadap tamu: "barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah memuliakan tamunya". Di kali yang lain beliau menyebutkan : " tanda -tanda orang munafik ada 3: (1) bila berbicara, ia dusta; (2) bila berjanji, ia menyalahi janji dan; (3) bila diberi amanah, ia berkhianat.

0 Komentar