LIHATLAH KE BAWAH UNTUK BERSYUKUR?

Oleh: Prof. Yusuf


Kerap kita mendengar dari ustadz (penceramah) ketika menjelaskan tema "syukur". Nasehat konvensional rahasia trik bersyukur "lihat ke bawah agar bisa bersyukur. Nasihat ini mengandalkan perbandingan vertikal—membandingkan kondisi kita dengan yang lebih miskin—sebagai pemicu syukur. Ini logis secara relatif, dimana rasa puas muncul karena kontras dengan penderitaan orang lain. Namun, pendekatan ini super rapuh.

Begitu juga ketika kita melihat ke atas, kita temui paradoks: ada orang kaya yang dilarang mengonsumsi gula oleh dokter karena menderita diabetes— bahkan bisa jadi mereka punya pabrik gula tapi harus minum air tawar saja. Pertanyaan absurd muncul: berapa jumlah penderita "di bawah" atau "di atas" yang cukup untuk membenarkan syukur kita? Ini justru menjadikan syukur bergantung pada tangis orang lain, seperti bertepuk tangan di atas duka—manipulatif dan dangkal, dan tidak autentik.

Nasehat cara seperti ini patut dipertanyakan dan diuji. Justru menurut hemat saya, syukur sejati tak butuh skala perbandingan eksternal; ia lahir dari introspeksi diri. Lihatlah kedalam! Rumus logisnya sederhana: syukur = refleksi internal > perbandingan sosial.

Dari sudut sufistik, seperti kata Rumi, "Luka adalah tempat cahaya masuk." Jangan cari syukur di cermin orang lain; tutup mata, buka hati, dan renungkan nikmat Tuhan dalam napasmu sendiri. Di kedalaman jiwa, syukur bukan hitungan, melainkan penggemaan rahmat Ilahi—tanpa bayang orang lain. Ia mengalir dari sumber abadi, bukan sungai sementara.

Posting Komentar

0 Komentar