Prolog
Tulisan ini bertujuan menjawab beberapa pertanyaan pembaca. Akhir-akhir ini, mungkin terkesan di benak para pembaca kalau saya kurang menulis. Bahkan, sampai ada yang bertanya, kenapa agak jarang menulis lagi? Sebenarnya, sama saja, tetap menulis, namun di media dan link yang berbeda. Terutama mengedit dan menulis naskah buku, menulis paper untuk jurnal internasional dan nasional, serta mereview beberapa artikel dari berbagai jurnal di berbagai universitas dan lembaga riset dalam.dan luar negeri. Untuk kali ini, momen singkat ini saya kembali mengisi web ini untuk tema yang ke-211 khusus yang terhitung sejak Januari 2021. Semoga bermanfaat. Aamiin.
Tulisan ini juga bertujuan mengisi waktu pagi saya sebelum beranjak ke aktivitas yang lain. Pada tulisan sebelumnya, saya sudah memaparkan tentang biografi singkat Anregurutta Prof. K.H. Ali Yafie. Di sini saya tidak mengulangi hal itu. Silahkan baca jika Anda ingin mengetahuinya. Dalam tulisan ini saya lebih fokus melihat hikmah dan inspirasi di balik pertemuan Ustadz Dr. H. Abd Samad, Lc., M.A. dengan Anregurutta Prof. K.H. Ali Yafie.
Sebagai ulama sepuh dan kharismatik, Anregurutta Prof. K.H. Ali Yafie tentu lebih banyak "makan garam'. Pengalamannya panjang, kearifannya memancar, dan nasehatnya layak didengar oleh generasi muda. Itulah yang tergambar dari balik pertemuan keduanya. Silahkan simak hingga tuntas....
Tradisi Sowan ke Ulama.
Salah satu tradisi dan akhlak santri yaitu sowan atau menziarahi ulama. Dr. H. Abd. Samad, Lc., M.A. - yang lebih dikenal UAS - adalah muballigh kondang nasional dan internasional. Namanya melambung drastis ketika sering memenuhi undangan tabligh. Peran media makin melejitkan namanya. Wawasannya yang terkenal luas, rujukannya yang dapat disebutkan dengan begitu jelas membuat para audiens (mad'u) makin mengaguminya. Meski posisinya yang demikian, ia tetap sowan ke ulama yang lebih senior.
Di tengah-tengah kesibukannya mengisi berbagai acara di tanah air dan manca negara, UAS tetap mampu memanage kesempatannya untuk menyelesaikan program doktornya di Sudan dalam kajian hadis di Oumdurman Islamic University, Sudan, 24 Desember 2019. UAS lulus dengan predikat mumtaz atau cum laude. Otoritas keilmuannya untuk berbicara hadis memang diakui secara akademik. Namun, siapa sangka, ternyata sejak dulu mengagumi seorang ulama kharismatik asal Sulawesi, AG. Prof. K.H. Ali Yafie. Beliau adalah salah seorang ulama fiqh (faqih) terkemuka di tanah air.
Sayapun membaca beberapa karya beliau dalam bidang fiqh. Salah satu loncatan pemikiran fiqhinya, yaitu, ketika beliau menggagas pemikiran fiqh lingkungan. Gagasan fiqh lingkungan (fiqh al-bi'ah)nya mengilhami salah satu artikel saya tentang "Eko-Fiqh". Salah satu gagasan beliau dalam mengembangkan fiqh kontemporer, yaitu maqashid Sayariah (the goals of sharia), atau "hifzhul bi'ah". Saya tidak terangkan di sini. Para pembaca yang budiman dapat membacanya di artikel saya. Di https://doi.org/10.15642/ad.2019.9.2.250-273
Usia di atas Rata-Rata
Usia rata umat Rasulullah Saw. sebagai ditemukan dalam teks hadis adalah di rentang 60 sampai 70 tahun. Sedang Prof. K.H. Ali Yafie menginjak 96 tahun. Seusia beliau umumnya telah wafat lebih dahulu. Angka ini pun melampaui usia rata-rata harapan hidup masyarakat dunia. Melampaui rata-rata usia harapan hidup masyarakat yang berada di angka 84 tahun. Jepang sebagaimana dirilis beberapa sumber merupakan negara dengan usia harapan hidup masyarakat paling tinggi di dunia.
Tertawa Sehat Tanda Panjang Umur
Pertemuan UAS dengan Anregurutta Prof. K.H. Ali Yafie mendapatkan pesan penting. Pesan KH Ali Yafie ke UAS: "Tertawalah, Kalau Masih Bisa Tertawa, Berarti Masih Lama Hidup". Tentu saja, ini menggambarkan karakter dan kebiasaan beliau. Saya memahami pesan ini bahwa untuk panjang usia salah satunya adalah olah jiwa. Olah raga memang penting, dan itu jelas. Namun olah batin juga tak kalah pentingnya untuk menjaga kesehatan. Tertawa secara wajar adalah salah satu olah jiwa.
Pertemuan yang Dirindukan UAS
Dai kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) menyimpan kesan positif dan mendalam kepada ulama karismatik NU KH Ali Yafie. UAS senang akhirnya bisa bersua dengan panutannya itu.
UAS mengakui bahwa ulama kharismatik yang sepuh ini adalah salah satu ulama yang dikaguminya sejak lama. Khususnya ketika UAS melihatnya di layar kaca televisi ketika Anregurutta mengisi ceramah keagamaan (keislaman tentunya). UAS pun sudah beberapa kali datang mengisi ceramah dan tabligh akbar di Sulawesi Selatan, daerah asal Anregurutta K.H. Ali Yafie sebelum pertemuan keduanya benar-benar terjadi dalam kenyataan.
Berikut ini saya mengutip sebagian isi percakapan mereka:
“Dulu, puluhan tahun silam, saya selalu melihat beliau di televisi. Saya salut dengan keteguhannya. Hari ini kami bersua. “Gurutta, beri kami nasihat”.
Gurutta menjawab, “Tertawalah. Kalau masih bisa tertawa, berarti masih lama hidup”, jawab Gurutta sambil tertawa.
“Tapi jangan ketawa sendirian”, sambung Gurutta sambil terus tertawa lepas,” tulis Ustaz Abdul Somad di akun Instagram-nya @ustadzabdulsomad_official, dikutip pada Senin (21/6/2021).
Sebagaimana digambarkan sebelumnya, pertemuan keduanya banyak nasehat yang UAS dapatkan saat beliau bertandang ke kediaman ulama fiqh dan mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia itu. Salah satunya prihal kehidupan yang sarat makna.
Menurut UAS, Gurutta KH Ali Yafie sepanjang pertemuan tersebut sangat berbahagia dan tertawa lepas. Kedatangannya pun disambut dengan hangat olehnya.
Membacalah Setiap Hari!
Salah satu nasehat beliau yang sangat patut dicamkan adalah membaca setiap hari. "Gurutta sudah berusia 96 tahun, tapi masih melahap lima buku sehari. Gurutta lalu berpesan “Membacalah. Karena syariat pertama itu bukan shalat, tapi membaca, “Iqra’!”.
Dan di akhirat, perintah juga membaca, “Iqra’ kitabaka. Baca apa saja. Tapi jangan ambil semua”.
Isi nasehat beliau kepada UAS agar membaca setiap hari adalah amalan Gurutta sendiri. Tiada hari tanpa membaca hingga usia beliau yang ke 96 tahun saat ini. Membaca adalah jendela dunia, membaca merupakan "pintu gerbang ilmu pengetahuan" (ini tambahan saya memaknainya, semoga saja tidak keliru).
Amalan Zikir Merawat Memori
Seperti dimaklumi, umumnya orang tua mengalami satu penyakit tua, yaitu pikun. Haruskah dialami oleh semua manusia yang sudah lanjut usia (manula)? Ternyata ini dia bocoran percakapan UAS dengan Gurutta Prof. K.H. Ali Yafie.
“Apa zikir supaya kuat ingatan Gurutta?”. Beliau menjawab, “Banyak-banyak baca alam nasyrah (surah al-Insyirah)”. Beliau KH. Ali Yafie. Diantara ulama tua yang masih hidup di masa ini,” beber UAS.
Saya juga pernah membaca pada salah satu sumber yang menganjurkan untuk mengamalkan surah al-Insyirah. Bahkan saya mendengar seorang ulama dari atas mimbar menganjurkan mengamalkannya.
Menziarahi Ulama dan Orang Saleh
UAS mengakui jika dirinya sedang mengunjungi suatu daerah, ia akan menyempatkan diri silaturahmi ke orang tua sepuh atau menziarahi kubur orang shaleh. Ini adalah tradisi ulama, terutama kalangan Nahdhiyin. Tidak hanya bersilaturrahim dengan hidup, melainkan juga orang muslim yang sudah wafat, terutama orang-orang saleh.
“Kalau pergi ke suatu daerah, biasakan silaturrahim ke orang-orang tua. Untuk men-charge ruh. Ziarah ke kubur orang-orang shaleh,” tutupnya. (endra/
Memang, soal menziarahi kubur, ada yang tidak menganjurkan. Namun, tradisi ini adalah praktek Nabi Saw., Konteks dan illat pelarangan ziarah kubur memang pernah terjadi untuk sementara waktu karena adanya mafsadat yang dikhawatirkan kala itu. Namun, kemudian Nabi Saw. memerintahkan untuk berziarah kubur. Sehingga, ulama merumuskan bahwa perintah setelah larangan hukumnya adalah mubah (boleh).
Artinya, ziarah kubur kembali diperbolehkan setelah mafasadat itu tidak lagi mengkhawatirkan. Ini larangan berziarah kubur merupakan larangan yang bersifat temporer (sementara waktu) saja. Manfaat ziarah kubur antara lain mengingat kematian dan menginat kematian akan bermanfaat untuk melembutkan hati yang keras dan berkarat. Hal sebagaimana petunjuk hadis.
“Sesungguhnya hati itu dapat berkarat sebagaimana besi berkarat. Rasulullah SAW lalu ditanya, 'Apa yang membuat hati agar tidak berkarat?' Rasul menjawab, 'Membaca Alquran dan mengingat kematian.'” (HR al-Baihaqi)
Selalu ingat mati (zikrul maut) akan merangsang kita untuk memperbanyak amal saleh. Paling tidak, ada lima zikrul maut yang bisa kita lakukan dengan mengunjungi orang yang audah tua atau menjenguk orang sakit guna mendapatkan hikmah agar menjadi semakin sadar betapa pentingnya kesehatan itu.
Dengan sakit, seseorang tidak akan bisa melakukan apa-apa, sehingga akan tertanam tekad untuk memanfaatkan masa sehat dengan banyak beribadah kepada Allah Swt. ''Barang siapa yang mengunjungi orang yang sakit, maka berserulah Malaikat dari langit. Engkau telah berbuat baik, baik pula perjalananmu, engkau akan mendiami rumah dalam surga.'' (HR Ibnu Majah).
Penutup
Pertemuan dua ulama (Anregurutta Prof. K.H. Ali Yafie dan Ustadz Dr. H. Abd Samad, Lc., M.A.) memberi pesan bermakna bahwa: Pertama, olah jiwa melalui tertawa tulus dan wajar adalah salah satu cara mengolah jiwa. Dan, ini adalah amalan dan nasehat Prof. K.H. Ali Yafie yang hingga kini usianya menghampiri satu abad (96 tahun). Kedua, amalan dalam rangka merawat memori dan menghindari pikun di usia tua yaitu dengan tetap mengaktifkan otak dengan membaca setiap hari. Ketiga, selain membaca buku atau lainnya, amalkan dan baca surah al-Insyirah setiap hari. Keempat, jalin silaturrahim dengan bertemu dengan orang yang masih hidup, termasuk menziarahi ulama.
Wallahu A'lam

0 Komentar